Hampir Jadi Wakil Menteri, Kisah Nyata Mata-Mata Israel Eli Cohen
Uptodai.com - Dunia intelijen selalu menyimpan kisah-kisah yang melampaui batas fiksi, dan salah satunya adalah kisah infiltrasi paling berani yang pernah dilakukan oleh Mossad. Sosok sentral di balik operasi legendaris ini adalah mata-mata Israel Eli Cohen.
Cohen, yang lahir dan besar di Mesir, berhasil menyamar dengan sangat sempurna hingga menembus jantung kekuasaan Suriah. Tak tanggung-tanggung, ia bahkan disebut-sebut nyaris menduduki jabatan setingkat Wakil Menteri (Wamen) di pemerintahan Suriah.
Misi Infiltrasi: Kamel Amin Thaabet
Eli Cohen direkrut oleh Mossad, badan intelijen Israel, dan diberikan identitas baru yang sangat meyakinkan. Ia beroperasi dengan nama samaran Kamel Amin Thaabet. Skenario yang disusun Mossad menempatkan Kamel sebagai seorang pengusaha tekstil kaya raya.
Kamel dikisahkan sebagai pria Suriah yang sempat pindah ke Argentina pada tahun 1949 bersama keluarganya untuk membangun bisnis. Setelah sukses besar, ia memutuskan untuk kembali ke tanah airnya dengan niat membantu pembangunan negara yang saat itu sedang dilanda ketidakstabilan dan korupsi merajalela.
Tujuan utama dari misi Kamel adalah menyusup ke lingkaran elite politik dan militer Suriah. Informasi intelijen yang ia kumpulkan sangat krusial, digunakan Israel untuk mengantisipasi dan mencegah segala bentuk langkah agresif dari Suriah maupun negara-negara Arab lainnya yang dianggap mengancam keamanan Israel.
Jaringan Kekuasaan yang Dibangun Kamel
Langkah pertama Kamel untuk masuk ke Damaskus dimulai melalui Buenos Aires. Dalam buku Our Man in Damascus, Elie Cohn (1971), terungkap bahwa Kamel mendekati atase militer Suriah di Argentina, yakni Jenderal Amin al-Hafez.
Kepada al-Hafez, Kamel menyatakan keinginan patriotiknya untuk kembali dan berinvestasi besar di Suriah. Ia meyakinkan bahwa sebagai pengusaha kaya, ia siap menggunakan hartanya untuk membantu memulihkan kampung halamannya yang sedang terpuruk. Jenderal al-Hafez, yang dikenal sangat nasionalis, tergerak oleh pengakuan Kamel.
Al-Hafez kemudian membawa Kamel ke Suriah dan memperkenalkannya kepada kolega-kolega penting sebagai pengusaha dermawan. Berkat koneksi awal ini, jaringan pertemanan Kamel berkembang pesat, mencakup tokoh-tokoh kunci di lingkaran militer, politik, dan bahkan diplomatik.
Kamel Amin Thaabet dengan cepat melesat menjadi salah satu pengusaha paling ternama di Damaskus. Ia menggunakan kekayaan dan pesonanya untuk memuluskan jalannya menuju kekuasaan.
Pesta Mewah dan Rahasia Militer
Salah satu metode paling efektif yang digunakan Kamel adalah memanfaatkan gaya hidup elite Suriah. Samantha Wilson dalam bukunya Israel (2011) menjelaskan bahwa kalangan atas Suriah sangat gemar berpesta pora.
Kamel secara rutin mengadakan pesta mewah dan mengundang para pejabat tinggi. Di tengah alunan musik, dansa, dan minuman keras, informasi sensitif seringkali terucap tanpa disadari oleh para petinggi tersebut. Kamel dengan cerdik merekam dan menyalurkan semua data ini kembali ke Mossad.
Infiltrasi Kamel mencapai puncaknya pada tahun 1963. Saat itu, kawan baiknya, Amin al-Hafez, berhasil mengambil alih kekuasaan dan menjadi Presiden Suriah. Al-Hafez sangat memercayai Kamel, melihatnya sebagai sekutu yang loyal dan patriotik.
Kepercayaan ini membuka pintu yang tak terbayangkan. Kamel sering diajak Presiden al-Hafez untuk mengunjungi lokasi-lokasi strategis yang sangat rahasia. Bahkan, karena kedekatan dan reputasinya sebagai pengusaha yang jujur, namanya sempat dipertimbangkan untuk mengisi jabatan penting di kabinet, yang mengarah pada posisi Wakil Menteri.
Informasi Krusial dari Garis Depan
Sebagai orang kepercayaan Presiden, Kamel mengetahui detail mengenai tempat rahasia militer, jumlah pasukan, dan yang paling penting, pertahanan di Dataran Tinggi Golan. Ia bahkan berhasil mengirimkan cetak biru lengkap mengenai benteng militer Suriah.
Salah satu tindakan intelijen paling cerdik yang dilakukan Kamel adalah mengusulkan penanaman pohon Eukaliptus di sekitar posisi militer Suriah di Golan. Ia beralasan pohon-pohon itu akan memberikan keteduhan bagi para tentara. Namun, bagi Israel, pohon-pohon ini berfungsi sebagai penanda visual yang jelas, memudahkan penargetan serangan di masa depan.
Meskipun operasi mata-mata Israel Eli Cohen ini sangat sukses, ia akhirnya tertangkap basah. Penangkapan terjadi ketika sinyal radio yang ia gunakan untuk berkomunikasi dengan Tel Aviv terdeteksi oleh intelijen Suriah yang dibantu oleh teknisi dari Uni Soviet. Setelah melalui interogasi yang panjang, Kamel Amin Thaabet akhirnya terungkap sebagai agen Mossad Eli Cohen.
Kisah ini menjadi pengingat betapa tipisnya batas antara kepercayaan politik dan pengkhianatan di panggung geopolitik Timur Tengah.