Uptodai.com - Impor Indonesia dari China mencatatkan lonjakan signifikan pada awal tahun 2026 hingga mendominasi hampir separuh total pasokan barang dari luar negeri. Berdasarkan data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS), nilai perdagangan ini mencerminkan ketergantungan industri domestik terhadap produk manufaktur asal Tiongkok. Tren tersebut sekaligus mengukuhkan posisi Negeri Tirai Bambu sebagai mitra dagang utama Indonesia yang sulit tergoyahkan oleh negara pesaing lainnya.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengungkapkan bahwa nilai impor dari China menyentuh angka US$ 7,89 miliar pada Januari 2026. Angka tersebut setara dengan 43,75 persen dari total keseluruhan impor nasional pada periode yang sama. Jika dibandingkan dengan Januari 2025, terjadi kenaikan pesat sebesar 24,39 persen dari angka sebelumnya yang hanya sebesar US$ 6,34 miliar.

Dominasi Mesin Elektrik dalam Impor Indonesia dari China

Barang-barang yang masuk dari China mayoritas merupakan barang modal dan bahan baku industri yang sangat krusial bagi sektor manufaktur tanah air. Mesin serta perlengkapan elektrik beserta bagiannya menjadi komoditas paling dominan dengan nilai mencapai US$ 1,84 miliar. Selain itu, Indonesia juga banyak mendatangkan mesin dan peralatan mekanis senilai US$ 1,71 miliar untuk mendukung operasional berbagai pabrik di dalam negeri.

Sektor pendukung lain seperti plastik dan barang dari plastik juga memberikan kontribusi besar dengan nilai impor sebesar US$ 438,28 juta. Ateng Hartono menegaskan bahwa lonjakan ini memang dipicu oleh kebutuhan perangkat elektrik yang terus meningkat di pasar domestik. Hal ini menunjukkan dinamika industri teknologi dan pembangunan infrastruktur Indonesia yang sedang melakukan ekspansi besar-besaran di awal tahun.

Lonjakan Impor dari Australia dan Penurunan Posisi Jepang

Selain China, Australia secara mengejutkan merangsek ke posisi kedua sebagai negara asal impor terbesar bagi Indonesia pada awal tahun ini. Nilai impor dari Negeri Kanguru tersebut melonjak drastis hingga 125,92 persen menjadi US$ 1,07 miliar. Padahal, pada Januari tahun sebelumnya, nilai impor dari Australia hanya menyentuh angka US$ 472,6 juta yang menempatkannya di posisi bawah.

Komoditas utama yang diimpor dari Australia meliputi logam mulia dan perhiasan atau permata dengan nilai transaksi mencapai US$ 507,59 juta. Selain itu, Indonesia juga mengimpor serealia sebesar US$ 157,75 juta serta bahan bakar mineral senilai US$ 77,92 juta. Peningkatan ini menandakan adanya pergeseran sumber bahan baku energi dan pangan yang cukup signifikan untuk memenuhi kebutuhan nasional.

Di sisi lain, Jepang harus rela turun ke posisi ketiga dengan nilai impor sebesar US$ 950 juta pada Januari 2026. Angka ini menunjukkan penurunan sebesar 17,89 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai US$ 1,15 miliar. Impor dari Jepang saat ini masih didominasi oleh peralatan mekanis, besi baja, serta kendaraan bermotor beserta suku cadangnya.

Nilai Impor Amerika Serikat Merosot Tajam

Kondisi kontras justru terlihat pada data perdagangan dengan Amerika Serikat yang kini terlempar dari posisi tiga besar mitra impor. Pada Januari 2025, Negeri Paman Sam masih kokoh menempati peringkat ketiga sebagai eksportir terbesar ke Indonesia. Namun, memasuki Januari 2026, nilai impor dari Amerika Serikat merosot hingga 22,48 persen menjadi hanya US$ 703,8 juta.

Penurunan tajam ini membuat Amerika Serikat kini harus puas menempati posisi keempat dalam daftar mitra impor utama Indonesia. Secara akumulatif, gabungan nilai impor dari China, Australia, dan Jepang memberikan kontribusi sebesar 54,92 persen terhadap total impor nasional. Pergeseran peta dagang ini mencerminkan dinamika ekonomi global yang semakin kompetitif, terutama di kawasan Asia Tenggara.

Pemerintah melalui kementerian terkait terus memantau pergerakan arus barang ini untuk menjaga keseimbangan neraca perdagangan internasional. Meski impor barang modal meningkat, penguatan industri substitusi impor tetap menjadi prioritas agar ketergantungan terhadap satu negara tidak terlalu tinggi. Langkah strategis ini sangat penting untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah ketidakpastian geopolitik dunia yang masih membayangi.