Uptodai.com - Mantan Gubernur DKI Jakarta periode 1997-2007, Sutiyoso, tiba-tiba muncul di kawasan Jalan Rasuna Said, Kuningan, Jakarta. Kehadiran Sutiyoso pembongkaran tiang monorel yang mangkrak menjadi sorotan utama. Ia datang untuk menyaksikan langsung proses perobohan pilar-pilar beton yang telah belasan tahun merusak estetika ibu kota.

Pria yang akrab disapa Bang Yos ini tidak dapat menyembunyikan rasa leganya melihat tiang-tiang yang pernah ia gagas itu akhirnya ditertibkan. Ia mengungkapkan bahwa kepastian pembongkaran tersebut telah lama dinantikan olehnya dan masyarakat Jakarta. Secara terbuka, Bang Yos menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta yang kini berani mengambil keputusan tegas tersebut.

“Jujur saja hari ini, hati saya tuh lega sekali,” ujar Bang Yos dalam sesi konferensi pers di lokasi, Rabu (14/1/2026). “Dengan adanya kepastian yang dicanangkan oleh Pak Gubernur [saat ini] soal pembongkaran tiang monorel di Rasuna Said, ini demi keamanan dan kenyamanan bersama,” tambahnya, menekankan aspek keselamatan publik.

Mengurai Sejarah Gagasan Transportasi Sutiyoso

Sutiyoso kemudian menengok kembali ke belakang, menceritakan bagaimana gagasan monorel ini muncul pada awal tahun 2000-an. Saat itu, Pemprov DKI Jakarta tengah mencari solusi jangka panjang dan terintegrasi untuk mengatasi kemacetan kronis yang mulai melanda ibu kota.

Ia mengumpulkan sejumlah pakar dan pengamat transportasi dari berbagai universitas untuk merancang jaringan transportasi makro. Berdasarkan kajian mendalam tersebut, Bang Yos memutuskan bahwa jaringan transportasi ibu kota harus terdiri dari empat moda utama yang saling terintegrasi.

Moda paling besar direncanakan adalah MRT bawah tanah, diikuti oleh monorel yang berjalan di atas, serta Busway (Transjakarta) dengan 15 koridor di bawah jalan raya. Sebagai pelengkap, moda alternatif berupa waterway (transportasi air) juga dimasukkan dalam rencana induk tersebut, menjadikannya cetak biru transportasi yang ambisius pada masanya.

Alasan Pembongkaran Tiang Monorel di Rasuna Said

Demi memastikan kelayakan proyek, Sutiyoso mengaku sempat melakukan studi banding ke beberapa negara yang sukses mengoperasikan moda serupa. Negara-negara seperti Kolombia, Filipina, dan Thailand menjadi referensi utama dalam menentukan desain dan operasional monorel yang dianggap cocok untuk Jakarta.

Proyek pembangunan tiang monorel ini sendiri mulai digarap pada tahun 2004. Sayangnya, karena terkendala masalah pendanaan dan perbedaan pandangan antara Pemprov DKI dengan pihak konsorsium, proyek tersebut tidak dapat dilanjutkan.

Sejak tahun 2007, tiang-tiang beton ini pun terbengkalai, menjadi saksi bisu kegagalan pembangunan transportasi massal. Keberadaan tiang-tiang ini selama hampir dua dekade menimbulkan risiko keamanan struktural, menghambat pelebaran jalan, dan tentu saja mengganggu pemandangan kota di salah satu kawasan bisnis utama Jakarta.

Oleh karena itu, langkah tegas Pemprov DKI untuk melakukan pembongkaran tiang monorel ini disambut baik oleh masyarakat, termasuk penggagas awalnya, Sutiyoso. Penghapusan pilar-pilar ini diharapkan dapat mengembalikan fungsi jalan secara optimal dan meningkatkan kenyamanan pengguna jalan di kawasan Rasuna Said.