Drakor & Dracin Waspada, Jepang Mulai Genjot Diplomasi Budaya Sumo
Uptodai.com - Gelombang popularitas budaya pop Korea Selatan, seperti K-Drama dan K-Pop, telah mendominasi panggung global selama lebih dari satu dekade. Namun, Jepang kini mengambil langkah strategis yang berani untuk merebut kembali perhatian dunia melalui aset budaya tertuanya: gulat sumo. Langkah ini menandai kebangkitan kembali tradisi lama yang kini menjadi ujung tombak diplomasi budaya Sumo Jepang di kancah internasional.
Pemerintah Jepang, melalui berbagai lembaga terkait, tampaknya menyadari potensi besar dari olahraga tradisional ini sebagai alat kekuatan lunak (soft power). Para pegulat sumo, yang dikenal sebagai Rikishi, kini didorong untuk menjadi duta budaya, membawa citra keunikan dan kesucian tradisi Jepang ke berbagai belahan dunia, menantang dominasi Hallyu Wave yang diusung Korea Selatan dan Dracin (Drama China).
Kebangkitan Tradisi Lama di Eropa
Salah satu sinyal paling jelas dari pergeseran strategi ini terlihat dari kembalinya turnamen sumo ke Prancis, setelah sempat vakum selama beberapa dekade. Terakhir kali para pesumo raksasa menginjakkan kaki di Paris adalah pada tahun 1995, dan kini tradisi tersebut kembali dihidupkan dengan energi baru.
David Rothschild, promotor turnamen Paris, mengungkapkan bahwa proses negosiasi dengan Asosiasi Sumo Jepang (JSA) berjalan sangat cepat, jauh berbeda dibandingkan upaya yang dilakukan satu dekade lalu. Kecepatan ini mengindikasikan adanya lampu hijau dari Tokyo untuk menggunakan sumo sebagai alat promosi yang lebih agresif.
“Setelah banyak pertukaran informasi, semuanya dipercepat; dalam sebulan praktis kami sudah melakukan semuanya,” ujar Rothschild, dikutip dari AFP. Ia menambahkan bahwa JSA memberikan syarat mutlak terkait kesucian tradisi ini, memastikan bahwa sumo tidak akan diperlakukan sekadar sebagai tontonan biasa.
Rothschild menekankan bahwa JSA sangat ingin memastikan bahwa tradisi tersebut dihormati. “Sumo harus selalu dianggap sebagai tradisi. Ini bukan sekadar olahraga dan ini bukan hiburan. Dalam setiap diskusi, mereka ingin memastikan saya tidak akan melakukan sesuatu yang tidak pantas, bahwa saya akan bersikap hormat,” tambahnya.
Strategi “Raksasa” yang Tidak Baru
Menggunakan atlet bertubuh raksasa sebagai duta budaya sebenarnya bukanlah strategi baru bagi Jepang. Taktik ini sudah dimulai sejak tahun 1854, ketika Jepang pertama kali membuka diri kepada Amerika Serikat di bawah Komodor Matthew Perry.
Saat itu, Perry menulis dalam jurnalnya bahwa pertunjukan gulat sumo yang ia saksikan terasa “biadab,” menyebut para pegulat “lebih mirip banteng daripada manusia.” Pandangan tersebut mencerminkan kebingungan budaya pada masa awal kontak Jepang dengan Barat.
Namun, pandangan tersebut telah berubah drastis di era modern. Profesor studi Asia di Penn State University, Jessamyn R. Abel, menilai bahwa pandangan negatif Perry lahir karena ia “mengamati segala sesuatu tentang Jepang dari posisi ketidaktahuan total” tentang negara tersebut.
Abel berpendapat bahwa saat ini, citra sumo justru memperkuat daya tarik Jepang. “Berbeda dengan era modern, bagi penonton yang sudah menganggap Jepang itu ‘keren’, sumo justru memperkuat gagasan tersebut,” tuturnya. Keaslian dan ritual yang ketat dalam sumo dianggap sebagai representasi otentik budaya Jepang yang unik.
Pariwisata Berbasis Seni Bela Diri
Banyak analis menilai bahwa pemerintah Jepang kini melihat peluang besar dalam sektor pariwisata berbasis budaya, terutama pasca-pandemi. Keunikan tradisi Jepang menjadi nilai jual utama untuk menarik wisatawan mancanegara.
Profesor madya di Universitas Waseda, Kosuke Takata, menyatakan bahwa lembaga pemerintah untuk olahraga dan pariwisata kini sedang berupaya mempromosikan ‘wisata seni bela diri’. Inisiatif ini tidak hanya berfokus pada sumo, tetapi juga mencakup seni bela diri tradisional lainnya seperti kendo dan karate.
Strategi ini bertujuan menciptakan paket wisata yang mendalam, di mana turis tidak hanya menyaksikan pertandingan, tetapi juga memahami filosofi dan sejarah di balik setiap gerakan. Langkah ini merupakan upaya serius Jepang untuk memonetisasi warisan budayanya secara global.
Tantangan Konteks Modern dan Diplomasi Budaya Sumo Jepang
Meskipun diplomasi menggunakan sumo pernah sangat efektif, terutama saat menormalisasi hubungan dengan China pada tahun 1973, pakar sejarah Erik Esselstrom mengingatkan adanya perbedaan konteks zaman yang harus diperhatikan.
Esselstrom menjelaskan bahwa pada tahun 1973, China “relatif lemah dan Jepang cukup kuat secara ekonomi,” sehingga kedua negara berada “dalam momen penemuan kembali satu sama lain.” Situasi geopolitik saat ini jauh lebih kompleks, dengan persaingan kekuatan lunak yang ketat dari Korea dan China.
Meski demikian, para pegulat sendiri menyambut antusias tugas diplomatik ini. Mereka melihat kesempatan ini sebagai kehormatan besar untuk mewakili negaranya. Nakadachi, yang pernah bertanding di Paris pada tahun 1995, mengenang serunya sambutan publik Eropa dan berharap generasi Rikishi saat ini dapat mengulang kesuksesan tersebut, menjadikan sumo sebagai salah satu kekuatan lunak utama Jepang di mata dunia.