AS Sebut Kondisi Mojtaba Khamenei Terluka dan Alami Cacat Wajah
Uptodai.com - Isu mengenai kondisi Mojtaba Khamenei terluka kini menjadi sorotan tajam dunia internasional setelah pihak Amerika Serikat melontarkan klaim mengejutkan. Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, menyebut bahwa pemimpin tertinggi Iran yang baru tersebut kemungkinan besar mengalami cacat pada bagian wajahnya. Hal ini memicu spekulasi besar mengenai stabilitas kepemimpinan di Teheran pasca wafatnya Ali Khamenei.
Kecurigaan ini muncul setelah Mojtaba merilis pernyataan perdananya melalui televisi pemerintah pada Kamis (12/3/2026). Namun, publik tidak melihat sosoknya secara langsung maupun mendengar suaranya dalam siaran tersebut. Pesan tersebut hanya dibacakan oleh seorang presenter, yang dianggap sangat tidak lazim bagi seorang pemimpin negara yang baru saja menjabat.
Klaim Amerika Serikat Terkait Kondisi Mojtaba Khamenei Terluka
Hegseth secara terbuka mempertanyakan kemampuan Mojtaba dalam memimpin Iran di tengah situasi geopolitik yang kian memanas. Ia menilai ketiadaan rekaman video atau audio menunjukkan adanya sesuatu yang disembunyikan oleh pihak otoritas Teheran. Menurutnya, Iran memiliki infrastruktur media yang sangat lengkap, sehingga penggunaan pernyataan tertulis terasa sangat janggal dan mencurigakan.
“Kita tahu bahwa pemimpin yang disebut-sebut itu sedang terluka dan kemungkinan mengalami cacat wajah,” ungkap Hegseth sebagaimana dikutip dari Reuters. Ia menambahkan bahwa pernyataan yang dikeluarkan Mojtaba terasa sangat lemah dan tidak menunjukkan otoritas yang kuat. Hegseth bahkan menyebut sang pemimpin baru tersebut saat ini sedang dalam persembunyian karena merasa ketakutan.
Pernyataan Tertulis Tanpa Suara dan Video
Spekulasi mengenai kesehatan pemimpin tertinggi Iran cacat semakin liar karena ia disebut tidak memiliki legitimasi yang kuat di mata rakyatnya sendiri. Amerika Serikat memandang bahwa suksesi kepemimpinan ini terjadi dalam suasana penuh tekanan dan ketidakpastian politik. Tanpa kehadiran fisik di depan kamera, posisi Mojtaba dianggap sangat rentan terhadap tantangan internal maupun tekanan dari dunia internasional.
Di sisi lain, seorang pejabat internal Iran sempat memberikan klarifikasi terbatas mengenai kondisi kesehatan sang pemimpin kepada media. Mereka mengakui bahwa Mojtaba memang mengalami luka ringan, namun tetap menjalankan tugas-tugas kenegaraan secara operasional. Meskipun demikian, pihak Teheran tidak merinci penyebab luka tersebut maupun lokasi keberadaan Mojtaba saat ini demi alasan keamanan.
Ancaman Penutupan Selat Hormuz dan Pangkalan Militer
Meskipun diterpa isu kesehatan yang serius, pesan tertulis Mojtaba tetap membawa nada ancaman yang sangat keras terhadap kepentingan Barat. Ia menegaskan bahwa Iran akan terus menjaga kawasan Selat Hormuz tetap tertutup bagi lalu lintas internasional. Langkah ini diambil sebagai bentuk tekanan ekonomi dan politik terhadap negara-negara yang dianggap memusuhi kedaulatan Iran.
Selain itu, Mojtaba menyerukan kepada negara-negara tetangga di kawasan Timur Tengah untuk segera menutup pangkalan militer Amerika Serikat di wilayah mereka. Ia memperingatkan bahwa negara yang masih menampung pasukan AS berisiko menjadi sasaran serangan militer balasan dari pihak Iran. Pesan ini menunjukkan bahwa kebijakan luar negeri Iran di bawah kendali Mojtaba tetap akan bersifat agresif dan konfrontatif.
Situasi di kawasan tersebut diprediksi akan semakin tidak menentu seiring dengan meningkatnya konflik Iran Amerika Serikat dalam beberapa pekan terakhir. Penutupan jalur pelayaran vital seperti Selat Hormuz tentu akan berdampak besar pada fluktuasi harga minyak dunia dan stabilitas ekonomi global. Kini dunia internasional menanti bukti fisik apakah Mojtaba benar-benar mampu memegang kendali penuh atas pemerintahan Iran di masa depan.