Survei Terbaru: Indonesia dan ASEAN Lebih Pilih China Dibanding AS
Uptodai.com - Laporan tahunan bertajuk State of Southeast Asia 2026 mengungkapkan dinamika terbaru mengenai sentimen ASEAN terhadap China dan Amerika Serikat yang kini mulai menunjukkan arah baru. Berdasarkan data yang dirilis pada Selasa (7/4/2026), mayoritas masyarakat di kawasan Asia Tenggara kini cenderung lebih condong ke arah Beijing ketimbang Washington.
Hasil survei tersebut mencatat sebanyak 52% responden secara terbuka memilih China sebagai mitra strategis utama mereka. Sementara itu, Amerika Serikat (AS) harus puas dengan dukungan sebesar 48% dari total responden yang mengikuti jajak pendapat hipotetis tersebut. Angka ini menandai kembalinya dominasi pengaruh Tiongkok setelah sempat tertinggal dalam beberapa tahun terakhir.
Pergeseran Kekuatan di Kawasan Asia Tenggara
Lembaga ISEAS-Yusof Ishak Institute di Singapura yang menyusun laporan ini menyoroti bahwa keseimbangan sentimen di kawasan sebenarnya masih sangat tipis. Meskipun China unggul, selisih persentase yang tidak terlalu lebar menunjukkan bahwa Asia Tenggara tetap menjadi medan persaingan pengaruh yang sengit. Margin tipis ini mencerminkan betapa terbelahnya lanskap strategis di antara negara-negara anggota ASEAN.
Jika menilik ke belakang, Beijing tercatat pernah memimpin tipis pada tahun 2024 dengan perolehan 50,5%. Namun, posisi tersebut sempat direbut kembali oleh Washington pada periode 2025 dengan angka 52,3%. Fluktuasi ini membuktikan bahwa sentimen ASEAN terhadap China dan Amerika Serikat sangat bergantung pada isu-isu global yang sedang berkembang saat itu.
Survei edisi kedelapan ini melibatkan 2.008 responden yang berasal dari 11 negara di Asia Tenggara, termasuk anggota termuda, Timor Leste. Para responden tersebut terdiri dari berbagai latar belakang mulai dari pejabat pemerintah, peneliti, praktisi media, hingga pelaku sektor swasta. Keberagaman profil ini memberikan gambaran yang komprehensif mengenai persepsi publik terhadap dua kekuatan adidaya dunia.
Dominasi China di Indonesia dan Malaysia
Salah satu temuan yang paling mencolok dalam laporan ini adalah tingginya angka dukungan terhadap China di Indonesia. Tercatat sebanyak 80,1% responden asal Indonesia memilih China dibandingkan Amerika Serikat. Angka yang sangat dominan ini kemungkinan besar dipengaruhi oleh masifnya pengaruh ekonomi China di Indonesia melalui berbagai proyek infrastruktur strategis.
Langkah serupa juga terlihat di Malaysia dan Singapura yang masing-masing mencatatkan dukungan untuk China sebesar 68% dan 66,3%. Negara-negara ini tampaknya melihat Beijing sebagai mitra ekonomi yang lebih menjanjikan untuk pertumbuhan jangka panjang mereka. Ketergantungan ekonomi yang mendalam menjadi faktor kunci di balik pergeseran preferensi politik tersebut.
Di sisi lain, Brunei Darussalam, Thailand, dan Timor Leste juga menunjukkan tren yang sama dengan memilih China sebagai prioritas utama. Realitas ini menegaskan bahwa narasi pembangunan ekonomi yang dibawa Beijing cukup efektif dalam memenangkan hati masyarakat di semenanjung Malaya dan sekitarnya. Hal ini sekaligus menjadi tantangan besar bagi diplomasi Amerika Serikat di masa depan.
Negara yang Tetap Setia pada Amerika Serikat
Meskipun China memenangkan suara mayoritas secara regional, beberapa negara ASEAN tetap menunjukkan loyalitas yang kuat terhadap Amerika Serikat. Filipina menjadi pendukung paling vokal bagi Washington dengan angka mencapai 76,8%. Ketegangan di Laut China Selatan disinyalir menjadi alasan utama mengapa Manila tetap membutuhkan payung keamanan dari AS.
Selain Filipina, negara-negara seperti Myanmar, Kamboja, dan Vietnam juga masih menaruh harapan besar pada peran Amerika Serikat di kawasan. Vietnam misalnya, mencatatkan 59,2% dukungan untuk AS sebagai upaya untuk menjaga keseimbangan kekuatan di wilayah perairan mereka. Sementara itu, Laos menjadi satu-satunya negara dengan pembagian suara yang hampir merata antara kedua raksasa tersebut.
Fenomena ini menunjukkan bahwa sentimen ASEAN terhadap China dan Amerika Serikat tidaklah seragam di setiap negara. Ada pertimbangan keamanan nasional yang sering kali berbenturan dengan kepentingan ekonomi jangka pendek. Ketidakpastian geopolitik global memaksa setiap negara anggota ASEAN untuk bermain cantik dalam menjaga netralitas mereka.
Tantangan Netralitas ASEAN di Masa Depan
Laporan ISEAS-Yusof Ishak Institute menekankan bahwa hasil survei ini bukanlah sebuah pergeseran permanen menuju satu kutub saja. Sebaliknya, ini adalah peringatan bagi kedua negara adidaya agar tidak mengabaikan kepentingan lokal di Asia Tenggara. ASEAN tetap berupaya menjaga otonomi strategisnya agar tidak terjebak dalam persaingan yang merugikan stabilitas kawasan.
Ke depannya, masalah kepercayaan akan menjadi isu krusial dalam hubungan diplomatik ini. Amerika Serikat perlu mengevaluasi kembali pendekatan mereka jika ingin merebut kembali pengaruh yang hilang di negara-negara seperti Indonesia. Di sisi lain, China juga harus mampu membuktikan bahwa kehadiran mereka tidak hanya soal ekonomi, tetapi juga menghormati kedaulatan wilayah.
Dengan populasi mencapai 680 juta jiwa, Asia Tenggara akan terus menjadi pusat perhatian dunia. Siapa pun yang mampu menawarkan kerja sama paling menguntungkan dan stabil, dialah yang akan memenangkan hati masyarakat di kawasan ini. Dinamika sentimen ASEAN terhadap China dan Amerika Serikat diprediksi akan terus berubah seiring dengan perkembangan situasi politik global.