Uptodai.com - Kasus penyadapan spyware Predator akhirnya menemui titik terang setelah pengadilan di Athena, Yunani, menjatuhkan vonis berat kepada para petinggi perusahaan teknologi yang terlibat. Pengadilan menghukum empat orang terdakwa, termasuk pendiri Intellexa, Tal Dilian, dengan total hukuman mencapai 126 tahun dan 8 bulan penjara.

Meskipun angka hukuman tersebut terdengar sangat fantastis, sistem hukum di Yunani membatasi masa tahanan fisik yang sebenarnya harus dijalani oleh para terpidana. Para terdakwa hanya akan mendekam di balik jeruji besi selama maksimal delapan tahun, sembari menunggu proses banding yang saat ini sedang mereka ajukan.

Keempat pelaku tersebut terbukti terlibat dalam skandal penyadapan besar yang mengguncang stabilitas politik Yunani sejak tahun 2022 silam. Kasus ini bermula dari laporan seorang jurnalis keuangan dan pemimpin partai oposisi yang merasa perangkat komunikasi mereka telah disusupi secara ilegal.

Awal Mula Terbongkarnya Skandal Penyadapan

Skandal besar ini pertama kali mencuat ke publik berkat keberanian seorang jurnalis keuangan kawakan bernama Thanasis Koukakis. Ia melaporkan adanya aktivitas mencurigakan pada perangkat ponsel miliknya yang ternyata telah disusupi oleh perangkat lunak berbahaya selama berbulan-bulan.

Penyelidikan lebih lanjut mengungkap bahwa bukan hanya jurnalis yang menjadi sasaran, melainkan juga tokoh politik penting di negara tersebut. Pemimpin partai PASOK Sosialis turut menjadi korban dalam operasi pengawasan ilegal yang diduga melibatkan infrastruktur teknologi canggih.

Pada tahun 2024, jaksa Mahkamah Agung Yunani sempat menunda kasus yang melibatkan dinas intelijen negara, EYP. Namun, mereka tetap menyerahkan keempat terdakwa dari pihak swasta untuk diadili atas tuduhan pelanggaran ringan yang berujung pada vonis panjang tersebut.

Mengenal Spyware Predator dan Jaringan Intellexa

Perangkat lunak yang digunakan dalam aksi ini dikenal dengan nama Predator, sebuah spyware canggih yang dikembangkan oleh perusahaan bernama Cytrox. Perusahaan tersebut merupakan bagian dari konsorsium Intellexa yang berbasis di Yunani dan dipimpin langsung oleh Tal Dilian.

Predator bekerja dengan cara menginfeksi ponsel target tanpa disadari, sehingga memberikan akses penuh kepada operator untuk memantau seluruh aktivitas digital. Operator dapat membaca pesan singkat, mendengarkan panggilan telepon, hingga melacak lokasi korban secara real-time melalui GPS.

Jejak Predator kemudian ditemukan di puluhan perangkat ponsel milik pejabat tinggi, termasuk menteri, pengusaha, hingga karyawan dinas intelijen. Hal ini membuktikan bahwa jangkauan penyadapan tersebut jauh lebih luas dari sekadar pemantauan terhadap jurnalis keuangan semata.

Dampak Politik dan Investigasi Lanjutan

Temuan ini memicu gelombang protes besar dan memaksa pemerintah sayap kanan tengah Yunani melakukan pembersihan internal secara mendadak. Kepala Dinas Intelijen Nasional (EYP) serta kepala staf perdana menteri terpaksa melepaskan jabatan mereka akibat tekanan publik yang begitu kuat.

Pemerintah Yunani sendiri secara konsisten membantah keterlibatan langsung dalam penyadapan atau kesengajaan memantau warga negaranya. Meski sempat menghadapi mosi tidak percaya di parlemen pada tahun 2023, pemerintahan saat ini berhasil bertahan dari gempuran politik pihak oposisi.

Pengadilan kini telah mengembalikan berkas kasus kepada jaksa penuntut untuk melakukan penyelidikan lebih mendalam atas potensi kejahatan lainnya. Fokus investigasi selanjutnya akan menyasar pelanggaran yang lebih serius, termasuk dugaan spionase yang dapat mengancam keamanan nasional.

Thanasis Koukakis menyatakan rasa puasnya atas putusan pengadilan yang dianggap sebagai kemenangan bagi kebebasan pers dan privasi individu. Baginya, vonis ini menjadi peringatan keras bagi perusahaan teknologi agar tidak menyalahgunakan keahlian mereka untuk merusak tatanan demokrasi.