Alasan Kenaikan Harga Pertamax: Pertamina Buka Suara
Uptodai.com - Pihak BUMN akhirnya membeberkan secara rinci mengenai alasan kenaikan harga pertamax yang belakangan ini menjadi sorotan tajam masyarakat Indonesia. Langkah penyesuaian ini terpaksa diambil akibat lonjakan harga minyak mentah dunia yang dipicu oleh eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah. Pertamina Patra Niaga menegaskan bahwa keputusan ini sangat krusial demi menjaga stabilitas pasokan energi di dalam negeri.
VP Commercial & Shipping Business Development Pertamina Patra Niaga, Sigit Setiawan, mengungkapkan bahwa harga keekonomian Pertamax (RON 92) sebenarnya telah menembus angka Rp20.000 hingga Rp21.000 per liter. Selama ini, korporasi telah berupaya keras menahan harga jual eceran di angka Rp12.300 per liter demi menjaga daya beli masyarakat. Namun, selisih harga yang terlampau jauh membuat beban operasional perusahaan semakin tidak realistis untuk dipertahankan lebih lama.
Dampak Konflik Geopolitik Global Terhadap Sektor Energi
Ketegangan militer antara Israel dan Iran yang pecah sejak akhir Februari 2026 menjadi katalis utama melambungnya harga minyak mentah di pasar internasional. Ketika produk bahan bakar non-subsidi lainnya sudah mengalami penyesuaian tarif sejak April lalu, Pertamax menjadi varian terakhir yang disesuaikan harganya menjadi Rp16.250 per liter. Kendati demikian, harga baru ini sejatinya masih berada jauh di bawah nilai keekonomian riil yang ada di pasar global saat ini.
Sebagai informasi tambahan, pergerakan harga minyak mentah dunia sangat memengaruhi Indonesia Crude Price (ICP) yang menjadi acuan APBN. Ketika ICP melonjak, biaya impor bahan baku minyak otomatis membengkak drastis bagi negara net-importir seperti Indonesia. Situasi dilematis ini tidak hanya dihadapi oleh Indonesia, melainkan juga oleh berbagai negara di Asia Tenggara yang harus menyeimbangkan anggaran negara dengan daya beli publik.
Menjaga Ketahanan Stok BBM Nasional
Secara regulasi, komoditas BBM non-subsidi tidak mendapatkan sokongan dana atau bantuan fiskal dari kas negara. Oleh karena itu, Pertamina wajib menerapkan skema harga pasar agar memiliki kemampuan finansial untuk membeli kembali bahan baku di pasar internasional. Jika harga jual domestik terus dipaksakan di bawah modal beli, volume impor dipastikan menyusut dan memicu kelangkaan BBM secara nasional.
Kekhawatiran terbesar dari disparitas harga ini adalah terjadinya migrasi konsumen secara besar-besaran dari Pertamax ke BBM bersubsidi seperti Pertalite. Jika hal tersebut terjadi, beban kuota subsidi energi pemerintah diproyeksikan akan jebol sebelum akhir tahun anggaran berjalan. Pemerintah bersama Pertamina kini terus mematangkan skema penyaluran BBM bersubsidi agar lebih tepat sasaran guna mengantisipasi lonjakan permintaan tersebut.
Melalui koordinasi intensif bersama pemerintah, Pertamina akhirnya menetapkan kebijakan penyesuaian harga secara terukur dan bertahap. Langkah preventif ini diambil agar ketersediaan produk energi di SPBU tetap terjamin, terutama saat memasuki masa puncak permintaan masyarakat. Perusahaan berkomitmen untuk terus memantau pergerakan pasar global guna menentukan kebijakan harga yang paling adil bagi konsumen domestik.