Uptodai.com - Panic buying BBM di Thailand melanda kawasan pinggiran Bangkok seiring berakhirnya masa kebijakan pembekuan harga oleh pemerintah setempat. Ratusan kendaraan memadati stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) sejak Senin pagi untuk mendapatkan solar sebelum harga melonjak. Para pengemudi khawatir biaya operasional mereka akan membengkak jika terlambat mengisi tangki.

Antrean yang mengular panjang ini bahkan memicu kemacetan lalu lintas yang cukup parah di jalan-jalan protokol sekitar SPBU. Banyak pemilik kendaraan pribadi maupun angkutan logistik rela menunggu berjam-jam demi mengamankan stok bahan bakar. Fenomena ini mencerminkan keresahan masyarakat terhadap fluktuasi harga energi yang kian tidak menentu.

Dampak Penghentian Pembekuan Harga Solar

Pemerintah Thailand sebelumnya telah menerapkan kebijakan pembekuan harga solar selama 15 hari sejak awal Maret 2026. Langkah ini diambil sebagai upaya jangka pendek untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah tekanan ekonomi. Namun, masa berlaku aturan tersebut resmi berakhir pada Senin (16/3/2026), yang langsung memicu reaksi spontan dari konsumen.

Masyarakat menganggap berakhirnya subsidi ini sebagai sinyal kuat akan adanya kenaikan harga yang signifikan dalam waktu dekat. Hal inilah yang mendorong terjadinya antrean solar di Thailand secara masif di berbagai titik strategis. Kondisi psikologis pasar yang panik membuat volume permintaan bahan bakar meningkat berkali-kali lipat dari hari biasanya.

Lonjakan permintaan yang tiba-tiba ini membuat sejumlah pengelola SPBU mulai kewalahan mengatur arus kendaraan. Beberapa lokasi bahkan melaporkan bahwa stok solar mereka menipis lebih cepat dari jadwal pengiriman rutin. Situasi ini memperparah ketegangan di lapangan karena banyak pengemudi yang takut tidak kebagian jatah bahan bakar.

Stok Solar di SPBU Mulai Menipis

Poonyaporn Kerdphokha, seorang pekerja SPBU senior, mengungkapkan bahwa kondisi kali ini benar-benar di luar kendali normal. Ia menyebutkan bahwa banyak orang datang dari berbagai wilayah hanya untuk memastikan tangki kendaraan mereka penuh. Tekanan kerja bagi para petugas lapangan meningkat tajam seiring dengan bertambahnya volume kendaraan yang masuk.

Menurut pengakuannya, stok solar di tempatnya bekerja hampir habis karena gelombang konsumen yang tidak berhenti datang sejak pagi. Fenomena panic buying BBM di Thailand ini menjadi yang paling masif yang pernah ia saksikan selama sepuluh tahun bekerja. Ia mencatat bahwa perilaku konsumen saat ini sangat dipengaruhi oleh ketidakpastian informasi mengenai harga baru.

Kekosongan stok di beberapa titik memaksa para pengemudi untuk mencari SPBU lain yang jaraknya lebih jauh. Hal ini menciptakan efek domino pada kelancaran distribusi barang dan mobilitas warga di sekitar ibu kota. Jika pasokan tidak segera ditambah, dikhawatirkan akan terjadi kelangkaan solar di tingkat pengecer dalam beberapa hari ke depan.

Respons Pemerintah Terkait Kenaikan Harga Bahan Bakar

Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Transportasi Thailand, Phiphat Ratchakitprakarn, menyatakan bahwa pemerintah terus memantau situasi di lapangan. Pihaknya sedang mengkaji langkah-langkah strategis untuk menyeimbangkan beban fiskal negara dengan kemampuan ekonomi warga. Penyesuaian harga merupakan konsekuensi dari dinamika harga minyak dunia yang terus bergejolak.

Pemerintah Thailand kini dihadapkan pada pilihan sulit antara melanjutkan subsidi atau membiarkan harga mengikuti mekanisme pasar. Sektor transportasi dan logistik menjadi pihak yang paling rentan terdampak jika harga solar dilepas tanpa pengawasan. Oleh karena itu, koordinasi antar-kementerian terus dilakukan untuk merumuskan solusi jangka panjang yang lebih stabil.

Masyarakat berharap ada kebijakan transisi yang tidak langsung memberatkan pengeluaran harian mereka. Hingga saat ini, pemerintah belum mengumumkan secara resmi besaran kenaikan harga yang akan diberlakukan pasca-pembekuan. Ketidakpastian inilah yang diprediksi masih akan memicu gelombang pengisian bahan bakar secara besar-besaran dalam waktu singkat.