Uptodai.com - Pemerintah Indonesia terus mempertegas komitmennya dalam memperkuat Ketahanan Energi RI 2026 demi menopang akselerasi pertumbuhan ekonomi nasional. Sektor energi dipandang sebagai tulang punggung vital yang harus mandiri dan tangguh menghadapi fluktuasi pasar global. Langkah strategis ini mencakup perumusan kebijakan jangka panjang yang berorientasi pada peningkatan produksi domestik dan diversifikasi sumber energi.

Plt Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Alam (KESDM), Tri Winarno, menjelaskan bahwa ada tiga pilar utama yang menjadi fondasi strategi energi nasional. Pilar tersebut meliputi kemandirian energi, ketahanan energi, dan swasembada energi. Implementasi ketiga pilar ini diharapkan mampu menciptakan ekosistem energi yang stabil dan berkelanjutan di masa depan.

Strategi Kunci Swasembada: Pengurangan Impor BBM

Dalam konteks kemandirian dan swasembada, KESDM fokus meningkatkan kapasitas produksi kilang minyak di dalam negeri. Upaya ini bertujuan agar Indonesia mampu memproduksi sebagian besar kebutuhan Bahan Bakar Minyak (BBM) secara mandiri. Dengan demikian, ketergantungan terhadap impor produk minyak bumi dapat ditekan secara signifikan, sekaligus menghemat devisa negara.

Sementara itu, aspek ketahanan energi diwujudkan melalui peningkatan kapasitas cadangan energi nasional. Pemerintah berupaya keras menambah kapasitas penyimpanan (storage) minyak di seluruh wilayah Indonesia. Peningkatan cadangan ini sangat penting sebagai bantalan strategis jika terjadi gangguan pasokan global yang tidak terduga.

Mengejar Target Lifting Minyak Nasional

Pemerintah juga membeberkan langkah konkret untuk memperkuat kemampuan produksi minyak mentah di dalam negeri. Sebagai contoh, produksi minyak siap jual (lifting) nasional pada tahun 2025 berhasil melampaui target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Angka lifting tersebut tercatat mencapai 605.300 barel per hari (bph).

Meskipun demikian, tantangan untuk mempertahankan dan meningkatkan angka produksi ini tetap besar. Untuk menjawab tantangan tersebut, KESDM mengambil beberapa pendekatan teknologi dan operasional. Salah satunya adalah optimalisasi teknologi canggih pada lapangan minyak yang sudah eksisting dan sudah lama berproduksi.

Selain optimalisasi, pemerintah juga melakukan reaktivasi sumur-sumur minyak yang sudah tidak aktif (idle). Hingga Desember 2025, tercatat sebanyak 787 sumur idle telah direaktivasi dari potensi total 6.300 sumur yang bisa digarap kembali. Langkah ini menjadi jalan pintas yang efektif untuk mendongkrak produksi tanpa harus menunggu penemuan blok baru.

Tri Winarno menambahkan bahwa percepatan eksplorasi di Indonesia Timur juga menjadi prioritas utama. Percepatan eksplorasi ini sejalan dengan rencana penawaran 110 blok migas yang sangat potensial. Penawaran ini diharapkan menjamin ketersediaan pasokan minyak di masa depan, mengingat kebutuhan energi yang terus meningkat.

Potensi Wilayah Kerja Migas Baru Meningkat Drastis

Upaya jaminan ketersediaan minyak didukung oleh peningkatan potensi area wilayah kerja minyak dan gas bumi (migas) nasional. Data dari KESDM menunjukkan adanya lonjakan signifikan pada potensi area tersebut dalam dua tahun terakhir.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, mengonfirmasi peningkatan penemuan area berpotensi cadangan migas nasional. Jika pada tahun sebelumnya hanya terdapat 75 blok, kini jumlah Wilayah Kerja yang teridentifikasi mencapai 110 area.

Peningkatan signifikan ini menunjukkan bahwa Indonesia masih memiliki cadangan energi fosil yang besar yang perlu dikembangkan secara maksimal. Namun, pengembangan sumber daya ini harus berjalan beriringan dengan komitmen global terhadap transisi energi.

Selain fokus pada peningkatan produksi migas, kunci utama Ketahanan Energi RI 2026 juga terletak pada pengembangan Energi Baru dan Terbarukan (EBT). Transisi menuju energi bersih menjadi bagian integral dari upaya mengurangi impor energi fosil. Oleh karena itu, Pemerintah terus mendorong investasi pada sektor panas bumi, surya, dan air untuk mencapai bauran energi yang lebih hijau dan berkelanjutan.