Uptodai.com - Transaksi mata uang lokal haji menjadi solusi strategis yang diusulkan Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Kepala BPKH Fadlul Imansyah menyarankan Bank Indonesia (BI) segera meresmikan kerja sama Local Currency Transaction (LCT) dengan pemerintah Arab Saudi. Langkah ini bertujuan agar pengeluaran besar untuk ibadah haji tidak lagi membebani cadangan dolar Amerika Serikat (AS).

Fadlul menyampaikan usulan tersebut dalam forum CNBC Indonesia Economic Outlook 2026 yang berlangsung di Jakarta, Selasa (10/2/2026). Ia mengungkapkan bahwa pihaknya telah mendiskusikan rencana ini secara intensif dengan jajaran pimpinan Bank Indonesia. Skema ini dinilai mendesak mengingat fluktuasi kurs sering kali mengganggu perencanaan anggaran haji nasional setiap tahunnya.

Mengurangi Ketergantungan pada Dolar AS

Total pengeluaran haji setiap tahunnya mencapai angka yang sangat fantastis, yakni berada di kisaran Rp20 triliun. Anggaran tersebut mencakup berbagai kebutuhan krusial mulai dari biaya transportasi udara hingga akomodasi jamaah selama berada di tanah suci. Sayangnya, mayoritas dari dana jumbo tersebut masih harus dikonversi ke mata uang asing sebelum bisa digunakan di Arab Saudi.

Fadlul merinci bahwa sekitar 80 persen dari total pengeluaran tersebut berbasis pada mata uang dolar AS dan Riyal Saudi. Kondisi ini memaksa BPKH untuk terus berburu dolar di pasar valuta asing setiap kali musim haji tiba. Akibatnya, permintaan terhadap dolar AS melonjak tajam dan memberikan tekanan tambahan pada posisi nilai tukar rupiah terhadap mata uang global.

Apabila skema transaksi mata uang lokal haji berhasil diterapkan, Indonesia bisa langsung membayar kebutuhan haji menggunakan rupiah. Pihak penerima di Arab Saudi nantinya akan menerima pembayaran dalam bentuk Riyal tanpa melalui perantara dolar AS. Hal ini akan memangkas rantai konversi mata uang yang selama ini dianggap kurang efisien dan berisiko tinggi.

Menghindari Kompetisi dengan Importir Besar

Penerapan LCT akan membuat BPKH tidak perlu lagi bersaing dengan para importir besar seperti Pertamina atau PLN dalam mendapatkan pasokan dolar. Persaingan antar instansi dalam memperebutkan dolar di pasar domestik selama ini sering memicu volatilitas kurs yang tidak sehat. Dengan rupiah, beban permintaan terhadap dolar AS di dalam negeri dipastikan akan menurun secara signifikan.

Pihak BPKH mendapatkan informasi bahwa saat ini Bank Indonesia dan bank sentral Arab Saudi sedang dalam proses penyusunan Nota Kesepahaman (MoU). Proses diplomasi ekonomi ini menjadi pekerjaan rumah terbesar untuk memastikan kelancaran transaksi keuangan antar kedua negara di masa depan. Jika kesepakatan ini diteken, kontribusi terhadap pergerakan rupiah dipastikan akan jauh lebih stabil dan terukur.

Perluasan Kerja Sama LCT Bank Indonesia

Bank Indonesia sendiri sebenarnya telah gencar menjalin kerja sama transaksi mata uang lokal dengan berbagai negara mitra sejak tahun 2023. Hingga saat ini, beberapa negara seperti Malaysia, Thailand, Jepang, dan China telah resmi menerapkan sistem pembayaran tanpa dolar ini. Selain itu, Singapura, Korea Selatan, India, dan Uni Emirat Arab juga sudah masuk dalam daftar mitra strategis LCT Indonesia.

Kehadiran Arab Saudi dalam daftar mitra LCT tentu akan memberikan dampak positif yang sangat signifikan bagi ketahanan ekonomi nasional. Mengingat kuota haji Indonesia merupakan yang terbesar di dunia, volume transaksi yang dihasilkan dari sektor ini sangatlah masif. Implementasi kebijakan ini diharapkan mampu melindungi dana jamaah dari risiko kerugian akibat pelemahan nilai tukar yang mendadak.