Medvedev: Dunia Menyambut Kenaikan Jumlah Negara Nuklir, NATO Minggir
Uptodai.com - Mantan Presiden Rusia Dmitry Medvedev baru-baru ini melontarkan peringatan keras mengenai potensi kenaikan jumlah negara nuklir di seluruh dunia. Sekutu dekat Presiden Vladimir Putin tersebut memprediksi bahwa tatanan global kini berada di ambang kemunculan “Klub Nuklir” baru yang semakin ramai.
Pernyataan Medvedev, yang disampaikan melalui media sosial, merujuk pada kemungkinan konsekuensi dari berakhirnya perjanjian non-proliferasi nuklir global. Menurutnya, kegagalan negara-negara besar dalam mempertahankan kontrol senjata akan mendorong banyak negara lain mempertimbangkan opsi optimal untuk memiliki senjata nuklir sendiri.
Krisis yang Memicu Kenaikan Jumlah Negara Nuklir
Peringatan dari Moskow ini muncul di tengah kebuntuan negosiasi perpanjangan Perjanjian Pengurangan Senjata Strategis Baru (New START). Perjanjian krusial ini merupakan kesepakatan bilateral antara Amerika Serikat dan Rusia yang membatasi persaingan senjata nuklir kedua negara.
Padahal, New START memiliki peran vital karena AS dan Rusia secara kolektif menguasai sekitar 90% dari seluruh persediaan senjata nuklir global. Perjanjian ini membatasi jumlah hulu ledak yang dikerahkan (maksimal 1.550) dan jumlah rudal jarak jauh serta pesawat pembom berat yang diizinkan, sekaligus menyediakan mekanisme inspeksi dan berbagi data untuk memverifikasi kepatuhan.
Namun, perjanjian tersebut akan berakhir pada 5 Februari mendatang, dan hingga kini, Moskow belum menerima tanggapan pasti dari Washington terkait tawaran perpanjangan. Keadaan ini menciptakan kekosongan regulasi yang sangat berbahaya.
Kenapa New START di Ujung Tanduk?
Ketegangan antara kedua negara adidaya ini telah memburuk sejak lama. Pada Februari 2023, Presiden Putin mengumumkan bahwa Rusia akan menangguhkan partisipasinya dalam New START sebagai respons terhadap dukungan militer Washington terhadap Ukraina.
Pemerintahan AS saat itu, di bawah Presiden Joe Biden, meniru langkah tersebut, membuat perjanjian praktis lumpuh. Ketika Donald Trump kembali menjabat pada Januari 2025, Putin sempat menyerukan keterlibatan bilateral untuk kembali membahas pengendalian senjata, tanpa harus mengaitkannya dengan penghentian bantuan militer AS ke Ukraina.
Sementara itu, Gedung Putih bersikap hati-hati. Washington menyatakan bahwa Presiden Trump akan memutuskan langkah ke depan dalam pengendalian senjata nuklir sesuai dengan jadwalnya sendiri. Sikap tarik ulur ini hanya menambah ketidakpastian global.
Ancaman Proliferasi: NATO Minggir, Klub Baru Muncul
Menurut Medvedev, jika New START benar-benar berakhir tanpa pengganti, era pengendalian senjata pasca-Perang Dingin akan runtuh. Konsekuensinya bukan hanya perlombaan senjata antara AS dan Rusia, tetapi juga munculnya negara-negara baru yang ingin memiliki kemampuan nuklir sebagai jaminan keamanan.
Kegagalan dua kekuatan nuklir terbesar untuk menahan diri mengirimkan sinyal berbahaya. Negara-negara yang merasa terancam secara regional, atau yang kehilangan jaminan perlindungan dari sekutu besar, akan melihat senjata nuklir sebagai satu-satunya pencegah yang efektif.
Dalam pandangan Moskow, situasi ini memperlihatkan bahwa aliansi tradisional seperti NATO tidak lagi menjadi satu-satunya penentu keamanan global. Sebaliknya, kekuatan nuklir mandiri—yang ia sebut ‘Klub Nuklir’—akan menjadi mata uang geopolitik yang dominan.
Alhasil, ancaman proliferasi senjata nuklir menjadi nyata. Negara-negara seperti Iran, Korea Utara, dan beberapa negara lain di kawasan Asia dan Timur Tengah dapat semakin termotivasi untuk mengembangkan atau menyempurnakan program nuklir mereka, mengabaikan perjanjian internasional yang sudah ada.
Apabila skenario Medvedev terwujud, dunia akan menghadapi era baru yang ditandai oleh ketidakstabilan strategis, di mana jumlah pemain yang memiliki daya hancur masif bertambah, membuat manajemen krisis dan pencegahan konflik menjadi jauh lebih rumit.