Insentif CBU Berakhir, Harga Mobil Listrik BYD 2026 Belum Naik
Uptodai.com - Kebijakan insentif untuk mobil listrik berstatus CBU (Completely Built Up) resmi berakhir pada awal tahun 2026. Aturan ini sebelumnya memungkinkan produsen mobil impor menikmati keringanan pajak yang signifikan, sehingga harga jual ke konsumen bisa lebih terjangkau.
Meskipun berakhirnya insentif ini berpotensi mendongkrak harga jual kendaraan listrik impor, laporan terkini menunjukkan bahwa harga mobil listrik BYD 2026 di Indonesia masih stabil dan belum mengalami perubahan. Produsen asal China ini tampaknya menahan diri untuk tidak langsung menyesuaikan banderol harga di pasaran.
Strategi BYD Menahan Kenaikan Harga Impor
BYD menjadi salah satu pabrikan yang paling gencar memanfaatkan insentif impor selama periode tahun lalu. Dengan berakhirnya keringanan pajak, biaya operasional dan impor kendaraan seharusnya menjadi lebih tinggi, namun pihak BYD memilih untuk mempertahankan harga lama.
Tenaga penjual resmi BYD mengonfirmasi bahwa daftar harga yang berlaku saat ini masih sama persis dengan yang diterapkan pada akhir tahun 2025. Mereka bahkan memberikan imbauan agar konsumen segera melakukan pemesanan sebelum adanya penyesuaian harga yang diperkirakan akan terjadi dalam waktu dekat.
“Dapatkan penawaran spesial hari ini sebelum harga mobil EV (electric vehicle) berubah di Januari 2026,” ujar salah satu sales BYD melalui pesan singkat. Pernyataan tersebut mengindikasikan bahwa stabilitas harga saat ini mungkin bersifat sementara, menunggu kebijakan internal baru perusahaan setelah peninjauan ulang struktur biaya.
Daftar Harga Model BYD yang Tetap Stabil
Model kompak andalan BYD, Atto 1, terpantau masih mempertahankan banderol harga yang kompetitif. Varian Dynamic Standard Range tetap dipatok Rp 199,9 juta, meskipun model ini sempat mengalami kenaikan kecil sebesar Rp 4 juta yang berlaku sejak bulan ke-11 tahun lalu.
Sementara itu, tipe Premium Long Range dari Atto 1 masih dijual seharga Rp 235 juta. Untuk model SUV yang lebih populer, BYD Atto 3, harganya juga belum bergerak dari angka Rp 390 juta, menjadikannya salah satu SUV listrik dengan daya saing tinggi di segmennya.
BYD Atto 3 sendiri dikenal memiliki performa impresif berkat tenaga 150 kW dan torsi puncak 310 Nm. Dengan kapasitas baterai 49,92 kWh, SUV listrik ini mampu menempuh jarak hingga 410 km dalam sekali pengisian daya, menjadikannya pilihan favorit konsumen di Indonesia.
Kebijakan Harga EV BYD Setelah Insentif Berakhir
Kebijakan harga EV BYD setelah insentif berakhir juga berlaku pada model hatchback lincah, BYD Dolphin. Varian Dynamic Standard Range tetap dibanderol mulai dari Rp 369 juta di pasar Indonesia.
Konsumen yang menginginkan jarak tempuh lebih jauh dapat memilih tipe Premium Extended Range, yang saat ini masih dipasarkan pada harga Rp 429 juta. Kestabilan harga ini menjadi daya tarik tersendiri di tengah berakhirnya keringanan pajak impor.
Selain model penumpang, kendaraan MPV listrik BYD M6 juga tidak mengalami perubahan harga. M6 varian Standard (7-seater) dipasarkan mulai Rp 383 juta, sementara varian tertingginya, Superior Captain (6-seater), dijual Rp 433 juta.
Model premium seperti BYD Seal dan BYD Sealion 7 juga menunjukkan resistensi harga yang sama. BYD Seal tetap dipasarkan mulai Rp 639 juta hingga Rp 750 juta. Sementara itu, BYD Sealion 7 dibanderol mulai Rp 629 juta sampai dengan Rp 719 juta, menegaskan komitmen BYD untuk menjaga daya beli konsumen di awal tahun ini.
Menanti Kepastian Harga Pasca Pembangunan Pabrik Lokal
Stabilitas harga model CBU ini memunculkan spekulasi mengenai strategi jangka panjang BYD di Indonesia. Perusahaan ini diketahui tengah mempercepat pembangunan fasilitas manufaktur lokal di Subang Smartpolitan, Jawa Barat.
Komitmen untuk memproduksi kendaraan secara lokal (CKD) diharapkan dapat menjadi solusi permanen terhadap fluktuasi harga yang disebabkan oleh kebijakan insentif impor. Jika pabrik beroperasi penuh, harga jual model BYD diprediksi akan jauh lebih kompetitif tanpa bergantung pada insentif CBU yang berlaku sementara.
Saat ini, BYD memanfaatkan sisa stok kendaraan CBU yang telah diimpor dengan skema insentif lama. Namun, para analis pasar memperkirakan bahwa penyesuaian harga tidak terhindarkan ketika stok tersebut habis dan pengiriman baru harus mengikuti tarif pajak normal.