Ancaman Selat Hormuz Harga Minyak Bisa Meledak $20/Barel
Uptodai.com - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memanas, berpusat pada hubungan antara Amerika Serikat dan Iran. Analis energi global memberikan peringatan serius bahwa potensi eskalasi konflik dapat memicu lonjakan harga komoditas energi yang drastis.
Isu utama yang menjadi perhatian adalah Ancaman Selat Hormuz Harga Minyak. Jalur laut vital ini diyakini Teheran sebagai kartu truf strategis untuk membalas setiap tekanan atau tindakan militer yang diambil oleh Washington.
Selat Hormuz: Jalur Tersibuk yang Menghubungkan Dunia
Selat Hormuz merupakan jalur sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab. Jalur ini bukan sekadar rute pelayaran biasa, melainkan urat nadi perdagangan minyak mentah global.
Data dari perusahaan intelijen pasar Kpler menunjukkan bahwa sekitar 13 juta barel minyak mentah per hari melintasi Selat Hormuz pada tahun 2025. Angka ini setara dengan 31% dari total arus minyak mentah global yang diangkut melalui laut.
Oleh karena itu, gangguan sekecil apa pun di area ini akan memiliki efek domino yang meluas ke seluruh pasar energi dunia. Para ahli memperingatkan, jika rezim Iran merasa terpojok, tindakan ekstrem, termasuk gangguan lalu lintas di selat tersebut, sangat mungkin terjadi.
Risiko Konflik Iran dan Potensi Kenaikan Harga Minyak
Kepala Riset Energi MST Marquee, Saul Kavonic, menekankan bahwa gangguan di Selat Hormuz dapat memicu krisis minyak dan gas global yang parah. Situasi ini bisa terjadi jika Iran bertindak secara putus asa di tengah tekanan politik domestik dan internasional yang meningkat.
Presiden AS Donald Trump sendiri dilaporkan tengah mempertimbangkan berbagai opsi kebijakan terhadap Iran, yang semakin meningkatkan suhu ketegangan di kawasan tersebut.
Sementara itu, Analis Minyak Mentah Senior Kpler, Muyu Xu, menilai dampak konflik yang melibatkan Iran jauh lebih signifikan dibandingkan krisis yang pernah terjadi di Venezuela.
Xu menjelaskan bahwa produksi dan ekspor Iran memiliki volume yang jauh lebih besar. Jika eskalasi ketegangan benar-benar terjadi, pasar global akan merasakan dampak yang sangat kuat, bahkan kilang minyak di China pun harus segera mencari pasokan alternatif.
Prediksi Harga Minyak Jika Selat Hormuz Ditutup
Presiden Rapidan Energy Group, Bob McNally, menambahkan bahwa konflik yang melibatkan Iran membawa risiko yang jauh lebih tinggi. Hal ini disebabkan oleh besarnya volume pasokan yang terancam serta paparan jalur transit yang sangat strategis.
McNally memperkirakan adanya peluang 70% terjadinya serangan selektif yang dipimpin oleh AS terhadap Iran sebagai respons terhadap provokasi. Namun, skenario terburuk adalah jika Selat Hormuz benar-benar ditutup.
Andy Lipow, Presiden Lipow Oil Associates, memproyeksikan lonjakan harga yang mengejutkan jika situasi memburuk hingga kapal tanker tidak dapat melintas atau infrastruktur energi mengalami kerusakan parah.
Lipow menjelaskan, kekhawatiran semata akan penutupan Selat Hormuz saja sudah cukup mendorong harga minyak naik beberapa dolar per barel. Namun, jika jalur vital tersebut benar-benar ditutup total, harga minyak global diperkirakan bisa melonjak tajam, mencapai US$10 hingga US$20 per barel.
Sebagai perbandingan, saat ini harga minyak acuan global Brent berada di kisaran US$63 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) AS bertahan di sekitar US$59 per barel. Lonjakan US$20 per barel akan membawa harga Brent mendekati US$83 per barel, memicu inflasi energi global.
Menganalisis Skenario Terburuk
Meskipun prediksi kenaikan harga sangat mengkhawatirkan, mayoritas analis pasar masih menilai bahwa skenario penutupan total Selat Hormuz memiliki peluang yang relatif kecil. Iran, pada dasarnya, juga memiliki kepentingan untuk menjaga jalur tersebut tetap terbuka.
Xu menyebutkan bahwa Iran kemungkinan besar enggan mengambil langkah ekstrem untuk menutup selat tersebut. Tindakan tersebut dapat merugikan kepentingan ekonomi Iran sendiri dan memicu respons militer internasional yang tidak dapat mereka hadapi.
Oleh karena itu, pasar energi saat ini berada dalam kondisi siaga tinggi, memantau setiap perkembangan kebijakan AS terhadap Iran. Investor dan pelaku pasar global harus bersiap menghadapi volatilitas harga yang ekstrem selama ketegangan geopolitik di salah satu jalur pelayaran terpenting di dunia ini belum mereda.