Utang Global Tembus Rp6.125 Kuadriliun, Investor Mulai Jauhi AS
Uptodai.com - Lonjakan utang global 2026 kini telah mencapai angka yang sangat mengkhawatirkan dengan total menembus US$305 triliun atau setara Rp6.125 kuadriliun. Kondisi ini memicu pergeseran besar dalam peta investasi dunia, di mana para investor mulai menunjukkan sikap skeptis terhadap surat utang pemerintah Amerika Serikat (AS).
Laporan terbaru dari Institute of International Finance (IIF) mengungkapkan bahwa minat investor internasional terhadap obligasi pemerintah AS cenderung stagnan sejak awal tahun. Fenomena ini berbanding terbalik dengan meningkatnya daya tarik obligasi dari pemerintah Jepang dan negara-negara di kawasan Eropa. Investor global tampaknya mulai meragukan keberlanjutan beban utang yang dipikul oleh Negeri Paman Sam tersebut.
Direktur Pasar dan Kebijakan Global IIF, Emre Tiftik, menjelaskan bahwa perbedaan lintasan utang antarnegara menjadi faktor utama yang memengaruhi keputusan alokasi modal. Menurutnya, arah kebijakan fiskal Amerika Serikat kini menjadi perhatian paling krusial bagi para pelaku pasar di seluruh dunia. Investor cenderung mencari stabilitas di tengah ketidakpastian ekonomi yang terus membayangi.
Prospek Fiskal Amerika Serikat yang Mengkhawatirkan
Berdasarkan data kebijakan saat ini, rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Amerika Serikat diprediksi akan terus merangkak naik dalam beberapa tahun mendatang. Kantor Anggaran Kongres (CBO) bahkan telah mengeluarkan proyeksi yang menunjukkan pemburukan prospek fiskal jangka panjang bagi negara tersebut. Hal ini memperkuat alasan mengapa banyak pihak mulai mengalihkan portofolio mereka ke pasar yang dianggap lebih aman.
Situasi di Amerika Serikat sangat kontras dengan kondisi di zona euro dan Jepang yang dinilai memiliki jalur rasio utang lebih moderat. Meskipun negara-negara tersebut tetap menjalankan ekspansi fiskal, pasar melihat komitmen mereka dalam menjaga keseimbangan anggaran jauh lebih kredibel. Sentimen positif ini mendorong arus modal masuk ke pasar obligasi Eropa dan Jepang secara signifikan.
Namun, di tengah kelesuan pasar obligasi pemerintah, sektor korporasi Amerika Serikat ternyata masih mampu menunjukkan taringnya. IIF mencatat bahwa penerbitan surat utang yang berkaitan dengan pengembangan teknologi kecerdasan buatan atau Teknologi AI masih tumbuh sangat kuat. Arus modal asing tetap mengalir deras ke perusahaan-perusahaan teknologi besar yang menjadi motor penggerak ekonomi digital saat ini.
Dominasi Utang China dan Tekanan di Negara Berkembang
Laporan Global Debt Monitor tersebut juga mencatat kenaikan utang dunia sebesar US$4,4 triliun atau sekitar Rp76.362 triliun hanya pada kuartal pertama 2026. Angka ini menandai pertumbuhan tercepat sejak pertengahan tahun lalu sekaligus menjadi kenaikan kuartalan kelima secara berturut-turut. Selain Amerika Serikat, China menjadi kontributor utama di balik pembengkakan angka utang global tersebut.
Menariknya, lonjakan utang di Negeri Tirai Bambu bukan berasal dari pemerintah pusat, melainkan dari korporasi non-keuangan, terutama perusahaan milik negara. Pertumbuhan utang korporasi China melampaui penambahan beban fiskal pemerintahnya sendiri. Kondisi ini menciptakan risiko sistemik baru yang perlu diwaspadai oleh para mitra dagang internasional China.
Sementara itu, negara-negara berkembang selain China juga mencatatkan rekor utang baru yang mencapai US$36,8 triliun atau sekitar Rp638.664 triliun. Kenaikan moderat ini sebagian besar didorong oleh pinjaman pemerintah untuk membiayai berbagai proyek infrastruktur dan perlindungan sosial. Meskipun rasio utang global terhadap output ekonomi dunia stabil di angka 305%, ketimpangan antara negara maju dan berkembang semakin nyata.
Beberapa negara tercatat mengalami lonjakan rasio utang paling signifikan, di antaranya Norwegia, Kuwait, China, Bahrain, dan Arab Saudi. IIF memperingatkan bahwa stabilitas ekonomi global akan sangat bergantung pada kemampuan negara-negara besar dalam mengelola beban utang mereka. Tanpa reformasi fiskal yang serius, risiko krisis keuangan global di masa depan tetap terbuka lebar.