Kisah Pilu: Karyawan China Meninggal karena Overwork, Diminta Revisi
Uptodai.com - Kisah pilu mengenai tuntutan kerja yang melampaui batas kembali mengguncang publik, kali ini menimpa sektor teknologi di China. Seorang manajer perangkat lunak bernama Gao Guanghui dilaporkan meninggal dunia akibat henti jantung setelah berbulan-bulan mengalami tekanan kerja yang ekstrem.
Yang membuat kasus ini semakin memilukan, pihak keluarga mengungkapkan bahwa tuntutan pekerjaan terhadap Gao tidak berhenti, bahkan ketika nyawanya sedang dipertaruhkan. Pesan-pesan pekerjaan masih terus masuk, meminta revisi, bahkan beberapa jam setelah ia dinyatakan tiada.
Karyawan China Meninggal karena Overwork Setelah Tanggung Beban Enam Staf
Menurut keterangan yang disampaikan istri almarhum kepada media lokal, Gao Guanghui mengalami cardiac arrest pada 29 November 2025 setelah melewati periode kerja yang sangat berat. Kematian tragis ini diyakini sebagai dampak langsung dari kelebihan beban kerja yang tidak manusiawi.
Istrinya menjelaskan bahwa setelah dipromosikan menjadi manajer, Gao harus menanggung tanggung jawab yang setara dengan enam hingga tujuh staf. Kekurangan sumber daya manusia di departemennya membuat semua pekerjaan menumpuk di mejanya, memaksanya bekerja jauh melampaui batas normal demi memenuhi target perusahaan.
Beberapa pekan sebelum meninggal, jadwal harian Gao sangatlah padat. Ia disebut hanya tidur sekitar enam hingga tujuh jam setiap malam, berangkat kerja sejak pukul 07.00 pagi dan baru kembali ke rumah sekitar pukul 23.00 malam.
Selain jam kerja kantor yang panjang, ia juga dibebani tanggung jawab tambahan yang menguras waktu dan energi. Gao harus mendampingi tim penjualan dalam negosiasi penting serta mengkoordinasi berbagai proyek lintas departemen, bahkan ia diminta mengikuti rapat dan panggilan kerja saat sedang mengemudi.
Sistem Gaji yang Mendorong Tekanan Kerja Ekstrem
Tekanan kerja ini diperparah oleh sistem penggajian di perusahaannya yang menerapkan model “gaji pokok rendah, kinerja tinggi”. Model ini secara tidak langsung memaksa karyawan untuk bekerja dalam jam yang sangat panjang demi mencapai penghasilan yang layak.
Gaji bulanan Gao memang dilaporkan melonjak drastis, dari RMB 3.000 (sekitar Rp7,2 juta) menjadi RMB 19.000 (sekitar Rp45,8 juta) sebulan sebelum kematiannya. Peningkatan pendapatan ini menjadi indikasi kuat bahwa almarhum telah mengorbankan waktu istirahat dan kesehatannya secara ekstrem demi memenuhi target kinerja yang tinggi.
Tuntutan Revisi Datang Saat Nyawa Sedang Dipertaruhkan
Hal yang paling mengguncang dan memicu kemarahan publik adalah fakta bahwa tuntutan kerja masih mengejar Gao hingga detik-detik terakhir hidupnya. Pihak keluarga mengungkapkan bahwa saat Gao menjalani perawatan darurat di rumah sakit, ia dimasukkan ke dalam grup kerja teknis di aplikasi WeChat.
Pada momen krusial tersebut, seorang rekan kerja mengirim pesan yang secara spesifik memintanya untuk “membantu memproses pesanan ini.” Pesan tersebut masuk saat dokter sedang berupaya keras menyelamatkan nyawa Gao dari henti jantung.
Pesan Kerja Datang 8 Jam Setelah Dinyatakan Meninggal
Ironi tidak berhenti di sana. Delapan jam setelah Gao Guanghui dinyatakan meninggal dunia oleh tim medis, pesan lain yang lebih mengganggu dilaporkan masuk. Pesan tersebut berbunyi, “Ada tugas mendesak pada Senin pagi, barang gagal inspeksi hari ini, jadi ini perlu diubah.”
Data internal yang diakses oleh keluarga menunjukkan bahwa Gao tercatat masuk ke sistem perusahaan setidaknya lima kali pada hari ia meninggal. Ini menunjukkan dedikasi dan tekanan yang ia rasakan hingga napas terakhirnya, seolah-olah perusahaan tidak memberikan ruang sedikit pun untuk istirahat.
Keluarga almarhum kini sedang mengajukan klaim kompensasi atas kematiannya yang jelas diakibatkan oleh kelebihan beban kerja. Istri Gao juga mengungkapkan pengalaman pahit ketika menerima barang-barang pribadi suaminya dari perusahaan dalam keadaan tidak teratur, bahkan sejumlah barang penting hilang tanpa penjelasan yang memadai.
Tragedi ini menjadi pengingat keras mengenai budaya kerja yang beracun di sektor teknologi, terutama di China, di mana jam kerja panjang dan tekanan tinggi seringkali mengorbankan kesehatan dan nyawa para pekerja.