Dubes Iran Tuduh Mossad dan CIA Dalangi Kerusuhan Berdarah
Uptodai.com - Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, melontarkan pernyataan keras terkait gelombang demonstrasi yang mengguncang negaranya baru-baru ini. Dalam konferensi pers yang diadakan di Jakarta, Boroujerdi secara blak-blakan menuding adanya intervensi pihak luar yang sengaja memicu instabilitas. Boroujerdi menegaskan bahwa Dubes Iran tuding Mossad CIA sebagai dalang utama di balik skenario kerusuhan berdarah yang bertujuan menggulingkan pemerintahan sah di Teheran.
Pihak Kedutaan Besar Iran menekankan bahwa aksi protes yang terjadi telah dibajak dan dimanfaatkan untuk agenda penggantian kekuasaan. Mereka mengklaim memiliki bukti kuat mengenai keterlibatan badan intelijen asing dalam mengarahkan kekerasan yang sistematis terhadap aparat dan warga sipil.
Awal Mula Protes Damai yang Dibajak
Boroujerdi menjelaskan bahwa gelombang unjuk rasa awalnya bermula di Grand Bazaar Tehran pada akhir Desember 2025. Aksi tersebut merupakan protes damai yang dilakukan oleh pelaku usaha dan masyarakat terkait tekanan ekonomi serta fluktuasi nilai mata uang yang memberatkan.
Iran, menurut Kedubes, sangat menghormati hak masyarakat untuk menyampaikan aspirasi mereka sesuai konstitusi. Namun, situasi segera berubah drastis ketika aksi tersebut disusupi dan diambil alih oleh kelompok-kelompok yang memiliki tujuan politik radikal.
Perubahan ini ditandai dengan peningkatan ketegangan yang signifikan pada pekan pertama Januari 2026. Protes yang semula menyuarakan isu ekonomi beralih menjadi kerusuhan yang sarat kekerasan dan penyerangan terhadap fasilitas publik.
Taktik Aparat dan Korban dari Pihak Keamanan
Kedubes Iran mengungkapkan fakta mengejutkan mengenai respons awal aparat keamanan di lapangan. Pada tahap awal kerusuhan, aparat kepolisian Iran diterjunkan tanpa membawa senjata api, menunjukkan upaya maksimal untuk menahan diri dan menghindari pertumpahan darah.
Sebaliknya, tindakan ini justru menyebabkan kerugian besar di pihak keamanan. Boroujerdi menyebutkan bahwa jumlah korban jiwa tertinggi pada periode awal tersebut justru berasal dari aparat keamanan yang diserang oleh perusuh bersenjata dan terlatih.
Pihak Kedubes menekankan bahwa aparat telah menunjukkan kesabaran luar biasa meskipun menghadapi provokasi kekerasan yang terorganisir. Mereka berargumen bahwa narasi yang beredar di media internasional mengenai kebrutalan aparat adalah bagian dari kampanye disinformasi.
Klaim Keterlibatan Mossad dan CIA
Dalam pernyataan yang paling menohok, Iran secara spesifik menuding badan intelijen Israel (Mossad) dan Amerika Serikat (CIA) berada di balik pengarahan kerusuhan tersebut. Klaim ini didasarkan pada hasil penyadapan komunikasi yang dilakukan oleh intelijen Iran.
Boroujerdi mengungkapkan bahwa hasil penyadapan menunjukkan adanya instruksi langsung dari Mossad dan CIA kepada sel-sel yang beroperasi di dalam negeri. Instruksi tersebut memerintahkan agar sel-sel tersebut melakukan penyerangan masif terhadap aparat keamanan.
Lebih jauh lagi, jika penyerangan terhadap aparat gagal memicu kekacauan besar, instruksi cadangan memerintahkan para perusuh untuk menyasar masyarakat sipil. Tujuan utamanya adalah menciptakan jumlah korban jiwa yang tinggi dari kalangan warga tak berdosa.
Strategi Penciptaan Korban Sipil untuk Propaganda HAM
Strategi intelijen asing ini, menurut Boroujerdi, memiliki tujuan tunggal dan keji. “Strategi mereka adalah menciptakan korban jiwa semaksimal mungkin agar Iran dapat dituduh sebagai pelanggar Hak Asasi Manusia (HAM),” tegasnya.
Dengan adanya tuduhan pelanggaran HAM yang masif, hal ini akan dianggap sebagai alasan yang sah bagi pihak luar, terutama negara-negara Barat, untuk melakukan intervensi atau penyerangan terhadap Republik Islam Iran. Ini adalah skenario yang dirancang untuk memberikan justifikasi bagi tekanan internasional.
Terkait data statistik korban, Kedubes memaparkan data forensik yang mencatat total 3.117 jiwa menjadi korban dalam peristiwa tersebut. Dari angka ini, sebanyak 2.427 orang dikategorikan sebagai mati syahid, yang terdiri dari aparat keamanan dan warga sipil yang tewas akibat serangan kelompok teroris terlatih.
Pemerintah Iran membantah keras narasi bahwa aparat mereka melakukan tindakan brutal terhadap demonstran. Sebaliknya, mereka menuding kelompok-kelompok teroris yang didukung asinglah yang bertanggung jawab atas eskalasi kekerasan dan kematian warga sipil.