Uptodai.com - Pengiriman minyak Iran ke China terus berlangsung secara masif meskipun situasi di Selat Hormuz saat ini sedang membara akibat konflik bersenjata. Jalur perairan paling krusial di dunia tersebut kini menjadi saksi bisu bagaimana jutaan barel emas hitam tetap mengalir ke Negeri Tirai Bambu. Para pengamat maritim mencatat aktivitas ini tetap tinggi di tengah risiko keamanan yang sangat ekstrem bagi para pelaut.

Berdasarkan data terbaru dari TankerTrackers, Iran tercatat telah mengirimkan sedikitnya 11,7 juta barel minyak mentah sejak perang pecah pada akhir Februari 2024. Seluruh muatan tersebut terdeteksi memiliki satu tujuan akhir yang pasti, yakni pelabuhan-pelabuhan di China. Fenomena ini menunjukkan bahwa ketergantungan energi antara kedua negara tetap kokoh meski berada di bawah tekanan geopolitik yang berat.

Taktik Kapal Hantu di Tengah Ancaman Perang

Para operator kapal tanker kini menggunakan taktik “menjadi gelap” untuk menghindari deteksi radar dan serangan potensial di wilayah konflik. Mereka sengaja mematikan Sistem Identifikasi Otomatis (AIS) sesaat setelah memasuki zona berbahaya di sekitar perairan Teheran. Langkah ini diambil untuk mengelabui pihak-pihak yang mencoba menghalangi jalur distribusi energi tersebut.

Samir Madani, Co-founder TankerTrackers, mengungkapkan bahwa pihaknya harus bekerja ekstra keras memantau pergerakan ini menggunakan citra satelit tingkat tinggi. Teknologi ini menjadi satu-satunya cara melacak kapal yang mencoba menghilang dari pantauan publik setelah adanya ancaman dari pihak Iran. Tanpa pemantauan satelit, pergerakan jutaan barel minyak ini mungkin tidak akan pernah terdeteksi oleh otoritas internasional.

“Banyak kapal telah mematikan sistem pelacakan mereka setelah Teheran mengancam akan menyerang kapal mana pun yang melintasi jalur tersebut,” ujar Madani. Langkah berisiko ini diambil demi memastikan pasokan energi tetap sampai ke tangan pembeli utama mereka di Asia. Ketegangan ini memaksa para nakhoda untuk menavigasi kapal dalam kondisi buta radar di salah satu jalur tersempit di dunia.

China Jadi Penampung Utama Minyak Iran

Senada dengan temuan TankerTrackers, lembaga intelijen pelayaran Kpler memperkirakan volume minyak yang lolos bahkan mencapai angka 12 juta barel. Meskipun proses identifikasi semakin rumit karena taktik kamuflase, China tetap menjadi tersangka utama penerima pasokan raksasa tersebut. Hal ini mempertegas posisi China sebagai penyerap utama energi dari wilayah Timur Tengah yang sedang bergejolak.

Nhway Khin Soe, Analis Minyak Mentah dari Kpler, menyebutkan bahwa hubungan dagang energi antara kedua negara memang sudah sangat kuat dalam beberapa tahun terakhir. Oleh karena itu, hampir bisa dipastikan bahwa sebagian besar barel minyak yang melewati Selat Hormuz akan berlabuh di China. Permintaan domestik China yang besar membuat mereka tetap bersedia mengambil risiko meskipun harus berhadapan dengan sanksi internasional.

Risiko Nyawa di Jalur Nadi Energi Dunia

Selat Hormuz memegang peranan vital karena menjadi jalur transportasi bagi sekitar seperlima kebutuhan minyak dan gas dunia setiap harinya. Namun, eskalasi militer yang meningkat drastis membuat lalu lintas pelayaran komersial di wilayah tersebut merosot ke titik terendah. Banyak perusahaan logistik global yang memilih untuk memutar jauh demi menghindari area yang terkepung perang.

Data dari Organisasi Maritim Internasional (IMO) menunjukkan gambaran yang mengerikan mengenai tingkat keamanan di sana. Sedikitnya sepuluh kapal telah menjadi sasaran serangan langsung dalam kurun waktu kurang dari dua minggu sejak konflik dimulai. Serangan-serangan ini melibatkan penggunaan drone hingga rudal jarak pendek yang menyasar bagian vital kapal tanker.

Insiden-insiden serangan tersebut dilaporkan telah merenggut nyawa sedikitnya tujuh pelaut yang sedang bertugas di atas kapal tanker. Kondisi ini membuat para operator kapal internasional cenderung menghindari wilayah tersebut jika tidak memiliki kepentingan mendesak atau perlindungan militer khusus. Nyawa para pelaut kini menjadi taruhan dalam perebutan pengaruh kekuasaan di jalur nadi energi dunia tersebut.

Posisi Iran dan Dampaknya Terhadap Harga Minyak Dunia

Di sisi lain, pemerintah Iran melalui juru bicara Kementerian Luar Negeri menegaskan bahwa keselamatan navigasi sepenuhnya merupakan tanggung jawab operator. Pernyataan tegas ini semakin menambah ketidakpastian bagi perusahaan asuransi dan pemilik kapal yang ingin melintas. Iran seolah memberikan sinyal bahwa mereka tidak akan menjamin keamanan bagi pihak-pihak yang dianggap berseberangan dengan kepentingan mereka.

Ketegangan yang terus berlanjut ini diprediksi akan memberikan tekanan besar pada harga minyak dunia dalam jangka pendek hingga menengah. Jika pasokan dari Selat Hormuz terhenti total, pasar energi global dipastikan akan mengalami guncangan hebat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Para pelaku pasar kini terus memantau setiap perkembangan di lapangan dengan penuh kekhawatiran.