Viral Kelangkaan Susu UHT Program MBG, BGN Minta Ganti Sumber
Uptodai.com - Isu mengenai kelangkaan stok susu Ultra High Temperature (UHT) di pasaran ritel modern menjadi perbincangan hangat masyarakat sejak beberapa waktu terakhir. Fenomena ini semakin viral di media sosial, di mana banyak warganet mengeluhkan kesulitan menemukan produk susu kotak tersebut.
Beberapa gerai ritel bahkan terpaksa memberlakukan pembatasan pembelian. Kondisi ini diduga kuat berkaitan langsung dengan masifnya implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang kembali berjalan seiring masuknya anak sekolah di awal pekan ini. Lonjakan permintaan yang tiba-tiba menciptakan tekanan besar pada rantai pasokan domestik.
Kelangkaan Susu UHT Program MBG dan Skala Kebutuhan Gizi
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, membenarkan bahwa susu memang termasuk salah satu komponen menu yang dapat disajikan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam program MBG. Permintaan yang melonjak tinggi ini terjadi karena skala program yang sangat besar dan tersebar di berbagai wilayah.
Dadan menjelaskan bahwa satu kali penyaluran gizi oleh SPPG membutuhkan setidaknya 3.000 kotak susu UHT ukuran kecil. Jika dihitung dalam kemasan dus standar yang berisi 24 kotak, maka satu SPPG memerlukan sekitar 125 dus susu untuk sekali jadwal pembagian MBG.
Volume Kebutuhan yang Mencapai Puluhan Juta Kotak
Dengan jumlah SPPG yang kini telah mencapai angka 19.188 unit, kebutuhan total susu untuk program ini menjadi sangat fantastis. Angka ini setara dengan kebutuhan lebih dari 57 juta kotak susu jika seluruh SPPG memutuskan memberikan susu secara bersamaan.
Meskipun demikian, Dadan menegaskan bahwa BGN tidak mewajibkan seluruh SPPG untuk menyajikan susu. Pihaknya memahami bahwa lonjakan permintaan yang simultan ini berpotensi menyebabkan gejolak harga dan kelangkaan di pasar.
BGN Dorong Alternatif Sumber Gizi MBG untuk Kurangi Tekanan Pasar
Menyikapi isu kelangkaan yang beredar, BGN memberikan arahan tegas agar dapur-dapur MBG memiliki fleksibilitas dalam pemilihan menu. Dadan menyarankan agar pemberian susu diprioritaskan untuk daerah-daerah yang memang memiliki sentra produksi sapi perah yang kuat.
Langkah ini bertujuan untuk memastikan bahwa program MBG dapat berjalan optimal tanpa harus membebani pasokan susu nasional yang sudah terbatas. Untuk wilayah yang tidak memiliki produksi susu domestik, BGN meminta agar kebutuhan kalsium dan protein dipenuhi dari sumber gizi lain yang mudah didapat secara lokal.
“Bisa diganti dengan sumber gizi lainnya yang setara, seperti telur, kacang-kacangan, atau produk protein hewani lain. Tujuannya supaya tekanan kelangkaan susu di pasar dapat menurun,” ujar Dadan.
Strategi Jangka Panjang: Penguatan Produksi Dalam Negeri
Di luar solusi jangka pendek, pemerintah melalui BGN juga tengah fokus pada strategi jangka panjang untuk memperkuat ketahanan pangan dan gizi nasional. Dadan menekankan pentingnya mengurangi ketergantungan pada produk impor jadi.
Pemerintah kini secara aktif mendorong penguatan produksi susu dalam negeri. Alih-alih mengimpor susu segar dalam bentuk jadi, BGN lebih memilih untuk memfasilitasi impor sapi perah berkualitas. Harapannya, langkah ini dapat menjamin keberlanjutan pasokan susu yang diproduksi secara mandiri di Indonesia.
Sebagai informasi tambahan, hingga akhir Desember 2025, tercatat sebanyak 19.188 unit SPPG telah beroperasi. Lebih dari 4.000 unit di antaranya sudah mengantongi sertifikat laik higiene dan sanitasi, menunjukkan kesiapan infrastruktur program MBG yang terus ditingkatkan.