Terungkap! Pelaku Pengeboman Masjid Syiah di Islamabad Adalah ISIS
Uptodai.com - Kepanikan dan duka mendalam menyelimuti Islamabad, Pakistan, setelah sebuah ledakan bom bunuh diri mengguncang ibu kota tersebut. Tragedi ini terjadi saat ribuan jemaah tengah menunaikan ibadah salat Jumat, menyisakan pertanyaan besar mengenai siapa pelaku pengeboman masjid Syiah yang menargetkan warga sipil tak berdosa.
Serangan brutal yang menewaskan sedikitnya 31 orang dan melukai 169 lainnya ini kini telah menemui titik terang. Kelompok teroris global, Islamic State (IS) atau Negara Islam, secara resmi mengeklaim bertanggung jawab atas aksi teror paling mematikan di Islamabad dalam kurun waktu hampir dua dekade terakhir.
Detik-Detik Serangan Mematikan di Islamabad
Serangan tersebut terjadi di Masjid Syiah Imam Bargah Qasr-e-Khadijatul Kubra, yang berlokasi di kawasan Tarlai, pinggiran Islamabad. Data awal dari pejabat kota menunjukkan bahwa jumlah korban tewas sangat mungkin bertambah, mengingat banyak korban luka yang saat ini masih berjuang dalam kondisi kritis di rumah sakit.
Insiden ini tercatat sebagai serangan paling mematikan yang menghantam ibu kota Pakistan sejak pengeboman Hotel Marriott pada tahun 2008. Peristiwa kelam ini kembali mengingatkan publik akan kerentanan Pakistan terhadap aksi terorisme sektarian yang kerap menargetkan minoritas Syiah.
Menurut pemantauan yang dilakukan oleh SITE Intelligence Group, sebuah badan yang mengawasi komunikasi kelompok-kelompok jihadis, IS merilis pernyataan resmi. Mereka mengklaim bahwa salah satu militan mereka berhasil menyusup dan menargetkan jemaah menggunakan rompi berisi bahan peledak.
Kronologi Mencekam: Baku Tembak di Gerbang Masjid
Saksi mata menggambarkan suasana di dalam masjid yang berubah drastis dari khusyuk menjadi mencekam dalam hitungan detik. Muhammad Kazim, seorang jemaah berusia 52 tahun, menceritakan bahwa ledakan yang terjadi sangat dahsyat dan tak terduga.
Ia menjelaskan bahwa jemaah baru saja memasuki gerakan pertama dalam salat, yakni rukuk. Tiba-tiba, suara tembakan terdengar, dan ketika mereka masih dalam posisi rukuk, ledakan keras terjadi seketika, menghancurkan ketenangan ibadah.
Sumber keamanan internal mengonfirmasi bahwa pelaku bom bunuh diri sebenarnya sempat dicegat di pintu masuk masjid. “Penyerang dihentikan di gerbang dan meledakkan dirinya sendiri,” ujar sumber tersebut, menjelaskan upaya pencegahan awal yang sayangnya gagal total.
Imran Mahmood, saksi lain yang berusia sekitar 50-an, memberikan detail yang lebih mengerikan. Ia mengungkapkan bahwa sempat terjadi baku tembak singkat antara pelaku, atau kemungkinan kaki tangannya, dengan relawan keamanan masjid.
Mahmood menuturkan bahwa pelaku bom bunuh diri berusaha menerobos maju. Namun, salah satu relawan keamanan berhasil menembaknya dari belakang dan mengenai bagian paha. “Setelah itu dia meledakkan bahan peledaknya,” tambah Mahmood, yang menyaksikan sendiri relawan tersebut terluka parah akibat insiden itu.
Janji Pemerintah Pakistan dan Dampak Kemanusiaan
Menanggapi serangan teror yang keji ini, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif langsung mengeluarkan pernyataan keras. Ia bersumpah bahwa pemerintah akan memburu tuntas para pelaku dan pihak-pihak yang berada di balik serangan tersebut.
Sharif menegaskan bahwa keadilan harus ditegakkan dan para teroris tersebut akan diseret ke pengadilan untuk mempertanggungjawabkan perbuatan mereka. Komitmen pemerintah ini sangat penting untuk meredam ketegangan sektarian dan memastikan keamanan di ibu kota.
Sementara itu, suasana duka dan kepanikan terlihat jelas di Pakistan Institute of Medical Sciences (PIMS), rumah sakit utama yang menangani korban. Korban luka, termasuk anak-anak, terus berdatangan, diangkut menggunakan tandu atau dipapah oleh anggota keluarga dan petugas medis.
Banyak korban tiba dalam kondisi kritis, dengan pakaian yang robek dan berlumuran darah. Tragedi ini tidak hanya meninggalkan jejak fisik berupa luka-luka, tetapi juga trauma mendalam bagi seluruh komunitas Syiah di Islamabad, yang kini harus menghadapi ancaman terorisme yang nyata dan berkelanjutan.