Uptodai.com - Kisah mengenai Kerang Ming berusia 507 tahun adalah salah satu penemuan biologi paling menakjubkan sekaligus menyayat hati dalam sejarah modern. Kerang laut jenis ocean quahog (Arctica islandica) ini pertama kali ditemukan pada tahun 2006 di perairan lepas pantai Islandia.

Penemuannya segera menarik perhatian dunia karena potensi usianya yang luar biasa. Para ilmuwan menduga bahwa makhluk kecil ini mungkin telah menyaksikan sejarah dunia bergulir selama berabad-abad, menjadikannya spesimen yang tak ternilai harganya.

Metode Ilmiah Menghitung Usia Setengah Milenium

Tim ilmuwan dari Bangor University, Inggris, segera melakukan penelitian mendalam untuk menentukan usia pastinya. Mereka menggunakan metode analisis pola pertumbuhan pada cangkang kerang, sebuah teknik yang dikenal sebagai sclerochronology.

Teknik ini bekerja mirip dengan cara menghitung lingkaran tahunan pada batang pohon, di mana setiap garis pada cangkang mewakili satu tahun kehidupan. Analisis awal sempat menaksir usia Ming berada di kisaran 405 hingga 410 tahun.

Namun, analisis lanjutan yang dilakukan beberapa tahun kemudian menghasilkan data yang jauh lebih mengejutkan. Data tersebut mengonfirmasi bahwa usia kerang tersebut mencapai setidaknya 507 tahun. Dengan usia setengah milenium, Ming secara resmi menjadi hewan non-kolonial tertua yang pernah tercatat di dunia.

Hidup Sezaman dengan Tokoh Besar Dunia

Nama “Ming” diberikan oleh para jurnalis sebagai penghormatan kepada Dinasti Ming di Tiongkok. Dinasti tersebut bahkan masih berjaya lebih dari satu abad setelah kerang ini diperkirakan lahir sekitar tahun 1499.

Ini berarti, Ming menyaksikan secara pasif berbagai peristiwa bersejarah dunia, mulai dari Renaisans hingga era modern. Kerang purba ini hidup sezaman dengan penjelajah seperti Christopher Columbus dan seniman legendaris Leonardo da Vinci.

Ia juga masih bertahan hingga era modern, melintasi masa hidup Abraham Lincoln, Mahatma Gandhi, hingga ilmuwan terkemuka Stephen Hawking. Usianya yang panjang menjadikannya kapsul waktu biologis yang tak ternilai harganya bagi penelitian perubahan iklim dan evolusi.

Akhir Tragis Sang Ocean Quahog

Sayangnya, perjalanan hidup Ming harus berakhir secara tragis saat proses penelitian berlangsung. Saat tim ilmuwan hendak meneliti lebih lanjut pada tahun 2007, mereka menduga kerang tersebut telah mati.

Kematian ini terjadi akibat proses pembekuan yang dilakukan saat pengambilan sampel beberapa tahun sebelumnya, sebuah prosedur standar dalam penelitian spesies laut. Profesor James Scourse dari Bangor University mengungkapkan bahwa timnya sempat menerima kritik keras dari publik.

Mereka dituduh sebagai “pembunuh kerang” karena mengakhiri kehidupan makhluk tertua di dunia. Meskipun demikian, para peneliti membela diri dengan menyatakan bahwa spesies kerang ini umum ditangkap dan dikonsumsi secara komersial di banyak negara, termasuk di Amerika Serikat.

“Padahal spesies kerang yang sama ditangkap secara komersial dan dikonsumsi setiap hari,” kata Scourse, menegaskan bahwa tujuan utama mereka adalah ilmu pengetahuan. Ia menambahkan bahwa siapa pun yang pernah makan clam chowder di New England kemungkinan besar telah memakan spesies ini, yang banyak di antaranya berusia ratusan tahun.

Kontribusi Ming Terhadap Ilmu Pengetahuan

Meskipun nasibnya berakhir tragis, keberadaan Ming memberikan kontribusi signifikan bagi dunia sains. Penelitian terhadap cangkang kerang ini membantu ilmuwan merekonstruksi perubahan lingkungan laut, suhu, dan kondisi samudra selama lebih dari lima abad.

Data yang terekam dalam cangkang Ming sangat penting untuk memahami dampak perubahan iklim jangka panjang terhadap ekosistem laut. Selain itu, studi terhadap Arctica islandica membuka wawasan baru tentang mekanisme penuaan biologis.

Para ahli menduga umur panjang spesies ini dipengaruhi oleh metabolisme yang sangat lambat serta faktor genetik yang unik. Studi lanjutan juga menemukan fakta menarik bahwa kerusakan sel pada spesies ini relatif stabil, bahkan saat usianya terus bertambah, memberikan petunjuk vital tentang rahasia awet muda di tingkat genetik yang mungkin dapat diterapkan pada organisme lain.