Taktik Militer Donald Trump di Iran Disebut Mirip Strategi Putin
Uptodai.com - Taktik militer Donald Trump terhadap Iran kini menjadi sorotan dunia karena dinilai memiliki kemiripan yang mencolok dengan strategi Vladimir Putin di Ukraina. Meskipun skala operasinya berbeda, para pengamat internasional melihat adanya pola yang identik dalam pergeseran narasi dan tujuan politik Washington. Amerika Serikat saat ini tampak mulai mengadopsi pendekatan yang lebih agresif untuk menekan rezim Teheran secara total.
Ketegangan ini semakin memanas setelah Washington mengubah alasan utama mereka melakukan intervensi militer di kawasan Timur Tengah. Awalnya, pemerintah Amerika Serikat berdalih bahwa serangan udara mereka hanya bertujuan untuk mencegah pengembangan senjata nuklir Iran. Namun, seiring berjalannya waktu, ambisi tersebut berkembang menjadi upaya nyata untuk menggulingkan kekuasaan rezim yang berkuasa.
Pergeseran Narasi dari Isu Nuklir ke Penggulingan Kekuasaan
Presiden terpilih Donald Trump secara terbuka menyatakan bahwa stabilitas kawasan hanya akan tercapai jika kepemimpinan Iran saat ini segera diganti. Ia menuntut penyerahan diri tanpa syarat dari pihak Teheran guna mengakhiri eskalasi yang terus meningkat. Pernyataan ini mencerminkan ambisi besar Washington yang melampaui sekadar pengawasan fasilitas nuklir atau pelemahan kelompok proksi Iran.
Pola perubahan narasi ini mengingatkan publik pada langkah Kremlin saat meluncurkan invasi ke Ukraina pada Februari 2022 silam. Kala itu, Vladimir Putin awalnya berdalih ingin melakukan demiliterisasi demi keamanan nasional Rusia. Namun, dalam waktu singkat, tujuan tersebut berubah menjadi upaya aneksasi wilayah dan perlindungan warga penutur bahasa Rusia.
Retorika “Mengakhiri Perang” yang Identik dengan Kremlin
Kemiripan strategi ini juga terlihat jelas dalam pilihan kata yang digunakan oleh para petinggi militer kedua negara. Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, menegaskan bahwa Amerika Serikat memiliki mandat kuat untuk menyelesaikan kekacauan di Timur Tengah. Ia mengeklaim bahwa posisi Amerika di bawah kepemimpinan Trump adalah untuk menuntaskan konflik yang sudah ada.
“Kami tidak memulai perang ini, tetapi di bawah Presiden Trump, kami akan menyelesaikannya,” ujar Hegseth dalam sebuah pengarahan resmi. Ucapan tersebut hampir tidak berbeda dengan pernyataan Vladimir Putin saat membenarkan tindakan militernya di depan komunitas internasional. Putin berulang kali mengeklaim bahwa Rusia hanya mencoba mengakhiri perang yang diklaim telah dimulai oleh pihak Barat.
Risiko Salah Perhitungan dalam Durasi Konflik
Selain kesamaan retorika, kedua pemimpin ini juga menunjukkan kecenderungan untuk meremehkan durasi serta kompleksitas konflik bersenjata. Vladimir Putin awalnya memprediksi bahwa Kyiv akan jatuh dalam hitungan minggu melalui serangan kilat yang masif. Kenyataannya, perang di Ukraina justru berlarut-larut hingga bertahun-tahun dan menguras sumber daya ekonomi Rusia secara signifikan.
Di sisi lain, Donald Trump dan tim penasihat militernya tampak sangat percaya diri bahwa tekanan maksimal akan membuat Iran tunduk dengan cepat. Mereka memandang serangan udara dan sanksi ekonomi berat sebagai instrumen efektif untuk memaksa Teheran menyerah. Namun, para pakar memperingatkan bahwa meremehkan ketahanan lawan dapat menjebak Amerika Serikat dalam perang panjang yang tidak berujung.
Eskalasi ini berpotensi memicu ketidakstabilan ekonomi global, terutama terkait pasokan energi dari kawasan Teluk. Jika taktik militer Donald Trump benar-benar mengarah pada konfrontasi terbuka, maka harga minyak dunia diprediksi akan melonjak tajam. Dunia kini menanti apakah Washington akan benar-benar “mengukrainakan” Iran atau memilih jalur diplomasi yang lebih moderat.