Uptodai.com - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia baru-baru ini mengeluarkan laporan terkait temuan kasus influenza dengan jenis tertentu yang oleh publik kerap disebut ‘Super Flu’. Sejak awal tahun 2025 hingga memasuki pertengahan Januari 2026, Kemenkes mencatat adanya 74 kasus dari jenis virus tersebut.

Kasus yang dimaksud adalah influenza A(H3N2) subclade K. Data tersebut terhimpun setelah Kemenkes melakukan pemeriksaan terhadap total 204 spesimen influenza A(H3N2) yang dikumpulkan dari berbagai wilayah di Indonesia. Temuan ini memicu perhatian, meskipun otoritas kesehatan menegaskan bahwa virus ini bukanlah ancaman baru.

Laporan Terbaru Kasus Influenza A(H3N2) Subclade K

Direktur Penyakit Menular Kemenkes, dr Prima Yosephine, menjelaskan bahwa penyebaran kasus Influenza A(H3N2) subclade K ini memiliki pola musiman yang jelas. Puncak penemuan kasus tercatat pada minggu ke-40 di tahun 2025, sebelum akhirnya menunjukkan tren penurunan signifikan sejak minggu ke-44.

Menurut data Kemenkes, wilayah yang paling banyak menyumbang temuan ini adalah Jawa Timur dan Kalimantan Selatan. Namun, kabar baiknya, tidak ada penambahan kasus baru yang signifikan terdeteksi sejak minggu ke-52 tahun lalu, menunjukkan bahwa gelombang infeksi telah melandai.

Dr Prima menegaskan bahwa virus Influenza H3N2 sendiri bukanlah virus yang baru muncul. Ia merupakan bagian dari kelompok influenza musiman yang memang rutin beredar setiap tahun di Indonesia, terutama saat terjadi perubahan cuaca ekstrem.

Gejala Super Flu Kemenkes: Sulit Dibedakan Secara Klinis

Meskipun disebut ‘Super Flu’, Kemenkes memastikan bahwa mayoritas pasien yang terinfeksi mengalami gejala ringan hingga sedang. Pasien umumnya mampu pulih dengan sendirinya tanpa memerlukan intervensi medis yang agresif. Namun, kewaspadaan tetap harus ditingkatkan, terutama bagi kelompok rentan.

Kasus dengan kondisi berat umumnya menyerang kelompok berisiko tinggi. Kelompok ini termasuk lansia (lanjut usia) dan individu yang memiliki penyakit penyerta (komorbiditas) seperti diabetes, penyakit jantung, atau gangguan pernapasan kronis.

Lantas, apa saja Gejala Super Flu Kemenkes yang dikeluhkan pasien? Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr dr Nastiti Kaswandani, Sp A, Subsp Respi(K), menjelaskan bahwa subclade K ini tidak menunjukkan ciri klinis yang berbeda dari influenza A pada umumnya.

Gejala Super Flu Kemenkes yang sering dilaporkan meliputi:

  • Demam tinggi yang datang tiba-tiba
  • Menggigil atau kedinginan
  • Sakit kepala yang intens
  • Nyeri tenggorokan
  • Keluhan pernapasan, seperti batuk dan pilek

Pentingnya Diagnosis Laboratorium untuk Kasus Influenza A H3N2

Dr Nastiti menambahkan bahwa salah satu tantangan terbesar dari jenis influenza ini adalah sulitnya membedakan secara klinis. Dokter bahkan tidak bisa langsung mendeteksi hanya dari pemeriksaan fisik biasa apakah pasien terinfeksi influenza atau penyakit pernapasan lainnya.

“Dia tidak bisa dideteksi secara klinis. Artinya, dokter kalau melihat saja bahkan tidak bisa membedakan ini influenza atau bukan influenza,” ungkap dr Nastiti. Oleh karena itu, diagnosis pasti seringkali memerlukan pemeriksaan spesimen di laboratorium untuk mengidentifikasi jenis virusnya secara spesifik.

Masyarakat diimbau untuk tetap menjaga protokol kesehatan dasar, seperti mencuci tangan secara teratur dan menggunakan masker jika sedang sakit. Langkah pencegahan ini sangat efektif untuk menekan laju penyebaran virus musiman, termasuk Kasus Influenza A H3N2.