Kenapa Pengendara LCGC Sering Berulah? Simak Analisis Ahlinya
Uptodai.com - Perilaku pengendara LCGC di jalan raya kembali memicu keresahan publik setelah serangkaian insiden berbahaya terjadi di jalur protokol ibu kota. Fenomena ini memicu perdebatan mengenai kompetensi dan etika para pengemudi mobil murah ramah lingkungan tersebut saat membelah kemacetan.
Peristiwa terbaru yang menyita perhatian melibatkan sebuah Toyota Calya hitam di kawasan Jalan Gunung Sahari, Jakarta Pusat, pada Rabu (25/2/2026) sore. Pengemudi mobil tersebut nekat melawan arus di tengah kepadatan lalu lintas yang sangat tinggi hingga memicu amuk massa yang geram.
Mobil tersebut tidak hanya melanggar aturan dasar lalu lintas, tetapi juga menabrak beberapa sepeda motor saat berupaya melarikan diri dari kepungan warga. Massa yang emosi sempat mengejar dan memecahkan kaca kendaraan, namun pengemudi tetap memacu kendaraannya maju-mundur hingga akhirnya menghantam mobil polisi.
Aksi nekat ini menambah panjang daftar hitam perilaku negatif pengguna kendaraan Low Cost Green Car (LCGC) yang kerap dianggap kurang tertib. Banyak pihak mulai mempertanyakan mengapa kelompok pengemudi ini sering kali terlibat dalam konflik jalanan maupun pelanggaran aturan yang fatal.
Analisis Pakar Mengenai Mentalitas Pengemudi LCGC
Direktur Training Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI), Sony Susmana, memberikan pandangan mendalam mengenai fenomena yang meresahkan ini. Menurutnya, banyak pengemudi LCGC yang berulah merupakan pengguna baru kendaraan roda empat yang belum sepenuhnya beradaptasi.
Sony menjelaskan bahwa maraknya penggunaan mobil LCGC sebagai armada taksi online turut melahirkan banyak pengemudi pemula di jalan raya. Sebagian besar dari mereka tumbuh dan besar dengan kebiasaan mengendarai sepeda motor dalam waktu yang cukup lama.
Masalah muncul ketika kebiasaan buruk saat mengendarai motor terbawa sepenuhnya ketika mereka sudah duduk di balik kemudi mobil. Karakteristik motor yang lincah dan sering “nyelip” di antara hambatan jalan menjadi pola pikir yang sulit dihilangkan bagi para pengemudi baru ini.
Jika bertemu hambatan, mereka cenderung mencari celah sempit atau bermanuver mendadak ke kiri dan kanan tanpa mempertimbangkan dimensi mobil yang besar. Sony menegaskan bahwa tindakan “ngeles” yang mungkin dimaklumi pada motor akan menjadi sangat berbahaya dan fatal jika dilakukan dengan mobil.
Pentingnya Mengubah Perilaku dan Etika Berkendara
Sony Susmana mengingatkan bahwa siapa pun pengendaranya dan apa pun jenis kendaraannya, aspek keselamatan tidak boleh dianggap remeh. Pengemudi pemula wajib melakukan transformasi perilaku secara total saat berpindah dari kendaraan roda dua ke roda empat.
Langkah pertama yang harus dilakukan adalah menumbuhkan etika berkendara yang kuat sebelum turun ke jalanan yang padat. Etika ini mencakup rasa hormat kepada pengguna jalan lain serta kesadaran akan risiko yang ditimbulkan oleh kendaraan yang mereka kemudikan.
Selain etika, pemahaman mendalam terhadap aturan lalu lintas menjadi syarat mutlak yang tidak bisa ditawar lagi. Pengemudi tidak boleh hanya sekadar bisa menjalankan mobil, tetapi juga harus memahami fungsi rambu, marka jalan, dan prioritas di persimpangan.
Proses belajar juga tidak boleh berhenti hanya setelah mendapatkan Surat Izin Mengemudi (SIM). Pengemudi harus terus mengasah insting dan pengetahuan mereka mengenai teknik berkendara defensif guna menghindari kecelakaan yang tidak diinginkan.
Panduan Aman Bermanuver bagi Pengemudi Pemula
Untuk menghindari konflik dan kecelakaan, Sony memberikan beberapa pesan teknis yang wajib dijalankan oleh para pengendara LCGC. Salah satu poin krusial adalah tata cara saat hendak berpindah lajur atau melakukan manuver di jalan raya.
Pengemudi wajib mengecek kaca spion secara berkala, menyalakan lampu sein jauh sebelum berbelok, dan hanya bergerak jika ruang di samping benar-benar kosong. Kelalaian dalam memberikan tanda sein sering kali menjadi pemicu utama keributan antar pengguna jalan.
Jika merasa bingung dengan rute atau tujuan, pengemudi disarankan untuk segera menepi ke bahu jalan yang aman. Nyalakan lampu hazard sebagai tanda darurat dan periksa aplikasi navigasi tanpa harus mengganggu arus lalu lintas di jalur utama.
Terakhir, sesuaikan kecepatan kendaraan dengan aturan yang berlaku serta kondisi lingkungan sekitar. Mengemudi dengan kecepatan yang stabil dan sesuai aturan akan memberikan ruang reaksi yang lebih luas jika terjadi situasi darurat secara tiba-tiba.