Wamen Transmigrasi Dorong Industrialisasi Jagung Kawasan Mutiara
Uptodai.com - Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) memberikan perhatian serius terhadap pengembangan kawasan transmigrasi sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru. Salah satu fokus utama adalah Kawasan Transmigrasi Mutiara (Muna Timur Raya) di Sulawesi Tenggara.
Wakil Menteri Transmigrasi menegaskan komitmen penuh pemerintah pusat untuk mendorong Industrialisasi Jagung Kawasan Mutiara, memanfaatkan potensi lahan yang luas dan status lahan yang sudah bersih dari sengketa. Dukungan ini diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat transmigran secara signifikan.
Infrastruktur Dasar Mendukung Industrialisasi Jagung Kawasan Mutiara
Wakil Bupati Muna, La Ode Asrafil, menyampaikan apresiasi mendalam atas intervensi yang telah dilakukan oleh Kementerian Transmigrasi di wilayahnya. Menurutnya, berbagai pembangunan infrastruktur dasar telah rampung dan kini dapat dinikmati langsung oleh masyarakat.
La Ode Asrafil merinci bahwa dukungan tersebut mencakup rehabilitasi lima unit gedung Sekolah Dasar (SD) dan pembangunan empat unit toilet SD. Selain itu, sektor konektivitas juga diperkuat melalui peningkatan jalan poros UPT Pohorua sepanjang 2,5 km dan peningkatan jalan di SP Raimuna sepanjang 1,7 km.
Infrastruktur ini menjadi fondasi penting untuk memuluskan arus distribusi komoditas. Wakil Bupati Muna juga menyampaikan harapan agar dukungan program terus berlanjut pada Tahun Anggaran (TA) 2026, khususnya untuk pembangunan jembatan, talud, jalan penghubung, dan jalan lingkungan yang lebih variatif.
Potensi Besar Komoditas Unggulan dan Tantangan Pakan Ternak
Kawasan Transmigrasi Mutiara yang dibuka sejak tahun 2010 ini memiliki potensi sumber daya alam yang melimpah. Selain jagung, komoditas unggulan lainnya meliputi kelapa, pisang, sapi bali, dan ayam.
Data menunjukkan bahwa produksi jagung di Mutiara sangat menjanjikan. Dengan luas lahan 517 hektare (Ha), kawasan ini mampu menghasilkan 1.262,50 ton jagung. Hasil produksi jagung dari Mutiara bahkan sudah rutin didistribusikan hingga ke Makassar, Sulawesi Selatan, menandakan adanya rantai pasok yang solid.
Namun, pengembangan komoditas peternakan menghadapi tantangan serius. Wamen Transmigrasi mendengar langsung keluhan dari para peternak ayam, baik petelur maupun pedaging, yang kesulitan mengembangkan usaha mereka akibat tingginya harga pakan. Masalah ini menjadi catatan penting yang harus segera dicarikan solusi terintegrasi agar industrialisasi dapat berjalan optimal.
Mutiara: Lokasi Strategis dengan Status Lahan Bersih
Nama kawasan transmigrasi, Mutiara, dinilai sangat tepat dan inspiratif. Nama tersebut konon diambil dari singkatan beberapa kecamatan di Muna Timur Raya, yaitu Maligano, Wakorumba, Pasir Putih, Pasikolaga, dan Batukara.
Secara geografis, Mutiara menampung populasi sekitar 25.375 jiwa dan menempati posisi yang sangat strategis. Kawasan ini merupakan daerah transit penting, menghubungkan Buton Utara, Buton, dan Bau-Bau menuju Kendari, Ibu Kota Sulawesi Tenggara.
Jalur utama yang melintasi kawasan ini dilewati oleh jalan negara, serta disinggahi oleh kapal feri dan bus Damri, memastikan konektivitas yang baik. Keunggulan lain yang ditekankan oleh Wamen Transmigrasi adalah status lahan di Mutiara yang ‘clear and clean’.
Telah tercatat 858 bidang lahan yang sudah bersertifikat, sehingga Wamen memastikan tidak ada masalah sengketa lahan yang dapat menghambat investasi dan pengembangan program. Kepastian hukum atas lahan ini menjadi modal utama untuk menarik investor dalam rangka percepatan industrialisasi, khususnya pada sektor pertanian dan peternakan.