AS Siaga Malapetaka, 150 Juta Warga Terancam Badai Musim Dingin Amerika Serikat
Uptodai.com - Amerika Serikat kini tengah bersiaga penuh menghadapi potensi malapetaka cuaca yang mengancam hampir setengah populasi negara tersebut. Badai Musim Dingin Amerika Serikat diperkirakan membawa kombinasi berbahaya antara salju lebat, hujan beku, dan angin kencang yang menyapu wilayah dari Dataran Tengah hingga ke Pantai Timur.
Pusat Prediksi Cuaca NWS memperkirakan sekitar 150 juta warga Amerika berada di bawah berbagai peringatan cuaca, mencerminkan skala ancaman yang masif. Kondisi ini tidak hanya mengganggu transportasi, tetapi juga meningkatkan risiko serius terhadap infrastruktur penting seperti jaringan listrik dan kesehatan masyarakat.
Skala Ancaman dan Prediksi Salju Lebat
Badai ini membawa ancaman yang bervariasi tergantung wilayah geografis. Ahli meteorologi Brian Hurley dari Pusat Prediksi Cuaca NWS menyatakan bahwa hampir setengah dari seluruh penduduk Amerika kini harus waspada terhadap perkembangan cuaca.
Wilayah Pegunungan Appalachian dan Virginia Barat diprediksi menjadi titik terparah dengan potensi curah salju yang sangat ekstrem. Di sana, salju bisa mencapai hingga 20 inci, atau setara dengan sekitar 50 sentimeter, menciptakan kondisi yang sangat berbahaya bagi pengendara dan aktivitas luar ruangan.
Sementara itu, wilayah timur AS secara umum menghadapi risiko signifikan dari hujan beku dan es tebal. Lapisan es ini berpotensi menyebabkan pohon tumbang dan merusak jaringan listrik, yang pada akhirnya memicu pemadaman listrik skala besar di tengah suhu yang sangat dingin.
Kesiapan Kota Besar Menghadapi Ancaman Badai Salju
Beberapa kota metropolitan besar di pesisir timur juga tidak luput dari hantaman badai ini. New York, Boston, Baltimore, dan Washington, D.C. diperkirakan akan menerima salju basah dengan ketebalan antara 10 hingga 25 sentimeter, mulai Sabtu waktu setempat.
Di Washington, D.C., suhu diperkirakan akan anjlok hingga di bawah minus 5,5 derajat Celsius. Kondisi yang lebih ekstrem terjadi di Boston, di mana suhu terendah bahkan bisa menyentuh minus 14 derajat Celsius, sebuah angka yang menuntut kewaspadaan ekstra dari pemerintah daerah dan warganya.
Pemerintah daerah segera mengambil langkah antisipasi untuk melindungi warganya. Misalnya, Negara Bagian New York diprediksi akan mengaktifkan “Kode Biru” selama badai berlangsung. Kode ini mewajibkan layanan sosial memperpanjang jam operasional tempat penampungan dan memastikan para tunawisma memiliki akses aman dari suhu yang mematikan.
Di Chicago, suhu sangat dingin diperkirakan mencapai minus 2 derajat Fahrenheit, disertai angin kencang yang memperparah rasa dingin. Meskipun demikian, beberapa pelaku usaha kecil di Boston, seperti pemilik truk makanan waffle Belgia Zinneken’s, Anh-Phi Tran, memilih untuk tetap beroperasi dengan persiapan pemanas ruangan yang memadai, menunjukkan ketahanan lokal menghadapi cuaca ekstrem.
Dampak Ganda pada Sektor Pertanian
Selain ancaman terhadap infrastruktur dan keselamatan warga, Ancaman Badai Salju ini juga membawa dampak yang kompleks bagi sektor pertanian Amerika. Di satu sisi, salju dan es tebal justru dapat memberikan manfaat bagi tanaman gandum musim dingin yang sedang berada dalam fase dorman di Oklahoma.
Laporan mingguan U.S. Drought Monitor menunjukkan bahwa 23% wilayah Oklahoma masih mengalami kekeringan parah. Dalam konteks ini, salju lebat berfungsi sebagai lapisan pelindung alami yang vital bagi tanaman tersebut, membantu mempertahankan kelembaban tanah dan melindungi tanaman dari suhu yang terlalu rendah.
Namun, Departemen Pertanian AS (USDA) mengeluarkan peringatan penting terkait risiko yang menyertai badai ini. Penurunan suhu secara drastis setelah badai berlalu dapat sangat membahayakan ladang gandum yang tidak memiliki lapisan salju pelindung yang cukup.
USDA mencatat bahwa ladang gandum tanpa perlindungan salju berisiko tinggi mengalami kerusakan parah akibat cuaca dingin yang membekukan. Selain itu, kondisi es dan salju yang meluas juga diperkirakan menekan kesehatan ternak, terutama di Dataran Selatan dan wilayah utara yang sudah lebih dulu menghadapi suhu ekstrem.