Uptodai.com - Idol KPop merasa dicuci otak oleh agensi tempat mereka bernaung demi menjaga citra sempurna di mata publik. Fenomena ini mencuat setelah beberapa bintang ternama mulai berani menyuarakan pengalaman pahit mereka selama masa pelatihan hingga debut. Praktik manipulasi psikologis ini biasanya dilakukan agar para artis tetap patuh dan tidak melanggar aturan ketat manajemen.

Agensi hiburan di Korea Selatan seringkali memandang para artis bukan sekadar talenta, melainkan aset investasi yang sangat mahal. Demi memastikan investasi tersebut menghasilkan keuntungan maksimal, pihak manajemen kerap menerapkan aturan yang sangat ketat dan mengikat. Hal inilah yang memicu munculnya perasaan tertekan di kalangan para idola muda tersebut.

Doktrin Larangan Pacaran yang Dialami Jo Kwon

Jo Kwon, mantan personel grup 2AM, menjadi salah satu sosok yang vokal mengenai praktik brainwashing agensi KPop ini. Melalui sebuah konten video pada tahun 2024, ia mengungkapkan bagaimana pendiri JYP Entertainment, J.Y. Park, menanamkan doktrin kuat sejak awal kariernya. Ia dilarang keras untuk menjalin hubungan asmara demi menjaga fokus pada pekerjaan.

Doktrin tersebut membuat Jo Kwon merasa bahwa menjalin hubungan cinta adalah sebuah kesalahan besar yang dapat merusak kerja kerasnya selama bertahun-tahun. Akibatnya, ia baru merasakan hubungan asmara pertamanya pada usia 27 tahun, sebuah fase yang ia anggap sangat terlambat bagi pria seusianya. Ia menyadari bahwa dirinya telah kehilangan banyak momen pribadi yang berharga akibat kepatuhan buta tersebut.

C.A.P dan Kritik Tajam Terhadap Kontrol Agensi

Mantan pemimpin grup Teen Top, C.A.P, juga membagikan perspektif yang lebih tajam mengenai sisi gelap industri KPop. Ia menyoroti bagaimana agensi mengontrol setiap aspek kehidupan artis, mulai dari larangan merokok hingga mengonsumsi alkohol secara ketat. Menurutnya, agensi sengaja melakukan cuci otak agar para idol mematuhi segala batasan tersebut tanpa adanya perlawanan.

C.A.P merasa bahwa pengorbanan emosional yang ia berikan jauh lebih besar daripada kelelahan fisik yang ia rasakan selama masa pelatihan. Ia juga mengungkapkan rasa muaknya terhadap tuntutan penggemar yang terkadang melewati batas, seperti pelecehan verbal. Sayangnya, agensi justru menuntut artis untuk selalu mendahulukan keinginan penggemar di atas kesehatan mental mereka sendiri.

Kekerasan Fisik dan Verbal yang Menimpa Taeseon

Kisah yang lebih memprihatinkan datang dari Taeseon, mantan anggota grup TRCNG, yang mengalami kekerasan fisik dan verbal secara langsung. Ia mengaku sering mendapatkan perlakuan kasar dari oknum CEO dan pelatih koreografi di agensi lamanya, TS Entertainment. Tekanan mental trainee KPop ini bahkan berujung pada tindakan penganiayaan yang membekas secara psikis.

Taeseon menceritakan momen kelam saat ia dipukul menggunakan benda-benda tak lazim seperti pemukul bisbol hingga gagang penyedot debu yang rusak. Ironisnya, manajemen menanamkan pemikiran bahwa semua kekerasan itu dilakukan demi kebaikan dan kesuksesan sang idol di masa depan. Ia sempat memendam penderitaan tersebut sendirian karena keinginan yang sangat kuat untuk bisa debut di panggung hiburan.

Dampak Jangka Panjang bagi Kesehatan Mental Artis

Praktik manipulasi psikologis ini biasanya menyasar para trainee yang masih berusia sangat muda dan memiliki ambisi besar untuk sukses. Mereka dipaksa percaya bahwa kepatuhan total adalah satu-satunya jalan menuju puncak popularitas, meskipun harus mengorbankan hak-hak dasar manusia. Hal ini menciptakan trauma mendalam yang seringkali baru disadari setelah mereka keluar dari agensi tersebut.

Kesadaran akan kesehatan mental kini mulai menjadi perhatian serius di kalangan penggemar musik Korea secara global. Para idol yang berani bicara diharapkan dapat memutus rantai budaya toksik yang telah lama mengakar di balik gemerlapnya panggung KPop. Transparansi mengenai perlakuan agensi menjadi langkah awal untuk menciptakan industri hiburan yang lebih sehat bagi para artis di masa depan.