AS Ungkap Dugaan Uji Coba Nuklir Bawah Tanah China Saat Pandemi
Uptodai.com - Pemerintah Amerika Serikat baru saja mengungkap dugaan kuat mengenai uji coba nuklir bawah tanah China yang dilakukan secara rahasia di tengah puncak pandemi COVID-19 tahun 2020 lalu. Laporan ini mencuat setelah intelijen AS menganalisis data seismik dari stasiun pemantau jarak jauh yang menangkap getaran tidak wajar di wilayah China barat.
Asisten Menteri Luar Negeri AS, Christopher Yeaw, memaparkan temuan tersebut dalam sebuah forum di Hudson Institute, Washington. Ia menyebutkan bahwa stasiun seismik di Kazakhstan mendeteksi peristiwa berkekuatan magnitudo 2,75 pada tanggal 22 Juni 2020. Getaran ini memicu kecurigaan besar di kalangan pakar militer Pentagon.
Lokasi sumber getaran tersebut berada di kawasan Lop Nor, sebuah situs yang selama ini dikenal sebagai tempat pengujian senjata nuklir milik Beijing. Jaraknya sekitar 720 kilometer dari stasiun pemantau, namun intensitasnya cukup untuk memicu alarm kewaspadaan otoritas keamanan internasional. Yeaw menegaskan bahwa kemungkinan besar peristiwa itu bukanlah fenomena alam biasa.
Analisis Teknis Getaran di Lop Nor
Christopher Yeaw menyatakan bahwa data tambahan yang ia tinjau memperkuat keyakinan pihak Amerika Serikat. Karakteristik gelombang seismik tersebut menunjukkan perbedaan signifikan dibandingkan dengan aktivitas pertambangan pada umumnya. Hal ini mengarahkan pada kesimpulan adanya aktivitas militer yang disengaja di bawah permukaan tanah.
Pakar intelijen menilai bahwa pola getaran tersebut sama sekali tidak konsisten dengan gempa bumi tektonik yang sering terjadi di wilayah tersebut. Sebaliknya, data itu justru mencerminkan apa yang diharapkan para ahli dari sebuah ledakan nuklir terkendali. Klaim ini tentu menambah babak baru dalam ketegangan nuklir AS dan China yang kian memanas.
Meskipun demikian, Organisasi Perjanjian Pelarangan Uji Coba Nuklir Komprehensif (CTBTO) memberikan pandangan yang lebih berhati-hati. Sekretaris Eksekutif CTBTO, Robert Floyd, menjelaskan bahwa stasiun pemantau mereka hanya mencatat dua peristiwa seismik yang sangat kecil. Jeda waktu antar getaran tersebut tercatat hanya sekitar 12 detik.
Keraguan dari Pihak Independen
Robert Floyd menekankan bahwa data yang tersedia saat ini belum cukup untuk memberikan penilaian secara meyakinkan. Kedua peristiwa seismik tersebut berada jauh di bawah ambang batas deteksi yang biasanya dikaitkan dengan uji coba nuklir berskala besar. Oleh karena itu, CTBTO belum bisa memverifikasi klaim sepihak dari Amerika Serikat tersebut.
Ketidakpastian ini menciptakan perdebatan sengit di antara para pengamat keamanan internasional mengenai transparansi militer China. Tanpa akses langsung ke situs Lop Nor, komunitas global hanya bisa berspekulasi berdasarkan data satelit dan sensor jarak jauh. Kondisi ini memperumit upaya perlucutan senjata nuklir di tingkat global.
Reaksi Keras Pemerintah China
Pemerintah China segera memberikan bantahan keras melalui juru bicara Kedutaan Besar mereka di Washington, Liu Pengyu. Ia menyebut tuduhan Amerika Serikat sebagai tindakan yang sama sekali tidak berdasar dan bermuatan kepentingan politik tertentu. Beijing memandang langkah ini sebagai upaya Washington untuk menyudutkan posisi mereka di mata dunia.
Liu Pengyu menuding balik bahwa Amerika Serikat sedang melakukan manipulasi politik demi mengejar hegemoni nuklir. Menurutnya, Washington berusaha menghindari tanggung jawab atas perlucutan senjata nuklirnya sendiri dengan cara melemparkan isu negatif kepada negara lain. China mendesak AS untuk kembali pada komitmen internasional yang telah disepakati.
Pihak China juga menegaskan bahwa mereka tetap mematuhi semangat perjanjian internasional meskipun belum meratifikasi dokumen tahun 1996 tersebut. Mereka mengklaim bahwa uji coba nuklir terakhir yang dilakukan secara resmi terjadi pada tahun 1996. Sejak saat itu, Beijing menyatakan hanya fokus pada pengembangan teknologi pertahanan yang bersifat preventif.
Ambisi Nuklir dan Persaingan Global
Isu uji coba nuklir bawah tanah China ini muncul di tengah kekhawatiran global mengenai berakhirnya perjanjian pembatasan senjata nuklir New START. Mantan Presiden Donald Trump sebelumnya sempat mendesak agar Beijing ikut serta dalam negosiasi senjata nuklir bersama Rusia. Namun, permintaan tersebut selalu ditolak oleh pihak China dengan berbagai alasan diplomatik.
Pentagon sendiri memperkirakan bahwa China kini memiliki lebih dari 600 hulu ledak nuklir operasional yang siap digunakan. Angka ini diprediksi akan terus meningkat tajam hingga mencapai lebih dari 1.000 hulu ledak pada tahun 2030 mendatang. Pertumbuhan pesat ini menjadi sinyal kuat bahwa persaingan persenjataan di kawasan Asia Timur akan semakin intens.
Ketegangan ini menunjukkan betapa rapuhnya stabilitas keamanan dunia saat negara-negara besar mulai meragukan komitmen satu sama lain. Transparansi dan dialog antarnegara menjadi kunci utama untuk mencegah terjadinya perlombaan senjata yang merugikan. Publik internasional kini menunggu langkah selanjutnya dari badan pengawas nuklir dunia untuk menuntaskan misteri di Lop Nor.