Uptodai.com - Pergerakan militer China di kawasan Timur Tengah kembali menjadi sorotan setelah sebuah laporan mengungkap keberadaan Kapal Intel China Dekat Iran. Kapal riset canggih milik Beijing, yang dikenal dengan nama Da Yang Yi Hao, terpantau telah menyisir perairan Laut Arab sejak pertengahan Desember lalu. Kehadiran kapal ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai agenda tersembunyi Presiden Xi Jinping di tengah memanasnya ketegangan regional.

Menurut laporan maritim terbaru yang dikutip Newsweek, kapal Da Yang Yi Hao, atau yang dijuluki “Ocean No. 1,” bukanlah sekadar kapal sipil biasa. Kantor berita resmi China, Xinhua, melaporkan bahwa kapal ini merupakan kapal riset samudra komprehensif modern pertama milik China yang dirancang khusus untuk eksplorasi laut dalam. Fungsinya mencakup penelitian geofisika, kimia kelautan, biologi, hingga akustik.

Mengapa Kapal Da Yang Yi Hao Begitu Krusial?

Kemampuan kapal Da Yang Yi Hao dinilai sangat mengkhawatirkan bagi pertahanan negara lawan, terutama Amerika Serikat dan sekutunya. Kelompok analisis maritim Universitas Stanford, SeaLight, mengungkapkan bahwa kapal tersebut membawa sistem pencitraan dasar laut yang sangat canggih. Selain itu, kapal ini dilengkapi dengan kendaraan bawah air yang dioperasikan dari jarak jauh (ROV) untuk pengambilan sampel.

Teknologi tersebut memungkinkan kapal ini memetakan medan bawah laut dengan detail luar biasa, sebuah kemampuan yang vital dalam peperangan bawah air. Lebih jauh lagi, kemampuan akustik yang dimilikinya diduga kuat dapat mencegat komunikasi bawah air dan memantau pergerakan kapal selam. Laporan pada Februari 2025 bahkan mengindikasikan bahwa kemampuan kapal ini telah ditingkatkan secara signifikan untuk mendukung kegiatan survei laut dalam di masa mendatang.

Misi Ganda Beijing di Samudra Hindia

Aktivitas kapal riset China ini sejalan dengan inisiatif yang disebut “Hidden Reach” oleh Center for Strategic and International Studies (CSIS). Inisiatif tersebut menggarisbawahi upaya Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) dan perwakilan sipilnya dalam memanen data penting dari lautan dunia. Data oseanografi yang dikumpulkan sering kali memiliki nilai ganda, berfungsi sebagai penelitian ilmiah sekaligus intelijen militer.

Meskipun Beijing mengklaim manfaat ilmiah dan komersial, aktivitas ini terbukti krusial bagi PLA. Pengumpulan data tersebut memungkinkan PLA memperluas jangkauan operasional dan meningkatkan kemampuan tempur mereka di Samudra Hindia. Hal ini menjadi kunci strategis mengingat pentingnya jalur pelayaran internasional yang melewati kawasan Laut Arab.

Tensi Memanas di Tengah Kedatangan Armada AS

Laporan mengenai pergerakan kapal intelijen China ini muncul tepat ketika ketegangan geopolitik di kawasan tersebut mencapai titik didih. Komando Pusat AS (CENTCOM) baru saja mengumumkan pengerahan gugus tempur laut yang dipimpin oleh kapal induk USS Abraham Lincoln. Armada ini dikirim ke wilayah tersebut dengan misi mempromosikan keamanan dan stabilitas regional, sekaligus menjadi sinyal peringatan keras.

Situasi semakin meruncing karena kedatangan armada tempur AS terjadi setelah Presiden Donald Trump melontarkan ancaman serius. Trump sebelumnya mengancam akan melakukan perubahan rezim di Iran menyusul tindakan keras Teheran terhadap protes anti-pemerintah yang masif. Ancaman ini menambah lapisan kerumitan dalam dinamika regional.

Surat kabar The Wall Street Journal bahkan melaporkan bahwa Trump telah memerintahkan militer AS agar bersiap menghadapi potensi serangan. Jika serangan ini benar-benar terjadi, ini akan menjadi kali kedua dalam kurun waktu kurang dari satu tahun Washington mengambil tindakan militer. Oleh karena itu, kehadiran kapal riset China di dekat Iran dilihat sebagai upaya Beijing untuk mengumpulkan intelijen penting sebelum potensi konflik pecah.

Di tengah dinamika yang sangat sensitif ini, Beijing berupaya menjaga keseimbangan diplomatik. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, menyatakan bahwa pihaknya akan terus berupaya memastikan perdamaian di kawasan tersebut. Namun demikian, pergerakan armada riset canggih seperti Da Yang Yi Hao menunjukkan bahwa China tidak hanya mengandalkan jalur diplomasi, tetapi juga aktif mengumpulkan data strategis di lapangan untuk kepentingan jangka panjang mereka.