Uptodai.com - Aksi protes Kedubes AS Manila pecah pada Selasa (3/3/2026) setelah puluhan aktivis turun ke jalan untuk mengecam eskalasi militer di Timur Tengah. Massa yang berkumpul sejak pagi hari meluapkan kemarahan mereka dengan membakar bendera Amerika Serikat sebagai simbol perlawanan terhadap kebijakan luar negeri Washington.

Demonstrasi ini dipicu oleh serangan udara terbaru yang dilakukan oleh militer Amerika Serikat dan Israel terhadap wilayah Iran. Para pengunjuk rasa menilai tindakan tersebut hanya akan memperkeruh suasana dan memicu perang skala besar yang merugikan warga sipil di berbagai negara.

Tuntutan Penghentian Perang dan Pembakaran Bendera

Aparat kepolisian Filipina melakukan penjagaan ketat di sekitar area kedutaan untuk mencegah massa merangsek masuk ke gedung utama. Polisi membarikade jalan beberapa ratus meter dari gerbang kedutaan, sehingga para aktivis terpaksa tertahan di titik tersebut.

Meskipun ruang gerak mereka dibatasi, orasi-orasi tajam tetap menggema di sepanjang jalan protokol Manila. Mereka membentangkan berbagai poster yang menuding aliansi AS-Israel sebagai dalang kerusakan infrastruktur dan jatuhnya korban jiwa di wilayah konflik yang kian membara.

Aksi pembakaran bendera menjadi puncak dari kemarahan para aktivis yang menuntut penghentian segera segala bentuk intervensi militer. Mereka mendesak pemerintah Filipina untuk mengambil sikap tegas terhadap kekerasan yang terus meningkat dan mengancam stabilitas global saat ini.

Dampak Konflik Bagi Warga Filipina di Luar Negeri

Ketegangan ini tidak hanya menjadi isu politik global, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi keselamatan warga negara Filipina di perantauan. Presiden Ferdinand Marcos Jr. mengonfirmasi bahwa seorang pekerja migran asal Filipina tewas di Israel pada awal Maret ini.

Kematian tersebut menambah daftar panjang kekhawatiran pemerintah terkait nasib jutaan warganya yang sedang mengadu nasib di Timur Tengah. Saat ini, tercatat lebih dari 2,4 juta warga Filipina menetap di sana, dengan mayoritas bekerja di sektor domestik dan industri strategis.

Kementerian Luar Negeri Filipina kini terus memantau situasi keamanan dari jam ke jam guna memastikan keselamatan para pekerja migran. Pemerintah juga telah menyiapkan skenario evakuasi darurat jika eskalasi militer antara Iran dan Israel semakin tidak terkendali dalam beberapa hari ke depan.

Eskalasi Militer di Timur Tengah Semakin Meluas

Situasi di kawasan tersebut memang dilaporkan semakin mencekam setelah serangan udara AS-Israel ke Iran meluas pada awal pekan ini. Sebagai balasan, militer Israel juga menggempur Lebanon untuk merespons serangan dari kelompok Hizbullah yang didukung oleh Teheran.

Teheran tidak tinggal diam dan membalas serangan tersebut dengan meluncurkan ratusan rudal serta drone ke arah wilayah Israel. Serangan balasan ini bahkan dilaporkan menyasar sejumlah pangkalan udara Inggris yang berada di wilayah Siprus serta beberapa titik di negara Teluk.

Kondisi yang semakin tidak menentu ini memicu gelombang protes di berbagai negara, termasuk Filipina yang merupakan sekutu dekat Amerika Serikat di Asia Tenggara. Para pengunjuk rasa di Manila menegaskan bahwa mereka akan terus turun ke jalan hingga perdamaian benar-benar tercipta di tanah para nabi tersebut.