Uptodai.com - Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan mobilisasi militer delapan negara NATO di kawasan Kutub Utara, Duta Besar Amerika Serikat (AS) untuk NATO, Matthew Whitaker, memberikan pernyataan yang mengejutkan sekaligus kontroversial. Ia secara terbuka melakukan AS bela fokus pertahanan Greenland, menanggapi kecaman yang datang dari beberapa negara Eropa terkait prioritas Washington di wilayah tersebut.

Whitaker menilai sekutu Eropa memiliki “kecenderungan untuk bereaksi berlebihan” terhadap langkah strategis AS di wilayah Arktik. Pernyataan ini muncul setelah Prancis mengonfirmasi pengerahan personel militernya. Presiden Prancis, Emmanuel Macron, bahkan mengumumkan melalui media sosial bahwa pasukan pertama Prancis sudah dalam perjalanan menuju lokasi latihan bersama Denmark.

Manuver militer ini merupakan respons langsung atas peningkatan aktivitas di Kutub Utara, sekaligus sebagai penegasan kedaulatan di tengah ambisi aneksasi yang pernah diutarakan oleh pemerintahan Donald Trump. Namun, bagi Washington, keamanan di wilayah utara ini adalah kepentingan pertahanan inti yang tidak bisa ditawar.

Greenland: Sayap Utara Pertahanan Amerika Serikat

Whitaker menjelaskan bahwa perubahan iklim telah mengubah peta geopolitik secara drastis. Mencairnya lapisan es kutub telah membuka rute navigasi baru yang sangat penting bagi perdagangan dan militer. Kondisi ini menjadikan Greenland memiliki nilai strategis yang tak terhindarkan bagi pertahanan Amerika Serikat.

“Keamanan Greenland, yang berfungsi sebagai sayap utara dari daratan Amerika Serikat, sangatlah krusial,” tegas Whitaker dalam wawancara dengan Fox News. Ia menekankan bahwa posisi Greenland yang unik menjadikannya benteng pertahanan alami di belahan bumi barat.

Benteng pertahanan ini, menurut Whitaker, vital untuk pengawasan aset angkatan laut dan menjamin keamanan jangka panjang AS. Oleh karena itu, fokus Washington pada keamanan Arktik, khususnya di sekitar Greenland, adalah langkah yang rasional dan mendesak.

Sindiran Keras “Peace Through Strength” ke Eropa

Berbicara dari Ronald Reagan Presidential Library, Whitaker menggunakan doktrin klasik “perdamaian melalui kekuatan” (peace through strength) ala Reagan untuk mendesak sekutu NATO. Desakan ini ditujukan agar mereka segera meningkatkan anggaran pertahanan secara signifikan sesuai komitmen yang telah disepakati.

Sindiran tajam dilontarkan Whitaker terhadap kondisi militer Eropa saat ini yang dianggapnya belum siap menghadapi ancaman modern. Ia mencontohkan Operasi Midnight Hammer AS di Venezuela sebagai bukti kemampuan Amerika memproyeksikan kekuatan global. Whitaker menekankan bahwa banyak sekutu NATO belum mampu menyamai level kapabilitas militer tersebut.

Desakan Deregulasi Ekonomi untuk Pendanaan Pertahanan

Whitaker tidak hanya menuntut peningkatan dana pertahanan, tetapi juga mendesak Uni Eropa untuk melakukan deregulasi ekonomi besar-besaran. Langkah ini dinilai penting guna memacu pertumbuhan kapital yang sangat dibutuhkan untuk mendanai pertahanan bersama secara berkelanjutan.

“Eropa dan Uni Eropa harus melepaskan ikatan tangan di belakang punggung mereka,” tegasnya, menyoroti hambatan birokrasi yang memperlambat investasi pertahanan. Prioritas utamanya adalah memastikan komitmen politik yang disepakati di Den Haag tahun lalu benar-benar terwujud menjadi kapabilitas militer nyata di lapangan.

Di sisi lain, Whitaker memberikan pujian khusus kepada negara-negara Baltik, yakni Latvia, Lituania, dan Estonia, serta negara-negara Nordik. Mereka dianggap lebih serius dalam menanggapi ancaman Rusia karena posisi geografis mereka yang berdekatan dengan zona konflik.

Ancaman ini merujuk pada rekam jejak agresi Rusia, termasuk aneksasi Krimea pada 2014 dan invasi penuh ke Ukraina pada 2022. Peristiwa-peristiwa tersebut menjadi alarm keamanan yang mendesak bagi seluruh anggota aliansi, sekaligus membenarkan mengapa AS bela fokus pertahanan Greenland sebagai garis depan strategis.