Uptodai.com - Upaya menjaga peringkat kredit Indonesia kini menjadi prioritas utama pemerintah setelah penilaian terbaru dari Moody’s. Langkah strategis segera diambil guna menyambut kedatangan dua lembaga pemeringkat internasional ternama, yakni Fitch Ratings dan S&P Global Ratings.

Deputi Gubernur Bank Indonesia, Juda Agung, mengungkapkan bahwa Fitch dijadwalkan menyambangi Indonesia pada 23 Februari 2026 mendatang. Setelah kunjungan tersebut, giliran S&P yang akan melakukan evaluasi mendalam terhadap kondisi ekonomi nasional secara menyeluruh.

Isu ini menjadi sangat krusial mengingat penilaian dari agensi rating global sangat memengaruhi kepercayaan investor asing di pasar keuangan. Juda menegaskan hal ini dalam acara CNBC Indonesia Economic Outlook 2026 yang berlangsung di Hotel Kempinski, Jakarta, Selasa (10/2/2026).

Evaluasi Moody’s Jadi Pelajaran Penting bagi Pemerintah

Pemerintah memetik pelajaran berharga dari hasil peninjauan yang dilakukan oleh Moody’s sebelumnya terhadap peringkat kredit Indonesia. Evaluasi tersebut memberikan gambaran mengenai aspek-aspek apa saja yang menjadi perhatian utama para analis ekonomi dunia saat ini.

Juda Agung menjelaskan bahwa pemerintah akan memperkuat koordinasi antarinstansi untuk menghindari risiko penurunan outlook atau peringkat utang. Sinergi antara Bank Indonesia, Kementerian Keuangan, dan lembaga terkait lainnya menjadi kunci utama dalam menghadapi proses audit ekonomi ini.

Setiap lembaga pemeringkat memiliki kerangka kerja atau framework yang berbeda-beda dalam memberikan skor penilaian. Oleh karena itu, pemerintah kini sedang menyiapkan penjelasan teknis yang disesuaikan dengan standar penilaian spesifik dari Fitch maupun S&P.

Strategi Menghadapi Kunjungan Lembaga Pemeringkat Internasional

Waktu yang tersisa untuk mempersiapkan data dan argumentasi ekonomi tergolong sangat singkat, yakni hanya sekitar dua minggu. Pemerintah harus bergerak cepat mengidentifikasi isu-isu sensitif yang berpotensi memengaruhi skor peringkat kredit Indonesia di mata dunia.

Fokus utama koordinasi ini mencakup penyelesaian kekhawatiran yang sempat disinggung oleh Moody’s dalam laporan terakhir mereka. Tim ekonomi nasional akan membedah setiap poin keberatan tersebut satu per satu untuk memastikan tidak ada celah keraguan bagi lembaga rating lainnya.

Langkah proaktif ini bertujuan agar stabilitas makroekonomi tetap terjaga di tengah dinamika pasar global yang tidak menentu. Penjelasan yang transparan dan berbasis data diharapkan mampu meyakinkan Fitch dan S&P mengenai ketahanan ekonomi domestik.

Pentingnya Menjaga Rating Utang Indonesia untuk Investasi

Mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada level yang stabil atau positif sangat berdampak pada biaya pinjaman negara. Jika rating tetap terjaga, pemerintah dapat menekan beban bunga utang dan mengalokasikan anggaran untuk pembangunan sektor produktif lainnya.

Selain itu, peringkat yang baik memberikan sinyal positif bagi para pelaku usaha bahwa Indonesia merupakan tempat yang aman untuk menanamkan modal. Hal ini secara langsung akan mendorong pertumbuhan ekonomi digital dan sektor industri manufaktur di tanah air.

Juda Agung menegaskan kembali komitmen otoritas moneter dan fiskal untuk bekerja keras dalam sisa waktu yang ada. Keberhasilan melewati tinjauan Fitch dan S&P akan menjadi modal kuat bagi Indonesia dalam mengarungi tantangan ekonomi sepanjang tahun 2026.