Kisah Soekarno Marah di Amerika Serikat Saat Dikerjai Eisenhower
Uptodai.com - Kisah Soekarno marah di Amerika Serikat menjadi salah satu fragmen sejarah yang paling sering dibicarakan dalam dunia diplomasi internasional. Peristiwa ini terjadi pada Juni 1960 saat Sang Proklamator memenuhi undangan resmi dari Presiden AS, Dwight D. Eisenhower. Kunjungan tersebut awalnya bertujuan untuk mempererat hubungan bilateral antara Jakarta dan Washington yang sedang dinamis.
Bung Karno berangkat dengan ekspektasi tinggi mengingat peran besar Amerika Serikat dalam mendukung kemerdekaan Indonesia pada masa awal revolusi. Paman Sam tercatat membantu menekan Belanda melalui meja perundingan setelah agresi militer yang melelahkan. Namun, sambutan hangat yang ia harapkan justru berubah menjadi sebuah penghinaan protokol yang sangat membekas di hati.
Ketegangan mulai terasa saat pesawat kepresidenan mendarat di pangkalan udara Amerika Serikat untuk memulai agenda kenegaraan. Berbeda dengan kunjungan kepala negara pada umumnya, Eisenhower tidak tampak berdiri di landasan pacu untuk menyambut tamu kehormatannya. Soekarno sempat merasa heran dengan situasi tersebut, namun ia masih berusaha menjaga martabat dengan tetap berpikiran positif.
“Mungkin sambutan resminya akan dilakukan di Gedung Putih,” gumam Soekarno dalam hati seperti yang tertuang dalam autobiografinya. Ia tetap melangkah dengan gagah menuju pusat kekuasaan Amerika Serikat tersebut bersama rombongan delegasi yang ia bawa. Sayangnya, apa yang terjadi di Gedung Putih justru jauh lebih menyakitkan bagi harga diri bangsa Indonesia yang baru merdeka.
Penghinaan Protokol di Ruang Tunggu Gedung Putih
Setibanya di Gedung Putih, Eisenhower lagi-lagi tidak menampakkan batang hidungnya di depan pintu masuk untuk menyapa tamu negara. Staf protokol kepresidenan AS hanya mengarahkan Soekarno menuju sebuah ruang tunggu tanpa ada upacara penyambutan resmi yang semestinya. Hal ini sangat tidak lazim karena Soekarno datang sebagai kepala negara berdaulat, bukan sebagai warga sipil biasa.
Menit demi menit berlalu hingga berganti menjadi hitungan jam, namun Eisenhower tetap tidak kunjung datang menemui rombongan Indonesia. Soekarno yang dikenal memiliki temperamen tinggi mulai merasa bahwa dirinya sedang “dikerjai” secara sengaja oleh pihak Amerika Serikat. Ia duduk dengan gelisah sambil mengamati jam dinding yang terus berdetak tanpa adanya kepastian dari pihak tuan rumah.
Kesabaran pemimpin besar revolusi itu akhirnya mencapai titik nadir setelah menunggu selama hampir dua jam tanpa kejelasan. Ia segera berdiri dari kursinya dan memanggil kepala protokol Gedung Putih dengan raut wajah yang memerah karena menahan amarah. Dengan suara lantang dan tegas, Soekarno memberikan sebuah ultimatum yang seketika membuat para pejabat AS di ruangan itu gemetar.
“Apakah saya harus menunggu lebih lama lagi? Jika ya, saya akan berangkat sekarang juga!” tegas Soekarno dengan nada yang sangat tinggi. Gertakan tersebut seketika memicu kepanikan luar biasa di kalangan staf kepresidenan yang bertugas mengatur jadwal pertemuan saat itu. Mereka menyadari bahwa menyinggung perasaan Soekarno bisa berdampak buruk pada peta politik global di tengah Perang Dingin.
Alasan di Balik Sikap Dingin Eisenhower
Tidak butuh waktu lama setelah ultimatum keras tersebut dilontarkan, Eisenhower akhirnya muncul dari ruangannya untuk menemui Soekarno. Kehadiran yang tiba-tiba ini membuktikan bahwa keterlambatan tersebut memang disengaja sebagai bentuk tekanan psikologis terhadap pemimpin Indonesia. Pertemuan yang seharusnya menjadi ajang silaturahmi itu pun berlangsung sangat dingin dan penuh dengan kecanggungan.
Eisenhower menyalami Soekarno dan rombongannya tanpa mengucapkan satu patah kata pun permintaan maaf atas keterlambatan yang terjadi. Sikap angkuh sang Presiden AS membuat Soekarno semakin berang dan ingin segera mengakhiri seluruh rangkaian kunjungan resminya di Washington. Diplomasi yang diharapkan menghasilkan kerja sama strategis justru berakhir hambar tanpa kesepakatan yang berarti bagi kedua negara.
Belakangan terungkap bahwa sikap dingin Amerika Serikat dipicu oleh komposisi rombongan delegasi yang dibawa oleh Soekarno ke Washington. Eisenhower merasa sangat terganggu dengan kehadiran Dipa Nusantara Aidit, Ketua Partai Komunis Indonesia (PKI), dalam daftar tamu resmi. Bagi Amerika Serikat, kehadiran tokoh komunis di jantung kekuasaan mereka adalah sebuah provokasi politik yang tidak bisa diterima.
Peristiwa ini menjadi bukti nyata betapa kuatnya prinsip kedaulatan yang dipegang teguh oleh Soekarno di mata dunia internasional. Meskipun saat itu Indonesia membutuhkan bantuan ekonomi dan militer, ia tidak sudi jika harga diri bangsanya diinjak-injak oleh negara adidaya. Hingga kini, kisah Soekarno marah di Amerika Serikat tetap menjadi pelajaran penting tentang integritas dan martabat seorang pemimpin nasional.