Perhatian! Kualitas Keju Menurun Akibat Perubahan Iklim Global
Uptodai.com - Sebuah temuan mengejutkan dari ilmuwan Prancis menunjukkan bahwa kualitas keju menurun akibat perubahan iklim yang semakin ekstrem. Produk olahan susu yang selama ini menjadi favorit global kini terancam kehilangan cita rasa khasnya.
Fenomena ini bukan sekadar isu kuliner semata, melainkan sebuah peringatan nyata tentang dampak pemanasan global terhadap rantai pasok pangan utama dunia. Para peneliti menemukan adanya korelasi langsung antara suhu lingkungan, pola makan ternak, dan kandungan nutrisi yang dihasilkan susu.
Perubahan Pakan Sapi: Akar Masalah Menurunnya Kualitas Keju
Perubahan rasa pada keju ini berakar pada pola makan sapi perah yang mengalami pergeseran drastis. Kekeringan dan suhu ekstrem yang dipicu oleh perubahan iklim menyebabkan rumput sebagai pakan alami sapi menjadi langka dan secara kualitas kurang bergizi.
Akibatnya, banyak peternak terpaksa mengganti diet ternak mereka dengan pakan tambahan, seperti jagung dan konsentrat. Perubahan diet inilah yang kemudian memengaruhi kandungan gizi susu secara keseluruhan, dan pada akhirnya membuat rasa keju menjadi kurang nikmat.
Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Dairy Science oleh peneliti dari Université Clermont Auvergne, Prancis, mengonfirmasi korelasi tersebut. Mereka melakukan studi pada tahun 2021 dengan membandingkan dua kelompok sapi yang diberi diet berbeda.
Sapi yang mengonsumsi rumput menghasilkan susu dengan rasa yang jauh lebih gurih dan kaya, yang merupakan kunci bagi keju berkualitas. Selain itu, susu dari sapi perumput ini memiliki kandungan nutrisi superior.
Kandungan nutrisi yang dimaksud mencakup asam lemak omega-3 dan asam laktat, yang sangat penting bagi kesehatan jantung dan sistem pencernaan manusia. Sebaliknya, sapi yang diberi pakan jagung, meskipun volume produksinya setara, menghasilkan susu yang terasa kurang kaya.
Matthieu Bouchon, peneliti utama studi tersebut, memberikan peringatan keras terkait temuan ini. Ia menyatakan bahwa jika tren perubahan iklim terus berlanjut tanpa terkendali, dampaknya akan terasa langsung pada rasa keju yang kita konsumsi sehari-hari.
Suhu Ekstrem Mengurangi Nafsu Makan Ternak
Ancaman terhadap industri susu ini ternyata tidak hanya disebabkan oleh perubahan jenis pakan, tetapi juga mekanisme fisiologis pada sapi. Suhu panas ekstrem akibat pemanasan global membuat sapi makan lebih sedikit.
Fenomena ini dilaporkan terjadi di banyak wilayah, mulai dari Eropa hingga Amerika Selatan. Gustavo Abijaodi, seorang peternak sapi perah di Brasil, melaporkan bahwa suhu tinggi telah menurunkan kandungan protein dan lemak dalam susu yang dihasilkan ternaknya.
Pakar peternakan Marina Danes dari Universitas Federal Lavras, Brasil, menjelaskan alasan di baliknya. Sapi secara alami menghasilkan panas saat mencerna makanan, yang dikenal sebagai efek termogenesis.
Oleh karena itu, ketika suhu lingkungan sudah sangat panas, sapi akan mengurangi asupan makanan secara insting. Ini merupakan upaya mereka untuk membantu menurunkan suhu tubuh internal dan menghindari stres panas.
Penurunan drastis dalam asupan pakan ini membawa konsekuensi serius bagi kesehatan ternak. Sapi yang makan lebih sedikit akan mengalami penurunan daya tahan tubuh secara signifikan, membuat hewan-hewan tersebut menjadi lebih rentan terhadap berbagai penyakit.
Temuan ini memperkuat bukti bahwa pemanasan global bukan lagi ancaman abstrak di masa depan, melainkan masalah yang sudah memengaruhi kualitas hidup saat ini, dimulai dari meja makan kita. Untuk menjaga cita rasa dan nutrisi produk olahan susu, pengembangan strategi pakan ternak yang adaptif dan mitigasi perubahan iklim menjadi sangat mendesak.