Uptodai.com - Laporan terbaru mengenai penindakan keras terhadap gelombang protes nasional di Iran menunjukkan peningkatan angka yang sangat mengkhawatirkan. Korban tewas dari periode intens yang ditandai dengan chaos Iran korban jiwa ini kini dilaporkan mendekati angka 2.600 orang.

Di tengah eskalasi kekerasan yang tidak menunjukkan tanda-tanda mereda, Teheran mengeluarkan peringatan keras kepada negara-negara sekutu Amerika Serikat (AS) di kawasan Timur Tengah. Mereka menegaskan bahwa pangkalan militer AS yang beroperasi di wilayah negara-negara tersebut akan menjadi sasaran empuk jika Washington berani melancarkan serangan langsung terhadap Iran.

Seorang pejabat senior Iran, yang berbicara secara anonim kepada kantor berita Reuters, mengonfirmasi bahwa peringatan tersebut telah disampaikan secara resmi kepada beberapa negara regional utama. Negara-negara yang dimaksud termasuk Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Turki, dan Qatar.

“Teheran telah memberi tahu negara-negara regional bahwa pangkalan AS di negara-negara tersebut akan diserang jika AS menargetkan Iran,” ujar pejabat tersebut, menggarisbawahi keseriusan ancaman balasan yang disiapkan oleh Republik Islam.

Ancaman Balasan Teheran dan Data Chaos Iran Korban Jiwa

Peringatan keras ini muncul tak lama setelah Presiden AS Donald Trump secara terbuka mengancam akan melakukan intervensi guna mendukung para demonstran. Dalam sebuah wawancara dengan CBS News, Trump menyatakan bahwa Washington akan mengambil “tindakan yang sangat keras” jika Iran melanjutkan rencana eksekusi terhadap para demonstran yang ditahan.

“Jika mereka menggantung mereka, Anda akan melihat beberapa hal,” kata Trump, menyiratkan potensi respons militer atau sanksi yang jauh lebih berat dari AS.

Kelompok hak asasi manusia, Human Rights Activists News Agency (HRANA) yang berbasis di AS, telah bekerja keras memverifikasi data korban. Mereka melaporkan telah mengonfirmasi kematian 2.403 demonstran sipil. Selain itu, 147 orang yang berafiliasi dengan pemerintah juga tewas dalam bentrokan tersebut, sehingga total korban jiwa kini mencapai sekitar 2.550 orang.

Angka ini jauh melampaui pengakuan internal Iran. Sebelumnya, seorang pejabat Iran mengakui kepada Reuters bahwa sekitar 2.000 orang telah tewas dalam kerusuhan. HRANA juga mencatat bahwa setidaknya 18.137 orang telah ditangkap sejak kerusuhan pecah, menandakan skala penangkapan massal yang dilakukan otoritas.

Intervensi Washington dan Peran AS Israel di Iran

Otoritas Iran secara konsisten menuduh pihak asing berada di balik kekacauan yang terjadi. Teheran menunjuk langsung Amerika Serikat dan Israel sebagai dalang utama kerusuhan, menuduh mereka menggunakan kelompok yang disebutnya sebagai teroris untuk memicu kekerasan domestik.

Di sisi lain, tekanan internal untuk menghukum para demonstran semakin meningkat. Ketua Mahkamah Agung Iran, Gholamhossein Mohseni-Ejei, mengisyaratkan bahwa pengadilan dan hukuman harus dijatuhkan dengan cepat kepada para tahanan.

“Jika kita ingin melakukan sesuatu, kita harus melakukannya dengan cepat,” tegas Mohseni-Ejei dalam pernyataan yang disiarkan televisi pemerintah. Ia menambahkan bahwa jika proses peradilan terlambat, maka efek jera yang diinginkan tidak akan tercapai.

Eskalasi Regional dan Ketegangan Intelijen

Situasi di Iran tidak hanya memicu kekhawatiran domestik, tetapi juga menggetarkan stabilitas regional. Seorang pejabat Israel menginformasikan bahwa kabinet keamanan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu telah diberi pengarahan mendalam mengenai dua skenario ekstrem.

Dua skenario tersebut mencakup kemungkinan runtuhnya pemerintahan Iran yang ada atau, yang lebih mengkhawatirkan, intervensi militer langsung dari Amerika Serikat. Persiapan intelijen ini menunjukkan betapa seriusnya kawasan tersebut memandang potensi konflik yang meluas.

Ketegangan diplomatik juga mencapai titik didih. Kontak langsung antara Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi dan Utusan Khusus AS Steve Witkoff dilaporkan telah ditangguhkan. Pembekuan komunikasi ini menandai terhentinya jalur dialog yang krusial di tengah krisis.

AS sendiri memiliki ribuan pasukan yang ditempatkan di berbagai negara di kawasan tersebut, mulai dari Teluk Persia hingga Mediterania. Keberadaan pasukan ini menjadikan ancaman Teheran terhadap pangkalan-pangkalan AS menjadi sangat nyata, menciptakan situasi geopolitik yang semakin rapuh dan berbahaya.