Uptodai.com - Pencapaian status WHO Listed Authority BPOM kini menjadi sorotan dunia internasional setelah otoritas pengawas obat Indonesia tersebut berhasil memenuhi standar global tertinggi. Keberhasilan ini menempatkan Indonesia sebagai negara berkembang pertama yang sistem regulasi farmasinya diakui secara penuh oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Deputi Bidang Pengawasan Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor, dan Zat Adiktif BPOM, William Adi Teja, mengungkapkan ketertarikan banyak negara asing terhadap sistem regulasi di tanah air. Mereka secara khusus datang ke Indonesia untuk mempelajari proses dan efisiensi regulasi yang diterapkan oleh BPOM hingga mencapai standar WLA.

Beberapa negara yang menunjukkan minat besar antara lain berasal dari kawasan Timur Tengah, Asia, hingga Afrika. Bahkan, negara dengan sistem kesehatan maju seperti Jepang dan Singapura juga ingin mendalami bagaimana Indonesia mampu meraih pengakuan bergengsi tersebut secara efektif.

Dampak Strategis Status WHO Listed Authority BPOM bagi Ekonomi

Melalui perolehan status WHO Listed Authority BPOM ini, lembaga pengawas tersebut tidak lagi hanya berperan sebagai regulator domestik semata. BPOM kini memiliki peran krusial dalam mendukung kontribusi sektor kesehatan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional yang ditargetkan mencapai 8 persen.

Sektor farmasi di Indonesia sendiri mencatatkan performa yang sangat impresif sepanjang tahun lalu. Pertumbuhan di sektor ini mencapai angka 10 persen, sebuah pencapaian yang diharapkan dapat terus menjadi motor penggerak ekonomi nasional di masa depan.

William menjelaskan bahwa pertumbuhan yang stabil di sektor farmasi akan memberikan efek domino bagi industri terkait lainnya. Dengan standar yang sudah diakui dunia, kepercayaan investor terhadap ekosistem kesehatan di Indonesia juga diprediksi akan semakin meningkat tajam.

Mendorong Ekspor Farmasi ke Pasar Global

Pemerintah berharap pengakuan internasional ini dapat membuka pintu lebar-lebar bagi produsen farmasi lokal untuk menembus pasar global. Produk obat dan vaksin buatan industri dalam negeri kini memiliki kredibilitas tinggi yang setara dengan produk dari negara-negara maju.

Dengan adanya status WHO Listed Authority BPOM, produk kesehatan asal Indonesia dapat lebih mudah masuk ke dalam daftar produk yang direkomendasikan oleh WHO. Hal ini tentu akan memangkas berbagai hambatan birokrasi dan teknis saat perusahaan lokal melakukan ekspansi ekspor ke mancanegara.

Selain itu, pencapaian ini memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok kesehatan global, terutama dalam menghadapi situasi darurat medis. Kemandirian obat dan vaksin di dalam negeri menjadi lebih terjamin karena proses produksinya telah diawasi oleh lembaga dengan standar otoritas tertinggi.

Reputasi Internasional dan Diplomasi Kesehatan

Keberhasilan BPOM mengantongi status WLA juga memberikan dampak positif pada citra diplomasi kesehatan Indonesia di kancah internasional. Indonesia kini dipandang sebagai pemimpin bagi negara-negara berpendapatan rendah dan menengah dalam memperkuat sistem regulasi nasional.

Standar WLA memberikan jaminan bahwa setiap produk farmasi yang beredar dan diekspor dari Indonesia telah melalui pengujian ketat. Hal ini mencakup seluruh aspek, mulai dari pengawasan bahan baku, proses manufaktur, hingga pengawasan keamanan produk di tangan konsumen.

Langkah ini diharapkan menjadi inspirasi bagi banyak negara lain untuk terus meningkatkan standar keamanan obat mereka. BPOM berkomitmen untuk terus berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan negara-negara sahabat demi terciptanya keamanan kesehatan global yang lebih baik.