Houthi Tembak Rudal ke Israel, Konflik Timur Tengah Kian Memanas
Uptodai.com - Kelompok Houthi tembak rudal ke Israel sebagai bentuk eskalasi baru di tengah memanasnya hubungan antara Iran dan negara zionis tersebut. Serangan ini menandai keterlibatan langsung pertama kelompok asal Yaman itu sejak ketegangan regional mencapai titik didih dalam beberapa pekan terakhir.
Juru bicara militer Houthi, Brigadir Jenderal Yahya Saree, mengumumkan klaim serangan tersebut melalui saluran televisi satelit Al-Masirah pada Sabtu waktu setempat. Ia menegaskan bahwa operasi militer ini merupakan bentuk dukungan nyata terhadap seluruh front perlawanan yang ada di kawasan Timur Tengah.
Saree menyatakan bahwa serangan rudal ini tidak akan berhenti sampai agresi terhadap pihak-pihak yang mereka bela dihentikan sepenuhnya. Pernyataan tegas ini memberikan sinyal bahwa Houthi siap mengambil peran lebih besar dalam konfrontasi bersenjata yang kini tengah mengguncang stabilitas dunia.
Target Militer Sensitif di Israel Selatan
Yahya Saree menjelaskan bahwa pihaknya telah meluncurkan rentetan rudal balistik yang menyasar berbagai lokasi militer sensitif milik Israel. Fokus serangan kali ini diarahkan ke wilayah selatan, yang merupakan area strategis bagi pertahanan udara dan pusat penelitian mereka.
Laporan dari lapangan menyebutkan bahwa sirene peringatan bahaya udara meraung keras di sekitar wilayah Beer Sheba. Wilayah ini dikenal sangat dekat dengan pusat penelitian nuklir utama Israel yang menjadi objek vital nasional paling dijaga ketat.
Meskipun serangan tersebut terlihat masif, militer Israel mengklaim telah berhasil mencegat rudal-rudal yang datang sebelum menyentuh tanah. Sistem pertahanan udara mereka bekerja ekstra keras menyusul serangan simultan yang juga diluncurkan oleh Iran dan kelompok Hizbullah dari arah utara.
Eskalasi Houthi di Tengah Konflik Global
Keterlibatan Houthi dalam konflik ini sebenarnya sudah diprediksi setelah Saree memberikan sinyal samar pada hari Jumat sebelumnya. Kelompok yang menguasai ibu kota Yaman, Sanaa, sejak 2014 ini kini mulai mengambil peran lebih agresif di luar perbatasan wilayah mereka sendiri.
Sebelumnya, Houthi lebih banyak berfokus pada gangguan di jalur perdagangan internasional melalui kawasan Laut Merah. Mereka tercatat telah menyerang lebih dari 100 kapal dagang menggunakan kombinasi rudal dan drone canggih sejak akhir tahun 2023 hingga awal 2025.
Aksi sabotase di laut tersebut telah mengganggu arus logistik global yang nilainya mencapai triliun dolar AS setiap tahunnya. Dampak ekonomi dari blokade tidak resmi ini memaksa banyak perusahaan pelayaran internasional memutar haluan jauh menjauhi Terusan Suez demi keamanan kru mereka.
Respon Internasional dan Ancaman Perang Terbuka
Serangan rudal ini menambah kerumitan geopolitik di kawasan yang sudah sangat rapuh akibat perang berkepanjangan. Dunia kini menyoroti bagaimana Amerika Serikat dan sekutunya akan merespons tindakan berani dari kelompok Houthi yang semakin terang-terangan ini.
Pada tahun 2024, pemerintahan Donald Trump sempat melancarkan operasi militer terbatas untuk meredam kekuatan tempur kelompok ini. Namun, serangan udara yang berlangsung selama beberapa pekan itu tampaknya belum cukup efektif untuk melumpuhkan kemampuan balistik mereka secara permanen.
Kini, dengan dukungan yang semakin terbuka dari Teheran, Houthi tampaknya siap untuk terlibat dalam skenario perang jangka panjang. Hal ini memicu kekhawatiran serius akan terjadinya perang terbuka yang melibatkan banyak negara di sepanjang Teluk Aden hingga Laut Mediterania.