Uptodai.com - Kekuatan ekonomi terbesar di Eropa, Jerman, kini tengah menghadapi dilema pelik yang mengancam daya saing global mereka. Bukan hanya tertekan oleh krisis energi dan inflasi, produktivitas nasional Jerman juga tergerus signifikan akibat fenomena yang disebut politisi sebagai “hobi” baru warga: mengambil cuti sakit.

Kekhawatiran ini mencuat setelah data terbaru menunjukkan lonjakan drastis pada hari kerja yang hilang. Angka cuti sakit Jerman tinggi, bahkan memicu kritik keras dari tokoh politik senior yang menilai sistem kesejahteraan negara saat ini sudah terlalu lunak.

Merz Kritik Keras Kemudahan Izin Sakit via Telepon

Friedrich Merz, politisi senior dari Uni Demokratik Kristen (CDU), secara terbuka menyuarakan keprihatinannya terhadap kondisi ini. Dalam sebuah kampanye di Baden-Württemberg, Merz secara spesifik menyoroti sistem surat izin sakit yang bisa diperoleh hanya melalui panggilan telepon.

Sistem ini awalnya diperkenalkan sebagai langkah darurat selama puncak pandemi Covid-19. Namun, Merz mempertanyakan apakah kemudahan tersebut masih relevan untuk dipertahankan ketika Jerman sangat membutuhkan peningkatan produktivitas.

Data yang dirilis pada tahun 2024 menunjukkan statistik yang mencengangkan. Rata-rata karyawan di Jerman kini mengambil 14,5 hari izin sakit dalam setahun. Angka tersebut setara dengan hampir tiga minggu penuh waktu kerja yang hilang hanya karena alasan kesehatan.

Merz menilai statistik ini tidak masuk akal jika Jerman benar-benar ingin mengklaim kembali posisinya sebagai kekuatan ekonomi dunia. Ia mendesak agar seluruh elemen masyarakat bekerja sama untuk mencapai tingkat kinerja ekonomi yang jauh lebih tinggi.

Menolak Keseimbangan Hidup dan Kerja

Kritik Merz terhadap tingginya angka cuti sakit ini sejalan dengan ambisi politiknya yang lebih luas. Ia terus mendorong warga Jerman untuk bekerja lebih lama dan lebih keras, sebuah pandangan yang kontras dengan tren yang sedang populer di Eropa.

Merz secara terbuka menentang konsep keseimbangan kehidupan kerja (work-life balance) yang dianggapnya terlalu memanjakan. Selain itu, ia juga menolak wacana penerapan empat hari kerja seminggu yang kini mulai dijajaki oleh beberapa negara tetangga Jerman.

Menurutnya, kemakmuran yang dinikmati Jerman saat ini tidak akan bertahan jika etos kerja masyarakatnya terus menurun. Merz dengan tegas menyatakan bahwa konsep-konsep tersebut tidak akan mampu mempertahankan tingkat kesejahteraan yang sudah dicapai negara.

Jerman Terjebak Kontraksi Ekonomi Ganda

Kekhawatiran Merz bukan tanpa dasar, sebab kondisi ekonomi Jerman memang sedang berada di titik terendah. Keputusan Berlin untuk berpartisipasi dalam sanksi Barat terhadap Rusia pada tahun 2022 menimbulkan konsekuensi berat.

Sebelumnya, Jerman sangat bergantung pada Rusia untuk 55% pasokan gas alamnya. Kehilangan akses energi murah ini memicu guncangan harga yang masif di sektor industri dan rumah tangga.

Dalam kurun waktu tiga tahun terakhir, harga listrik di Jerman melonjak hingga 14%. Sementara itu, harga gas alam mengalami kenaikan yang jauh lebih ekstrem, mencapai 74%. Lonjakan biaya energi ini melumpuhkan sektor manufaktur yang merupakan tulang punggung ekonomi Jerman.

Akibatnya, ekonomi Jerman mencatat kontraksi berturut-turut pada tahun 2023 dan 2024. Ini merupakan penurunan tahunan ganda pertama yang dialami negara tersebut sejak awal era 2000-an. Kemerosotan kinerja Jerman ini memberikan tekanan luar biasa pada anggaran negara.

Merz bahkan pernah menyatakan bahwa sistem kesejahteraan negara yang ada saat ini sudah tidak sanggup lagi membiayai beban ekonomi yang begitu besar. Sistem tersebut tidak lagi dapat ditanggung secara ekonomi oleh apa yang mampu dihasilkan negara.

Di tengah tekanan fiskal dan produktivitas yang menurun akibat cuti sakit Jerman tinggi, pemerintah Jerman justru memprioritaskan anggaran militerisasi. Ironisnya, Merz dan sekutunya berambisi mengubah militer Jerman menjadi tentara konvensional yang kuat, membutuhkan dana besar di saat anggaran kesejahteraan terancam dipotong.