Lonjakan Harga BBM Dunia di 95 Negara Akibat Konflik Timur Tengah
Uptodai.com - Lonjakan harga BBM dunia kini menjadi ancaman nyata bagi stabilitas ekonomi global setelah ketegangan antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran semakin memanas. Krisis yang melibatkan kekuatan militer besar ini memicu guncangan hebat pada pasar energi internasional dalam waktu singkat. Data terbaru menunjukkan bahwa setidaknya 95 negara telah merasakan dampak langsung berupa kenaikan harga bahan bakar yang mencekik.
Laporan dari Global Petrol Prices pada Kamis (19/3/2026) mengungkapkan bahwa lonjakan harga terjadi secara masif di berbagai belahan dunia. Sejumlah negara bahkan mencatatkan kenaikan harga yang tidak masuk akal hanya dalam hitungan pekan sejak konflik bersenjata meletus. Situasi ini memaksa banyak pemerintah untuk segera merombak kebijakan fiskal mereka guna meredam gejolak di masyarakat.
Dampak Signifikan di Amerika Serikat dan Asia Tenggara
Amerika Serikat menjadi salah satu negara yang paling terdampak oleh ketidakpastian pasar ini. Harga bensin rata-rata di Negeri Paman Sam melonjak dari US$2,94 per galon pada Februari menjadi US$3,58 per galon pada pertengahan Maret. Jika dikonversi dengan kurs Rp16.300 per dolar AS, harga tersebut setara dengan lonjakan dari Rp47.922 menjadi Rp58.354 per galon.
Kenaikan yang jauh lebih ekstrem justru terlihat di kawasan Asia Tenggara dan beberapa negara berkembang lainnya. Kamboja mencatatkan rekor lonjakan tertinggi mencapai 68 persen, di mana harga per liter melesat dari Rp18.093 menjadi Rp21.516. Vietnam menyusul di posisi berikutnya dengan kenaikan harga sekitar 50 persen yang sangat membebani sektor transportasi lokal.
Negara-negara lain seperti Nigeria juga melaporkan kenaikan sebesar 35 persen, sementara Laos mencatat angka 33 persen dan Kanada sebesar 28 persen. Lonjakan harga BBM dunia ini tidak lepas dari terganggunya jalur distribusi energi global yang sangat vital. Para pelaku pasar khawatir pasokan minyak mentah akan terhenti total jika eskalasi militer terus berlanjut tanpa henti.
Ancaman di Selat Hormuz dan Kerentanan Asia
Fokus utama kekhawatiran global saat ini tertuju pada Selat Hormuz yang menjadi jalur nadi pengiriman minyak dunia. Konflik antara AS-Israel dan Iran secara langsung mengancam keamanan kapal-kapal tanker yang melintasi kawasan tersebut setiap harinya. Jika jalur ini terblokade, distribusi energi ke seluruh dunia dipastikan akan lumpuh total dan memicu krisis yang lebih dalam.
Kawasan Asia menjadi wilayah yang paling rentan karena ketergantungan yang sangat tinggi terhadap impor energi dari Timur Tengah. Jepang dan Korea Selatan berada di garis depan risiko ini mengingat porsi impor minyak mereka masing-masing mencapai 95 persen dan 70 persen. Kedua raksasa ekonomi Asia ini telah menetapkan status darurat energi untuk melindungi cadangan strategis nasional mereka.
Di Asia Selatan, dampak ekonomi terasa jauh lebih menyakitkan bagi masyarakat kelas bawah dan menengah. Pemerintah Bangladesh bahkan mengambil langkah ekstrem dengan menutup seluruh universitas untuk menghemat konsumsi energi nasional. Sementara itu, Pakistan menerapkan sistem kerja empat hari seminggu guna menekan penggunaan bahan bakar di sektor perkantoran.
Rantai Pasok Pangan dan Risiko Stagflasi Global
Krisis energi ini tidak hanya berhenti pada sektor transportasi, tetapi juga merambat cepat ke harga pangan global. Biaya energi yang membengkak memengaruhi seluruh rantai pasok, mulai dari proses produksi pupuk hingga distribusi logistik makanan ke pasar. Kondisi ini memicu kekhawatiran akan terjadinya inflasi ganda yang sulit dikendalikan oleh bank sentral mana pun.
Ekonom terkemuka David McWilliams menegaskan bahwa sektor transportasi adalah kunci utama dalam memahami guncangan ekonomi saat ini. Menurutnya, pergerakan barang dan logistik global sangat bergantung pada stabilitas harga energi yang terjangkau. “Napas kehidupan ekonomi global adalah transportasi, dan pada akhirnya transportasi adalah energi ekonomi itu sendiri,” ungkapnya dalam wawancara dengan Al Jazeera.
Dunia kini dibayangi oleh risiko stagflasi, sebuah kondisi di mana inflasi tinggi terjadi bersamaan dengan pertumbuhan ekonomi yang melambat. Sejarah mencatat bahwa krisis minyak besar pada tahun 1973, 1978, dan 2008 selalu diikuti oleh resesi ekonomi global yang berkepanjangan. Jika lonjakan harga BBM dunia ini tidak segera diatasi, masa depan ekonomi internasional berada dalam posisi yang sangat berbahaya.