Uptodai.com - Pengumuman dari BPS (Badan Pusat Statistik) pada awal Februari 2026 mengejutkan banyak pihak, terutama para pelaku pasar. Secara resmi, BPS laporkan deflasi Januari 2026 mencapai 0,15% secara bulanan (month-to-month/mtm).

Angka deflasi ini sangat kontras dengan proyeksi konsensus pasar yang sebelumnya memperkirakan adanya kenaikan harga. Sebelumnya, survei yang dihimpun dari 11 institusi memperkirakan Indeks Harga Konsumen (IHK) akan mengalami inflasi sebesar 0,06% mtm.

Laju deflasi pada awal tahun ini menjadi indikasi kuat adanya pergeseran signifikan dalam dinamika harga komoditas pangan. Deflasi terjadi ketika harga barang dan jasa secara umum mengalami penurunan, yang dalam konteks ini didominasi oleh kelompok bahan makanan.

Harga Pangan Bergejolak Jadi Penentu Utama Deflasi

Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa laju deflasi ini didorong utamanya oleh komponen harga yang sangat bergejolak. Penurunan harga bahan pangan menjadi kontributor utama yang menekan IHK secara keseluruhan.

Komoditas yang paling berperan dalam menahan laju inflasi adalah cabai merah, yang mencatatkan deflasi signifikan sebesar 0,16%. Angka ini menunjukkan adanya peningkatan pasokan yang cukup besar di pasar setelah berakhirnya periode permintaan tinggi, seperti Natal dan Tahun Baru.

Selain cabai merah, cabai rawit juga turut menyumbang deflasi sebesar 0,08%. Adapun, bahan pangan lain yang ikut menekan IHK adalah bawang merah, dengan kontribusi deflasi mencapai 0,07%.

Fenomena ini mengindikasikan bahwa pasokan komoditas hortikultura di awal tahun 2026 relatif aman dan terkendali. Kondisi ini berhasil meredam tekanan harga yang biasanya muncul di musim-musim tertentu, sehingga mematahkan ekspektasi inflasi dari para ekonom.

Stabilitas Inflasi Inti Menjaga Optimisme Ekonomi

Meskipun terjadi deflasi bulanan yang mengejutkan, BPS mencatat bahwa secara tahunan (year-on-year/yoy), tingkat inflasi masih berada di level 3,74%. Angka ini menunjukkan bahwa secara umum, harga barang dan jasa masih lebih tinggi dibandingkan Januari tahun sebelumnya.

Sementara itu, komponen inti inflasi menunjukkan stabilitas yang cukup baik dan terkendali. BPS mencatat tingkat inflasi y-on-y komponen inti pada Januari 2026 sebesar 2,45%.

Angka inflasi inti ini sedikit lebih tinggi dari ekspektasi pasar yang memprediksi stagnan di 2,4%. Namun demikian, inflasi inti yang terjaga ini menunjukkan bahwa daya beli masyarakat dan permintaan domestik tetap stabil, tanpa adanya lonjakan harga yang disebabkan oleh faktor fundamental ekonomi.

Adapun, BPS juga mencatat laju inflasi m-to-m dan tingkat inflasi y-to-d (year-to-date) masing-masing sebesar 0,37%. Data ini memberikan gambaran bahwa kebijakan moneter dan stabilitas nilai tukar Rupiah cukup efektif dalam menjaga harga-harga barang yang tidak bergejolak.