Suriah Rebut Kendali Strategis, Pasukan SDF Mundur dari Eufrat
Uptodai.com - Setelah negosiasi yang alot dan pertempuran singkat yang intens, sebuah perjanjian penting akhirnya membuka jalan bagi Pemerintah Suriah untuk kembali memperkuat otoritasnya di wilayah timur. Kesepakatan ini memastikan Suriah rebut kendali strategis atas tiga provinsi vital yang selama ini berada di bawah pengaruh Pasukan Demokratik Suriah (SDF).
Perjanjian gencatan senjata ini tercapai setelah bentrokan sengit memperebutkan pos-pos strategis dan sumber daya energi di sepanjang Sungai Eufrat. Tiga wilayah yang dimaksud adalah al-Hasakah, Deir Az Zor, dan Raqqa, yang dikenal sebagai jantung sumber daya energi dan jalur perbatasan penting Suriah.
Suriah Ambil Alih Ladang Minyak dan Institusi Negara
Presiden Suriah, Ahmed al-Sharaa, mengonfirmasi bahwa kesepakatan ini membuka jalan bagi kembalinya institusi negara secara penuh. Dalam pernyataannya di Damaskus, al-Sharaa menasihati suku-suku Arab lokal untuk tetap tenang dan mendukung pelaksanaan ketentuan perjanjian tersebut.
Media pemerintah Suriah melaporkan bahwa pemerintah pusat kini akan mengambil alih kendali penuh atas perbatasan, ladang minyak, dan fasilitas gas. Pengambilalihan ini mencakup aset energi terbesar di negara itu yang sebelumnya berada di bawah pengawasan SDF.
Lebih lanjut, administrasi SDF terkait tahanan dan kamp-kamp ISIS juga akan diintegrasikan ke dalam struktur negara. Langkah ini menandai konsolidasi kekuasaan Damaskus setelah bertahun-tahun konflik dan perpecahan teritorial.
Penarikan Pasukan SDF dari Wilayah Kunci
Kesepakatan ini secara eksplisit mengatur penarikan Pasukan SDF dari beberapa area kunci. Militer Suriah dilaporkan telah berhasil merebut sejumlah kota dan aset vital, termasuk ladang minyak terbesar, sebelum gencatan senjata diumumkan secara resmi.
Media Kurdi mengabarkan bahwa pimpinan SDF, Mazloum Abdi, dijadwalkan segera mengunjungi Damaskus. Kunjungan ini bertujuan membahas secara rinci implementasi kesepakatan, khususnya mengenai jadwal penarikan pasukan dari Deir Az Zor dan Raqqa.
Penarikan ini sangat krusial karena Deir Az Zor, khususnya, adalah wilayah yang kaya akan sumber daya alam. Kontrol atas ladang minyak di sepanjang Eufrat memberikan keuntungan ekonomi signifikan bagi Pemerintah Suriah yang sedang berjuang di tengah sanksi internasional.
Dukungan Internasional dan Kepentingan Turki
Reaksi positif datang dari komunitas internasional terhadap tercapainya kesepakatan ini. Utusan Khusus Amerika Serikat untuk Suriah, Tom Barrack, menyambut baik gencatan senjata tersebut.
Dalam unggahan di platform X, Barrack menyebut momen ini sebagai “titik balik penting”. Ia menekankan bahwa perjanjian tersebut menunjukkan kesediaan mantan musuh untuk merangkul kemitraan daripada melanjutkan perpecahan.
Dukungan kuat juga disampaikan oleh Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan. Ankara menegaskan dukungan penuhnya kepada Damaskus, menekankan bahwa stabilitas kawasan sangat bergantung pada penghapusan total terorisme di Suriah.
Turki selama ini menentang keras keberadaan SDF karena menganggap kelompok tersebut memiliki kaitan langsung dengan Partai Pekerja Kurdistan (PKK), yang diklasifikasikan sebagai organisasi teroris oleh Ankara. Oleh karena itu, penarikan Pasukan SDF mundur Suriah dari wilayah strategis dianggap sebagai langkah positif bagi kepentingan keamanan regional Turki.