Uptodai.com - Proyeksi terbaru dari tim ekonom LPEM FEB UI menunjukkan bahwa Ramalan Inflasi RI 2026 akan memperlihatkan pola yang kontras sepanjang tahun. Tekanan harga diperkirakan melonjak tajam pada periode awal, namun seiring berjalannya waktu, stabilitas harga akan kembali terbentuk.

Meskipun lonjakan inflasi pada kuartal pertama terasa signifikan, LPEM FEB UI memprediksi bahwa menjelang penutupan tahun, laju inflasi akan mereda. Mereka memperkirakan angka inflasi akhir tahun akan berada di kisaran 2,81% hingga 3,00% secara Year-on-Year (YoY).

Mengapa Inflasi Meledak di Awal Tahun?

Tekanan inflasi yang tinggi pada awal 2026, khususnya pada bulan Januari, dianalisis disebabkan oleh beberapa faktor yang saling berkaitan. Salah satu penyebab utamanya adalah low-base effect atau efek basis rendah yang terjadi setahun sebelumnya.

Efek Basis Rendah dan Gejolak Komoditas Global

Badan Pusat Statistik (BPS) mengonfirmasi bahwa inflasi Januari 2026 terasa tinggi karena rendahnya inflasi pada Januari 2025. Pada periode tersebut, pemerintah sempat menggulirkan kebijakan diskon tarif listrik yang menahan laju kenaikan harga.

Selain efek basis rendah yang memudar, tim ekonom LPEM FEB UI juga menyoroti peran harga komoditas global. Harga komoditas yang masih tinggi dan cenderung bergejolak di pasar internasional turut menyumbang tekanan inflasi domestik.

Depresiasi nilai tukar Rupiah juga menjadi faktor pendorong kenaikan harga. Pelemahan mata uang domestik ini secara langsung meningkatkan biaya impor, yang kemudian diteruskan kepada konsumen.

Sementara itu, risiko domestik yang dipicu oleh faktor alam turut memperparah situasi. Cuaca buruk dan bencana alam yang terjadi di beberapa wilayah strategis dapat mengganggu siklus panen, menghambat jalur logistik, serta merusak rantai distribusi pangan dan kebutuhan pokok lainnya.

Proyeksi Pelandaian dan Target Stabilitas Harga

Beranjak dari semester kedua, tekanan inflasi diperkirakan akan mulai melandai secara bertahap. Penurunan ini didukung oleh memudarnya efek basis rendah serta adanya perbaikan signifikan dalam tata kelola pasokan dan distribusi pangan.

LPEM FEB UI optimistis bahwa manajemen pasokan yang lebih baik akan meredakan gejolak harga pangan yang seringkali menjadi pemicu utama inflasi. Perbaikan ini mencakup operasi buffer pangan dan koordinasi yang lebih erat antarlembaga terkait.

Menjaga Ekspektasi dan Koordinasi Kebijakan

Proyeksi inflasi yang melandai ini sangat bergantung pada beberapa asumsi makroekonomi yang harus dipenuhi. Tim ekonom menekankan pentingnya tidak adanya guncangan harga besar yang terjadi secara tiba-tiba, terutama dari sektor energi atau pangan.

Stabilitas ini juga ditopang oleh ekspektasi publik yang tetap tertambat kuat oleh kebijakan moneter Bank Indonesia (BI). Kebijakan BI yang kredibel dianggap krusial untuk menjaga agar masyarakat tidak panik dan melakukan penimbunan atau spekulasi harga.

Risiko yang Mengintai Ramalan Inflasi RI 2026

Meskipun proyeksi akhir tahun terlihat cerah, tim ekonom mengingatkan bahwa risiko peningkatan inflasi tetap ada. Salah satu ancaman terbesar datang dari guncangan energi global yang berpotensi menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dan tarif transportasi domestik secara drastis.

Fluktuasi nilai tukar yang lebih tajam dari perkiraan juga dapat menimbulkan dampak yang meluas. Jika pelemahan Rupiah terjadi secara masif, dampaknya akan melampaui barang-barang impor dan memengaruhi hampir seluruh sektor perekonomian.

Selain itu, cuaca ekstrem domestik berpotensi mengubah inflasi harga pangan dari efek sementara menjadi masalah yang persisten. Hal ini terjadi jika gangguan cuaca merusak beberapa siklus panen berturut-turut atau melumpuhkan jalur transportasi utama dalam jangka waktu lama.

Batasan Daya Beli dan Stabilitas Emas Global

Di sisi lain, terdapat faktor-faktor yang secara alami dapat membatasi laju inflasi. Melemahnya daya beli rumah tangga, misalnya, dapat menjadi rem alami bagi kenaikan harga.

Kondisi ini membatasi kemampuan pelaku usaha untuk meneruskan kenaikan biaya produksi sepenuhnya kepada konsumen akhir. Sementara itu, stabilisasi harga emas global juga diharapkan dapat meredakan tekanan pada inflasi inti, yang sempat relatif lebih tinggi dari biasanya pada tahun sebelumnya.

Terkait potensi efek nilai tukar Rupiah, tim ekonom LPEM FEB UI menilai dampaknya terhadap inflasi inti masih terbatas. Elastisitas nilai tukar terhadap inflasi inti diestimasikan belum terlalu besar, memberikan sedikit ruang gerak bagi otoritas moneter.