Uptodai.com - Protes kematian Ayatollah Khamenei kini meluas ke berbagai negara setelah pemimpin tertinggi Iran tersebut tewas dalam sebuah serangan rudal yang mengejutkan dunia. Aksi massa yang semula berlangsung damai di beberapa titik berubah menjadi bentrokan berdarah antara demonstran dan aparat keamanan. Gelombang kemarahan ini dipicu oleh serangan udara Amerika Serikat (AS) dan Israel yang menyasar Teheran pada Sabtu lalu.

Kematian ulama Syiah berusia 86 tahun tersebut telah dikonfirmasi secara resmi pada hari Minggu. Khamenei, yang telah memimpin Iran sejak tahun 1989, merupakan figur sentral yang kematiannya memicu solidaritas lintas negara di kawasan Asia dan Timur Tengah. Di Pakistan, situasi paling mencekam dilaporkan terjadi di kota pelabuhan Karachi.

Bentrokan Berdarah di Konsulat Amerika Serikat

Sekelompok demonstran di Karachi mencoba menyerbu gedung konsulat Amerika Serikat sebagai bentuk protes keras atas keterlibatan Washington dalam serangan tersebut. Insiden tragis ini mengakibatkan sedikitnya delapan orang tewas dan 20 lainnya mengalami luka-luka serius. Sebagian besar korban dilaporkan menderita luka tembak saat aparat berusaha membubarkan massa yang mulai bertindak anarkis.

Massa yang didominasi oleh anak muda nekat memanjat gerbang utama kompleks konsulat untuk merangsek masuk ke area jalan utama. Mereka menghancurkan sejumlah jendela gedung utama sambil meneriakkan yel-yel anti-Amerika di bawah kibaran bendera AS yang masih bertengger di atas kompleks. Polisi akhirnya terpaksa menembakkan gas air mata untuk memukul mundur para pengunjuk rasa yang terus mencoba masuk.

Selain di Karachi, ribuan orang juga memadati jalanan di kota Lahore dan wilayah utara Skardu untuk menyuarakan kemarahan mereka. Ibu kota Pakistan, Islamabad, juga tidak luput dari aksi massa yang menuntut pertanggungjawaban internasional atas kematian sang pemimpin. Demonstrasi ini menunjukkan betapa kuatnya pengaruh spiritual Khamenei di kalangan komunitas Muslim di Asia Selatan.

Ketegangan di Zona Hijau Irak

Suasana di Baghdad, Irak, juga memanas seiring dengan upaya ratusan warga mengepung kompleks Kedutaan Besar Amerika Serikat. Otoritas keamanan Irak terpaksa memperketat penjagaan di area Zona Hijau yang sangat vital untuk mencegah massa masuk lebih jauh. Para demonstran yang mengenakan pakaian serba hitam membawa poster besar bergambar Khamenei sebagai simbol duka cita mendalam.

Salah satu demonstran menyatakan bahwa kemartiran Sayyed Ali Khamenei telah melukai perasaan umat di seluruh dunia. Mereka mendesak agar seluruh pasukan pendudukan Amerika Serikat segera ditarik dari tanah Irak tanpa syarat. Aksi pelemparan batu ke arah pasukan keamanan pun tak terhindarkan dalam unjuk rasa yang berlangsung sangat emosional tersebut.

Pihak keamanan Irak melaporkan bahwa upaya massa untuk menerobos barikade sejauh ini masih bisa digagalkan. Namun, gelombang massa baru terus berdatangan dari berbagai penjuru kota Baghdad menuju pusat pemerintahan. Situasi ini memaksa pemerintah setempat untuk menetapkan status siaga satu di titik-titik diplomatik asing.

Solidaritas dari Kashmir hingga Teheran

Di wilayah Kashmir yang dikuasai India, ribuan Muslim Syiah berkumpul di alun-alun utama kota Srinagar untuk memberikan penghormatan terakhir. Mereka membawa bendera berwarna merah, hitam, dan kuning sebagai simbol perlawanan dan duka cita yang mendalam. Meskipun suasana sangat emosional, aksi di wilayah ini terpantau berlangsung lebih tertib dibandingkan lokasi lainnya.

Para pengunjuk rasa di Srinagar terus meneriakkan slogan-slogan yang mengecam tindakan militer Israel dan Amerika Serikat. Mereka menganggap serangan rudal tersebut sebagai bentuk pelanggaran kedaulatan yang sangat berat terhadap bangsa Iran. Kesedihan mendalam terlihat jelas di wajah para peserta aksi yang merasa kehilangan sosok pemimpin spiritual yang karismatik.

Serangan yang menewaskan Khamenei di Teheran tidak hanya mengakhiri kepemimpinannya selama tiga dekade, tetapi juga memicu eskalasi konflik yang lebih luas. Beberapa laporan bahkan menyebutkan bahwa mantan Presiden Iran, Ahmadinejad, turut menjadi korban dalam rangkaian serangan udara yang sama. Kondisi ini membuat stabilitas keamanan di seluruh kawasan Timur Tengah kini berada pada titik terendah.

Sejumlah pemimpin dunia, termasuk Vladimir Putin dan Xi Jinping, telah menyampaikan kecaman keras atas tindakan sepihak AS dan Israel tersebut. Mereka memperingatkan bahwa pembunuhan tokoh politik dan agama secara terang-terangan dapat memicu perang terbuka yang sulit dikendalikan. Sementara itu, dunia internasional kini menanti langkah balasan yang mungkin diambil oleh militer Iran pasca-insiden mematikan ini.