Dua Raksasa NATO Jegal Rencana Trump Caplok Greenland
Uptodai.com - Ketegangan diplomatik antara Amerika Serikat dan sekutu utama Eropa kian memanas setelah dua raksasa NATO, Jerman dan Inggris, secara terbuka menentang rencana ambisius Trump caplok Greenland NATO. Kedua negara tersebut kini tengah menyusun strategi militer gabungan untuk memperkuat kehadiran aliansi di Kutub Utara, sebagai respons langsung terhadap ancaman pengambilalihan wilayah otonomi Denmark itu.
Langkah tegas Berlin dan London ini dipicu oleh pernyataan kontroversial Donald Trump pada akhir pekan lalu. Mantan Presiden AS tersebut menegaskan bahwa Amerika Serikat harus mengambil alih Greenland, dan memperingatkan akan menempuh “jalur paksa” jika tawaran finansial ditolak oleh Kopenhagen.
Trump berargumen bahwa penguasaan Greenland merupakan langkah strategis yang sangat vital untuk menahan laju pengaruh Rusia dan China di wilayah Arktik. Meskipun laporan awal menyebutkan adanya insentif keuangan yang ditawarkan, Gedung Putih dilaporkan tidak menutup kemungkinan penggunaan kekuatan militer, bahkan telah memerintahkan komandan senior militer AS untuk menyiapkan rencana potensi invasi.
Strategi Balasan Berlin dan London
Menanggapi ancaman yang dianggap merusak kohesi aliansi, Jerman dan Inggris bergegas memperkuat kehadiran NATO di wilayah Arktik. Berlin, khususnya, telah mengajukan usulan misi bersama NATO yang diberi nama sandi ‘Arctic Sentry’.
Menteri Luar Negeri Jerman, Johann Wadephul, dijadwalkan akan segera membahas isu krusial ini dengan Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio. Wadephul menekankan pentingnya peran NATO dalam menjaga stabilitas kawasan. Ia menyatakan bahwa diskusi tersebut bertujuan untuk menentukan bagaimana aliansi dapat memikul tanggung jawab ini dengan sebaik-baiknya di tengah krisis.
Di saat yang sama, pejabat tinggi Inggris telah mengadakan pertemuan intensif dengan perwakilan Prancis dalam beberapa hari terakhir. Pertemuan ini fokus pada penyusunan rencana detail untuk Misi militer NATO di Arktik yang rencananya akan dibahas dalam pertemuan resmi aliansi pada Kamis mendatang.
London menawarkan berbagai opsi militer dan intelijen yang komprehensif. Opsi tersebut mencakup peningkatan signifikan dalam latihan militer bersama, pertukaran intelijen yang lebih mendalam, hingga peningkatan belanja pertahanan yang ditargetkan.
Bahkan, Inggris tidak menampik kemungkinan pengerahan pasukan skala penuh ke Greenland. Meskipun demikian, perencanaan strategis ini dilaporkan masih berada dalam tahap awal dan memerlukan persetujuan dari anggota NATO lainnya.
Reaksi Keras Eropa dan Prinsip NATO
Ambisi Trump untuk menguasai Greenland secara paksa telah memicu kemarahan diplomatik di seluruh Eropa. Perdana Menteri Denmark, Mette Frederiksen, bersama sejumlah pejabat tinggi Eropa lainnya, memberikan peringatan keras.
Mereka menegaskan bahwa serangan militer terhadap sesama anggota NATO—seperti Denmark, yang menguasai Greenland—akan secara fundamental menghancurkan kredibilitas aliansi pertahanan tersebut. Tindakan semacam itu akan membuat Pasal 5 (serangan terhadap satu anggota dianggap serangan terhadap semua) menjadi usang dan tidak lagi relevan.
Krisis ini tidak hanya berpusat pada kepemilikan teritorial, tetapi juga pada prinsip dasar NATO sebagai pakta pertahanan kolektif. Jika AS menggunakan kekuatan terhadap anggota sekutunya, hal ini dikhawatirkan akan memicu keretakan permanen yang menguntungkan rival geopolitik mereka, terutama Rusia dan China.
Oleh karena itu, upaya Jerman Inggris lawan Trump ini dilihat sebagai langkah mendesak untuk menyelamatkan integritas NATO dan memastikan bahwa aliansi tersebut tetap beroperasi berdasarkan kesepakatan kolektif, bukan ambisi unilateral.