Apple dan Samsung Mendominasi, Pangsa Pasar HP China 2025 Tertekan
Uptodai.com - Pasar gawai global menunjukkan tanda-tanda pemulihan signifikan setelah periode sulit pasca-pandemi. Namun, data terbaru dari firma riset Counterpoint mengungkapkan adanya disparitas tajam dalam performa pabrikan besar.
Secara khusus, Pangsa Pasar HP China 2025 menghadapi tekanan yang cukup berat, sementara para pesaing utama justru mencatat pertumbuhan impresif. Meskipun pasar secara keseluruhan tumbuh 2% secara tahunan (YoY), kinerja ini tidak merata di semua pemain. Kenaikan permintaan di segmen premium dan adopsi masif teknologi 5G di negara-negara berkembang menjadi motor utama stabilisasi pasar ponsel dunia.
Apple Kembali Menggeliat, Samsung Tetap Kuat di Puncak
Apple berhasil merebut kembali momentumnya, mencatatkan pertumbuhan fantastis sebesar 10% YoY. Perusahaan yang berbasis di Cupertino ini kini menguasai 20% pangsa pasar global. Peningkatan signifikan ini didorong oleh peluncuran seri premium terbaru, iPhone 17, yang disambut antusias pada September 2025.
Kontras dengan capaian tersebut, seri sebelumnya (iPhone 16) sempat membuat Apple stagnan karena dinilai minim inovasi. Strategi ekspansi yang lebih agresif ke pasar negara berkembang, ditambah portofolio produk yang lebih solid, memastikan pertumbuhan positif perusahaan. Senior Analyst Counterpoint, Varun Mishra, menyebut pertumbuhan Apple didorong oleh permintaan yang meningkat di negara-negara berkembang.
Sementara itu, Samsung, raksasa teknologi asal Korea Selatan, berhasil mempertahankan posisi kedua dalam daftar. Mereka mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 5% dan mengamankan 19% dari total pangsa pasar. Perusahaan Korea Selatan ini menunjukkan ketahanan pasar yang konsisten di berbagai segmen harga.
Tekanan Mereduksi Kinerja Pangsa Pasar HP China 2025
Di jajaran pabrikan Tiongkok, Xiaomi menduduki peringkat ketiga global dengan pangsa pasar 13%. Meskipun demikian, kinerja mereka cenderung stagnan dan sedikit menurun dibandingkan tahun sebelumnya. Xiaomi tampak kesulitan menembus lebih jauh dominasi dua raksasa di atasnya.
Vivo, yang berada di posisi keempat, hanya mampu mencatatkan pertumbuhan tipis 3%. Perusahaan ini berhasil mempertahankan pangsa pasar 8% seperti yang dicapai pada tahun 2024. Kinerja ini menunjukkan bahwa sebagian besar merek Tiongkok berjuang keras untuk mendapatkan traksi di pasar yang mulai jenuh.
Situasi paling menantang dialami oleh Oppo, yang menduduki peringkat kelima. Setelah beberapa kuartal menunjukkan kinerja lesu, Oppo mencatatkan pertumbuhan minus 4% secara tahunan. Penurunan drastis ini menggarisbawahi kesulitan merek tersebut dalam bersaing di tengah persaingan segmen premium yang semakin ketat dan minimnya inovasi yang menonjol.
Strategi Adaptasi Menghadapi Dinamika Pasar Global
Kinerja pasar global yang stabil juga dipengaruhi oleh faktor eksternal dan strategi adaptasi produsen. Pada awal 2025, produsen smartphone sempat mengalami tekanan akibat kebijakan tarif dari pemerintahan Donald Trump.
Namun, dampak kebijakan tersebut berangsur surut sejalan dengan perkembangan dinamika geopolitik yang ada. Pabrikan ponsel pintar dengan cepat menyesuaikan strategi untuk meredam efek tersebut, termasuk diversifikasi rantai pasokan dan fokus pada efisiensi operasional.
Fakta menarik lainnya adalah pertumbuhan positif pasar global tidak terjadi secara merata di semua wilayah. Counterpoint mencatat bahwa ekspansi signifikan didominasi oleh permintaan tinggi di kawasan seperti Jepang, Timur Tengah, Afrika, dan sejumlah besar negara di Asia. Hal ini menegaskan bahwa fokus pabrikan kini beralih ke pasar yang memiliki potensi pertumbuhan lebih besar dibandingkan pasar tradisional di Barat.