Uptodai.com - Ambisi Indonesia untuk menggarap ‘harta karun langka’ berupa Logam Tanah Jarang (LTJ) menghadapi tantangan serius di tingkat global. Meskipun memiliki potensi sumber daya yang besar, Indonesia terbentur pada ketersediaan teknologi pengolahan Logam Tanah Jarang yang sangat dijaga ketat oleh negara-negara maju.

Pemerintah Indonesia telah berupaya keras menjalin komunikasi dengan berbagai negara produsen utama. Sayangnya, mayoritas negara tersebut menolak keras untuk berbagi teknologi pemisahan maupun investasi pengolahan di Tanah Air. Penolakan ini muncul karena mereka ingin memastikan nilai tambah yang tinggi dari mineral kritis tersebut tetap berada di negara mereka sendiri.

Mengapa Teknologi Pengolahan Logam Tanah Jarang Begitu Tertutup?

Kepala Badan Intelijen Mineral (BIM), Brian Yuliarto, menjelaskan bahwa pihaknya telah melakukan serangkaian pembicaraan intensif untuk menjajaki kerja sama pengembangan LTJ. Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi XII DPR RI di Jakarta, Senin (9/2/2026), Brian mengungkapkan bahwa hampir semua negara hanya bersedia membeli bahan mentah.

Mereka berkeinginan untuk mengelola mineral yang mengandung LTJ tersebut di negaranya masing-masing, bukan di Indonesia. Hal ini disebabkan oleh kompleksitas teknologi yang dibutuhkan. Teknologi pemisahan LTJ menjadi mineral tunggal (single mineral element) dinilai sangat rumit dan sulit untuk dikuasai.

Kondisi ini sangat berbeda jika dibandingkan dengan mineral lain yang teknologinya relatif lebih mudah didapatkan atau dibeli di pasar global. Oleh sebab itu, penguasaan teknologi LTJ saat ini menjadi aset strategis yang sangat dilindungi oleh negara-negara produsen utama, mengingat peran krusial LTJ dalam industri pertahanan, kendaraan listrik, hingga teknologi digital.

Indonesia saat ini sudah mampu menghasilkan Mix Rare Earth Oxide, namun belum bisa memisahkan hingga menjadi elemen tunggal. Pemisahan hingga level elemen inilah yang menjadi kunci untuk mendapatkan nilai ekonomi tertinggi dan memutus ketergantungan pada rantai pasok global.

Strategi Hilirisasi Mineral Langka dan Pembentukan PERMINAS

Keterbatasan akses terhadap teknologi pengolahan Logam Tanah Jarang memaksa Indonesia menyusun strategi mandiri. Salah satu langkah konkret yang diambil adalah dengan mengoptimalkan riset dalam negeri dan membentuk entitas khusus yang fokus pada sektor ini.

Danantara, entitas yang ditugaskan, telah membentuk PT Pertambangan Mineral Nasional (PERMINAS). Perusahaan ini diamanatkan untuk membangun industri pemisahan dan pemurnian LTJ di dalam negeri. PERMINAS juga tengah menyiapkan proyek percontohan (pilot project) teknologi hilirisasi di Mamuju, Sulawesi Barat.

Meskipun sulit mendapatkan transfer teknologi secara langsung, Brian Yuliarto membeberkan bahwa BIM sedang mencoba membujuk beberapa negara dengan menawarkan timbal balik yang menarik. Timbal balik utama yang ditawarkan adalah kesempatan bagi negara mitra untuk menjadi offtaker (pembeli) utama hasil olahan LTJ Indonesia.

Strategi ini diharapkan dapat membuka pintu bagi transfer teknologi secara bertahap, atau setidaknya memfasilitasi investasi yang memungkinkan Indonesia membangun infrastruktur pemurnian sendiri. Indonesia harus pandai bernegosiasi mengingat posisi LTJ sebagai mineral vital bagi masa depan industri global.

Jejak Kemitraan Global Indonesia dalam Perburuan Teknologi LTJ

Meskipun dihadapkan pada penolakan teknologi, BIM tidak berhenti menjalin kemitraan dengan berbagai pihak internasional. Kemitraan ini disusun dengan peran yang spesifik, mulai dari calon pembeli hingga calon mitra teknologi dan investasi. Berikut adalah daftar negara dan entitas yang tengah dijajaki oleh Indonesia:

Australia: Melibatkan Iluka dan Lynas Rare Earths sebagai calon offtaker (pembeli).

Jepang: Berkolaborasi dengan Iwatani (calon offtaker) dan Jogmec (calon mitra investasi dan calon offtaker), menunjukkan minat Jepang yang besar terhadap pasokan LTJ yang stabil.

Prancis: Menjajaki Carester sebagai calon mitra teknologi sekaligus calon offtaker.

Finlandia: Melibatkan Metso sebagai calon mitra teknologi yang potensial dalam proses pemisahan.

Rusia: Bernegosiasi dengan Rusal sebagai calon mitra teknologi dan calon offtaker.

China: Melibatkan Minmetals (calon mitra investasi dan calon offtaker) dan Landmark Green Energy Pte. Ltd. (calon offtaker). China, sebagai pemain utama LTJ global, tetap menjadi target penting dalam skema investasi.

UAE dan Kanada: Melibatkan New Energy Metal dari UAE (calon mitra investasi dan offtaker/supplier) serta Saskatchewan Research Council/SRC dari Kanada (calon mitra teknologi dan offtaker).