Uptodai.com - Penyakit Radang Usus Kronis atau Inflammatory Bowel Disease (IBD) kini menjadi perhatian serius di dunia medis. Sayangnya, tidak sedikit pasien baru yang terdiagnosis ketika penyakit ini sudah berada pada fase lanjut, sehingga berisiko menimbulkan komplikasi serius yang mengancam jiwa.

IBD merupakan kondisi kompleks dan multifaktorial yang melibatkan interaksi rumit antara faktor genetik, sistem imun tubuh, lingkungan, serta mikrobiota usus. Dua bentuk utama IBD, yakni Crohn’s disease dan ulcerative colitis, sering kali menunjukkan gejala yang tumpang tindih dengan berbagai penyakit lain, membuat diagnosisnya menjadi tantangan besar.

Mengapa Diagnosis IBD Sering Terlambat?

Tantangan utama dalam penanganan IBD adalah penegakan diagnosis yang akurat dan tepat waktu. Gejala IBD sering kali menyerupai infeksi saluran cerna biasa atau bahkan tuberkulosis usus, kondisi yang sangat umum di Indonesia.

Kondisi ini menuntut penegakan diagnosis IBD harus dilakukan secara sangat teliti melalui pendekatan komprehensif. Proses ini meliputi evaluasi klinis mendalam, pemeriksaan endoskopi, histopatologi, serta berbagai pemeriksaan penunjang lainnya.

Menurut Prof. Marcellus Simadibrata, Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Gastroenterologi – Hepatologi, keterlambatan diagnosis maupun inisiasi terapi adalah pemicu utama perburukan penyakit. Hal ini dapat meningkatkan risiko rawat inap berulang dan berbagai komplikasi fatal.

Waspada: Bahaya Radang Usus Kronis dan Komplikasi Serius

Ketika IBD tidak ditangani dengan cepat dan tepat, risikonya jauh melampaui rasa sakit perut biasa. Komplikasi serius yang mungkin timbul termasuk perdarahan hebat, obstruksi usus (penyumbatan), pembentukan fistula, hingga peningkatan risiko kanker kolorektal.

Bahaya radang usus kronis yang paling ditakutkan adalah kerusakan usus jangka panjang yang tidak dapat diperbaiki. Kerusakan ini memaksa pasien menjalani tindakan bedah, bahkan hingga pengangkatan sebagian usus.

Oleh karena itu, penilaian aktivitas dan derajat keparahan penyakit menjadi langkah krusial sebelum dokter menentukan pilihan terapi yang paling sesuai bagi pasien.

Pentingnya Skrining Infeksi Sebelum Terapi

Penanganan IBD tidak dapat dilakukan secara sederhana atau seragam. Setelah diagnosis ditegakkan, pasien perlu melalui evaluasi komprehensif yang mencakup penilaian aktivitas penyakit, eksklusi infeksi tersembunyi, serta penentuan target terapi yang jelas.

Prof. Marcel juga menyoroti betapa pentingnya skrining infeksi, terutama di negara dengan prevalensi infeksi yang masih tinggi seperti Indonesia. Infeksi tertentu, khususnya tuberkulosis (TBC) dan infeksi saluran cerna lainnya, dapat menyerupai atau bahkan memperberat perjalanan IBD.

Skrining menyeluruh sebelum memulai terapi adalah wajib. Hal ini dilakukan untuk menghindari kesalahan diagnosis yang fatal, serta mencegah komplikasi yang tidak diinginkan, terutama jika terapi IBD melibatkan penekanan sistem imun.

Strategi ‘Treat-to-Target’ untuk Kesembuhan Mukosa

Pendekatan modern yang kini dianjurkan adalah treat-to-target. Strategi ini harus menjadi bagian integral dari praktik klinis penanganan IBD.

Tujuan dari pendekatan ini bukan sekadar mengendalikan gejala yang dirasakan pasien, tetapi lebih jauh lagi, yakni mencapai penyembuhan mukosa. Penyembuhan mukosa adalah indikator bahwa peradangan di usus telah benar-benar mereda, sehingga dapat mencegah kerusakan usus jangka panjang.

Mengingat kompleksitasnya, IBD dipandang sebagai penyakit kronis yang memerlukan perhatian khusus dan penanganan terintegrasi. Pendekatan holistik oleh tim multidisiplin spesialis dan subspesialis sangat diperlukan untuk memastikan pasien mendapatkan perawatan yang optimal dan terpadu.