Uptodai.com - Dinamika persaingan di ranah perdagangan elektronik Asia Tenggara semakin memanas. Sebuah laporan terbaru dari firma riset Momentum Works mengungkapkan pergeseran signifikan dalam hal logistik. Data menunjukkan bahwa rata-rata harian pengiriman paket TikTok Shop kini telah melampaui volume pengiriman yang ditangani oleh Shopee.

Peristiwa ini menandai titik balik penting, terutama mengingat Shopee telah lama mendominasi pasar regional. Meskipun demikian, Momentum Works memproyeksikan bahwa selisih volume pengiriman antara kedua raksasa e-commerce ini akan terus melebar pada tahun 2026.

Data J&T Ungkap Dominasi TikTok Shop

Peningkatan volume ini sebagian besar didorong oleh kinerja logistik mitra utama TikTok Shop, J&T Express. Momentum Works mencatat, pada kuartal IV tahun 2025, J&T Express berhasil membukukan rata-rata pengiriman harian fantastis, mencapai 26,5 juta paket.

Angka tersebut merefleksikan pertumbuhan tahunan yang sangat tinggi, yakni sebesar 73,6 persen (year-on-year). Pertumbuhan eksplosif J&T ini tidak terlepas dari tingginya aktivitas transaksi yang berasal dari platform milik ByteDance tersebut.

Berdasarkan estimasi internal J&T Express, jumlah paket yang mereka kirimkan untuk TikTok Shop kini telah melampaui paket yang ditangani oleh SPX Express milik Shopee. Momentum Works menyebutkan bahwa J&T saat ini mengirimkan sekitar 18 persen lebih banyak paket dibandingkan SPX Express, dan perbedaan ini diperkirakan akan semakin signifikan.

Volume Pengiriman Paket TikTok Shop vs Shopee Kian Berimbang

Temuan yang didasarkan pada data internal J&T ini sejalan dengan pengamatan lapangan yang dilakukan oleh tim Momentum Works di berbagai lokasi, termasuk Kuala Lumpur, Malaysia. Saat melakukan inspeksi di sejumlah titik pengambilan paket, pola volume kiriman terlihat konsisten.

Jumlah paket yang berasal dari Shopee (dikirim oleh SPX) dan TikTok Shop (dikirim oleh J&T Express) terlihat relatif berimbang, bahkan cenderung mengarah pada dominasi TikTok Shop. Hal ini memperkuat sinyal bahwa TikTok Shop berhasil menutup celah volume pengiriman yang selama ini dipegang teguh oleh Shopee.

Kendati demikian, penting untuk dicatat bahwa secara nilai transaksi bruto atau gross merchandise value (GMV), TikTok Shop masih berada di bawah Shopee. Shopee masih memimpin dari sisi total nilai transaksi dan volume pesanan secara regional, meskipun jaraknya dengan TikTok Shop terus menyempit secara drastis.

Proyeksi 2026: Strategi Kecepatan dan Efisiensi Jadi Kunci

Melihat perkembangan ini, Momentum Works memasukkan dua proyeksi utama dalam laporan Southeast Asia Predictions 2026 mereka. Pertama, TikTok Shop diprediksi mampu menyamai Shopee dari sisi volume pengiriman paket pada tahun 2026. Kedua, Shopee diproyeksikan akan memperkuat strategi pertahanannya dengan meningkatkan fokus pada layanan pengiriman instan.

Momentum Works menilai bahwa dinamika persaingan e-commerce saat ini telah berubah total dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. Persaingan tidak lagi berpusat pada perang subsidi harga atau promosi besar-besaran yang menguras kas perusahaan.

Tekanan kompetitif saat ini lebih bersifat internal dan operasional. Para manajer, operator, dan eksekutif di kedua pihak dituntut untuk memberikan efisiensi, eksekusi logistik yang cepat, dan pertumbuhan yang berkelanjutan, bukan sekadar bakar uang.

Salah satu keunggulan utama TikTok adalah sistem konversi tertutupnya yang mengintegrasikan hiburan, konten, dan transaksi dalam satu aplikasi. Shopee belum mampu menembus sistem ini secara efektif. Kondisi ini memaksa Shopee untuk memperkuat dua proposisi nilai utama yang paling dirasakan konsumen, yaitu kecepatan dan keandalan logistik, khususnya melalui layanan pengiriman instan.