Uptodai.com - Aktivitas warga Ibu Kota pada pagi hari ini terganggu signifikan menyusul adanya genangan air parah di beberapa titik vital. Akibatnya, manajemen PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) mengumumkan bahwa Transjakarta setop operasi banjir di sejumlah rute utama dan layanan pendukung.

Keputusan ini diambil demi menjamin keselamatan penumpang dan petugas, mengingat ketinggian air sudah tidak memungkinkan untuk dilalui bus. Penghentian layanan ini berlaku sementara, terhitung sejak pagi hari ini hingga kondisi genangan air kembali surut dan aman dilintasi.

Dampak meluasnya genangan ini membuat mobilitas di berbagai wilayah Jakarta Timur dan Utara terhambat total. Ribuan pelanggan terpaksa mencari alternatif transportasi lain, terutama mereka yang mengandalkan rute bus pengumpan (feeder) di kawasan permukiman.

Rute Koridor Utama yang Terdampak Banjir Jakarta

Dampak paling terasa terjadi pada jalur bus rapid transit (BRT) utama yang menghubungkan pusat-pusat keramaian. Salah satu koridor yang mengalami penyesuaian besar adalah Koridor 10 yang melayani rute PGC – Tanjung Priok.

Rute ini terpaksa diperpendek dan hanya melayani rute PGC hingga Cempaka Putih. Penyesuaian ini dilakukan karena jalur di wilayah utara Jakarta, khususnya yang menuju Tanjung Priok, mengalami genangan cukup tinggi dan membahayakan operasional.

Selain itu, Rute 10A (Rusun Marunda – Tanjung Priok) juga tidak dapat beroperasi sama sekali. Genangan air yang melanda jalur tersebut membuat mobilitas bus terhenti total, memaksa ribuan pelanggan mencari alternatif transportasi lain.

Beberapa rute non-koridor yang juga dihentikan sementara adalah Rute 3C, 3D, 9F, 12A, 12C, dan 12H. Bahkan, Rute 1A (Balai Kota – Pantai Maju) yang vital menuju kawasan Jakarta Utara juga ikut terpaksa setop layanan.

Daftar Panjang Layanan Mikrotrans yang Terhenti Akibat Genangan

Gangguan layanan tidak hanya menimpa koridor utama, namun juga merambah ke layanan Mikrotrans yang berfungsi sebagai pengumpan (feeder) di lingkungan permukiman. Tercatat ada puluhan rute Mikrotrans yang sementara waktu tidak dapat melayani pelanggan.

Penghentian layanan Mikrotrans ini disebabkan oleh genangan air di jalan-jalan kecil yang sulit dihindari. Kondisi ini secara signifikan memutus akses transportasi bagi warga yang tinggal jauh dari jalur koridor utama.

Beberapa rute Mikrotrans yang terpaksa dihentikan meliputi JAK 01, JAK 05, JAK 15, JAK 24, JAK 29, JAK 58, JAK 61, JAK 76, JAK 77, JAK 87, JAK 88, JAK 89, dan JAK 90. Daftar panjang ini menunjukkan sebaran genangan yang cukup merata di berbagai penjuru Ibu Kota.

Selain itu, JAK 110A, JAK 112, JAK 113, JAK 115, JAK 117, JAK 118, dan JAK 120 juga bernasib sama, membuat mobilitas di kawasan pinggiran kota terhambat total. Secara spesifik, layanan JAK 37 (Cililitan – Condet via Kayu Manis) mengalami pengalihan rute.

Pengalihan ini dipicu oleh genangan air yang masif di sekitar Jalan Dewi Sartika, sehingga bus harus memutar jauh untuk menghindari titik banjir tersebut. Pihak Transjakarta terus memantau perkembangan di lapangan dan akan segera membuka kembali rute jika kondisi telah memungkinkan.

Peringatan Dini BPBD DKI Menyusul Kenaikan Tinggi Air

Gangguan layanan transportasi publik ini selaras dengan kondisi hidrologi yang semakin mengkhawatirkan di beberapa wilayah. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta telah mengeluarkan peringatan dini kepada masyarakat.

Peringatan ini ditujukan terutama bagi warga yang bermukim di bantaran sungai, menyusul peningkatan signifikan tinggi muka air. Per pukul 09.00 WIB, Pos Cipinang Hulu dilaporkan telah mencapai level Siaga 3, yang berarti status Waspada.

Kenaikan debit air ini mengindikasikan potensi banjir susulan yang lebih besar, terutama di kawasan yang dilalui aliran Sungai Cipinang. BPBD menghimbau agar warga tetap waspada dan siap melakukan evakuasi mandiri jika air terus meninggi.

Pihak Transjakarta menghimbau masyarakat untuk terus memantau informasi terkini melalui saluran resmi mereka sebelum bepergian. Para pengguna jalan juga dianjurkan mencari rute alternatif dan menghindari titik-titik yang disebutkan mengalami genangan parah untuk meminimalisir risiko.