Uptodai.com - Penjualan emas Freeport Indonesia 2025 tercatat mencapai 33 ton atau setara dengan 1,1 juta ounce sepanjang tahun tersebut. Angka ini menunjukkan bahwa perusahaan hanya mampu memenuhi sekitar 49 persen dari target awal yang dipatok sebesar 67 ton atau 2,2 juta ounce. Penurunan volume ini menjadi sorotan utama dalam laporan kinerja operasional perusahaan tambang raksasa yang beroperasi di Papua tersebut.

Selain komoditas emas, penjualan tembaga juga mengalami tren serupa dengan realisasi yang berada di bawah ekspektasi manajemen. Volume penjualan tembaga tercatat hanya menyentuh angka 1,2 miliar pon dari target yang ditetapkan sebesar 1,7 miliar pon. Hal ini menandakan pencapaian produksi tembaga hanya berada pada kisaran 71 persen sepanjang tahun fiskal 2025.

Penyebab Target Produksi Freeport Tidak Tercapai

Presiden Direktur PT Freeport Indonesia (PTFI), Tony Wenas, mengungkapkan bahwa kendala utama berasal dari insiden teknis serius di area tambang. Peristiwa luncuran material basah yang terjadi pada 8 September 2025 berdampak signifikan terhadap kelancaran arus operasional. Kejadian ini memaksa manajemen untuk mengambil langkah drastis demi menjamin keselamatan seluruh pekerja di lapangan.

Manajemen memutuskan untuk menghentikan total seluruh kegiatan operasional di semua titik penambangan segera setelah insiden maut tersebut terjadi. Langkah ini diambil untuk memastikan proses evakuasi dan pembersihan material berjalan dengan maksimal tanpa risiko tambahan bagi tim penyelamat. Operasional tambang baru kembali berdenyut pada 20 Oktober 2025 setelah seluruh korban berhasil ditemukan dan dipulangkan ke keluarga masing-masing.

Masa penghentian operasional yang memakan waktu lebih dari satu bulan tersebut secara otomatis memangkas total output tahunan perusahaan. Tony Wenas menegaskan bahwa prioritas utama saat itu adalah aspek kemanusiaan dan keselamatan kerja di atas target produksi semata. Meskipun berdampak pada angka penjualan, kebijakan ini dinilai sebagai bentuk tanggung jawab penuh perusahaan terhadap standar prosedur keselamatan tambang.

Lonjakan Harga Komoditas Jadi Penyelamat Pendapatan

Meskipun volume produksi mengalami tekanan hebat, kinerja keuangan perusahaan justru tertolong oleh dinamika pasar komoditas global. Harga emas dan tembaga dunia yang melonjak tajam sepanjang tahun 2025 menjadi bantalan yang kuat bagi total pendapatan Freeport. Situasi pasar ini membuat nilai penjualan tetap terjaga meskipun secara kuantitas fisik mengalami penurunan yang cukup dalam.

Harga emas dunia mencatatkan rekor dengan rata-rata mencapai US$3.418 per ounce atau melonjak hingga 180 persen dari asumsi awal perusahaan. Sementara itu, harga tembaga rata-rata bertengger di angka US$4,53 per pon, melampaui asumsi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) sebesar 121 persen. Kenaikan harga yang signifikan ini berhasil menutup celah potensi kerugian akibat berkurangnya volume produksi emas dan tembaga.

Berkat kenaikan harga tersebut, Freeport Indonesia berhasil membukukan total pendapatan penjualan sebesar US$8,6 miliar sepanjang tahun 2025. Angka ini merepresentasikan sekitar 83 persen dari target pendapatan tahunan yang telah direncanakan sebelumnya oleh manajemen. Menariknya, realisasi setoran kepada kas negara justru memberikan kejutan positif dengan melampaui ekspektasi yang ada di dalam dokumen anggaran.

Kontribusi Besar terhadap Penerimaan Negara

Realisasi penerimaan negara dari Freeport pada tahun 2025 mencapai US$4,3 miliar atau setara dengan 116 persen dari rencana semula. Pencapaian ini menjadi angin segar bagi postur APBN karena memberikan kontribusi yang lebih besar dari yang diproyeksikan. Tingginya setoran ini tidak lepas dari mekanisme kewajiban perpajakan yang dijalankan secara disiplin oleh perusahaan.

Tony Wenas menjelaskan bahwa pencapaian ini didorong oleh pembayaran pajak penghasilan badan yang dilakukan secara rutin setiap bulan. Besaran pajak tersebut mengacu pada hasil kinerja perusahaan yang sangat positif pada tahun 2024 sebelumnya. Dengan demikian, meskipun produksi 2025 terkendala, kewajiban fiskal tetap berjalan sesuai dengan regulasi perpajakan yang berlaku di Indonesia.

Ke depan, PT Freeport Indonesia berkomitmen untuk terus meningkatkan standar keselamatan kerja guna mencegah insiden serupa terulang kembali di masa depan. Perusahaan juga fokus pada optimalisasi fasilitas pengolahan dan pemurnian untuk mengejar ketertinggalan target produksi di periode mendatang. Sinergi antara operasional yang aman dan pemanfaatan momentum harga pasar menjadi kunci keberlanjutan bisnis tambang mereka.